Sabtu, 25 Desember 2021

Perjalanan dari Madinah Ke Makkah untuk Ber-ihram (25)

 





Dua hari sudah kami berada di Madinah.  Bahagia luar biasa bisa beribadah wajib dan sunah dengan lancar. Yang utama saya dan suami dan rombongan sehat. Kami terus berusaha menjaga kesehatan agar kami bisa beribadah dengan lancar dan sehat. Kini saatnya kami harus meneruskan perjalanan ke Makkah untuk melaksanan Umroh,

Malamnya saya sudah mulai menata segalanya dengan baik. Yang pertama menata koper terlebih dahulu. Semua barang mulai pakaian sudah saya masukkan koper.  Tinggal yang keperluan pagi, misalnya keperluan mandi dan make up belum saya masukkan. Sedangkan oleh-oleh juga sudah saya jadkan satu dalam tas khusus yang saya persiapkan dari rumah. Sedangkan yang tidak saya masukkan adalah yang akan dipakai untuk umroh besok pagi yaitu gamis putih, sepatu putih serta selempang dan tas kecil serta kartu identitas. Tak lupa saya potong kuku terlebih dahulu karena saat niat umroh dlakukan kita tidak boleh potong kuku, potong rambut yang ada di badan.

Pukul 09.00 waktu Saudi koper hitam yang sudah bertuliskan nama saya letakkan di depan pintu hotel bersama koper teman satu kamar. Akan ada petugas yang membawa terlebih dahulu. Kami pun bersiap-siap sholat Jama’ qoshor Dhuhur dan Ashar.  Bersama-sama kami menuju ke Masjid Nabawi untuk terakhir sebelum melakukan perjalanan ke Makkah.  Kami shalat di halaman Masjid Nabawi. Kami pun diingatkan beberapa hal yang harus dilakukan saat niat umroh dilakukan.

Jemaah pria diwajibkan sudah Ihram yaitu sudah memakai kain Ihram saat keluar hotel. Pakaian ini sudah diberi oleh biro bersama koper waktu akan berangkat. Warnanya putih adem seperti handuk besar. Jemaah pria dilarang memakai kaos atau pakaian dalam. Dulu waktu manasik sudah diajarkan cara memakainya. Jemaah pria dilarang memakai kaos kaki yang menutup mata kaki, penutup kepala dan sejenisnya.

Sedangkan untuk kaum wanita, saat akan keluar hotel, Jemaah wanita diwajibkan mengenakan busana yang menutup aurat. Tak boleh memakai sarung tangan yang menutupi telapak tangan. Tak boleh pula menutupi bagian wajah. Jadi, Jemaah wanita dilarang menggunakan cadar.

Ada pula yang dperhatikan untuk Jemaah pria atau wanita saat sudah ber-ihram. pertaman, jemaah dilarang menggunakan mewangian atau parfum atau minyak rambut. Kecuali sebelumnya boleh. Kedua, Jemaah dilarang mencabut bulu atau memotong kuku. Ketiga, dilarang mengganggu serta memburu bintang. Keempat, dilarang merusak, mengukir, menyayat atau memotong pepohonan apalagi mencabut tanaman. Kelima, Jemaah dilarang melamar, menikah, dan bersaksi atas pernikahan sesorang pada saat ber-ihram. Keenam, Jemaah dilarang bercumbu, bermesraan hingga melakukan hubungan suami –istri. Kami pun diharapkan menjaga tutur kata dan menghindari kata-kata kotor, cacian hingga bertemgkar dengan Jemaah atau orang lain.

Itulah yang disampaikan saat manasik dulu. Peraturan tersebut wajib dipatuhi agar niat utama umroh kita berjalan dengan baik dan juga mabrur. Ihram termasuk rukun umroh atau haji yang harus dikerjakan. Jika melanggar, Jemaah bisa dikenakan denda dengan menyembelih seekor kambing. Ada juga yang harus membayar fidyah, bersedekah kepada enam orang miskin masing-masing 1,5 kilogram berupa makanan pokok atau menjalankan puasa selama tiga hari. Semua bergantung pada pelanggaran yang dilakukan oleh Jemaah.

Sedangkan yang sunnah kita lakukan sebelum ihram adalah mandi, memakai wangi-wangian pada tubuh, memotong kuku dan merapikan jenggot, rambut ketiak dan rambut kemaluan.

Ihram adalah adalah niat masuk mengerjakan umroh atau haji dengan menghindari hal-hal yang dilarang tadi. Ihram ditandai berpakaian ihram dan mengambil migat di lokasi tertentu.

Sepulang dari salat berjamaah kami pulang hotel lalu makan siang. Selanjutkan persiapan ber-ihram. Segera saya dan teman masuk kamar lalu mempersiapakan diri.  saya pun cepat-cepat mandi dan melaksanakan sunnah yang telah disampaikan tadi. Baju putih dan kerudung putih sudah melekat di tubuh. Selempang kuning dan tas hitam yang dicangklongkan sudah siap. Kami pun turun ke bawah. Dua bus sudah siap di depan hotel.

Tampak suami sudah memakai pakaian ihram lengkap. Sejenak saya dekati sebelum naik bus.

“Bagaimana Pak, tadi lancar memakai kain ihramnya?” tanyaku datar.

“Alhamdulilah, tadi saling bantu karena tidak sekali pakai langsung jadi.”

“Alhmdulillah,” ucapku gembira. Memang benar kala dulu pas manasik, memakai kain ihram yang lumayan panjang butuh belajar. Hanya dua kain itu yang melakat tanpa ada pakain dalam. Beda dengan Jemaah wanita masih boleh memakai pakaian dalam dan tidak ribet karena memakai gamis putih dan kerudung putih tanpa memakai kaus tangan. Jadi telapak tangan tidak tertutup. Alhamdulillah Jemaah rombongan kami tak ada masalah.

Makna memakai pakaian ihram dengan dua helai kain ihram bagi laki-laki adalah menggambarkan bahwa kita melepas pakaian sehari-hari, semua atribut yang digunakan dan bersrah diri. Ihram menjunjukkan bahwa kita ada kesamaam dan kesetaraan di hadapan Allah.

Tepat pukul 14.00 jemaah menaiki bus yang telah disediakan biro. Jemaah pria dan wanita tidak boleh berdekatan. Saya pun duduk dengan Jemaah wanita sedang suami juga berada di kursi lain bersama Jemaah pria.  Sesaat kemudian kami sampai Bir Ali (Dzul Zulhulaifah) untuk mengambil miqat dengan salat sunnah  dua rakaat. Niatkan dalam hati untuk ber-ihram. Bir Ali menjadi tempat miqat bagi penduduk Madinah dan yang melewatinya. Jemaah haji asal Indonesia biasanya miqat di Masjid Zulhulaifah (Bir Ali) yang berlokasi 9 kilometer dari Madinah.

Tempat miqat ini jaraknya 450 kilometer dari Mekkah. Miqat secara harfiah adalah batas. Tempat miqat umroh artinya titik awal atau garis batas untuk memulai ibadah umroh atau haji dan kapan mulai melafadzkan niat juga melintasi batas antara Tanah Suci dengan tempat lainnya. Miqat yang dimulai dengan memakai pakaian ihram ini harus dilakukan sebelum melintasi batas yang dimaksud tersebut. Miqat merupakan tempat atau waktu yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai pintu masuk untuk memulai haji atau umrah. Setelah mengambil miqat, jemaah menuju Baitullah dan mulai berlaku larangan saat berpakaian ihram.

Saat di Bir Ali tak lupa kami sejenak berfoto bersama. Selanjutkan kami naik bus dengan semuanya sudah berniat untuk umroh. Sejak saat itulah kami membaca talbiyah tiada henti dengan dipandu oleh Ustad Anwar.

Labbaik Allahumma labaik

labbaika laa syariika laka labaik

innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syariika laka labbaik

Labbaik Allahumma labaik

labbaika laa syariika laka labaik

innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syariika laka labbaik

Aku penuhi panggilanMu ya Allah, aku penuhi panggilanMu ya Allah dan tiada sekutu bagiMu. Seseungguhnya segala puji, nikmat,  serta kekuasaan hanya bagi-Mu tanpa sekutu apa pun bagi-Mu

Bibir terus melafalkan talbiyah dengan hati bergetar. Rasanya hati benar-benr terharu. Kami semua menirukan pembimbing dengan suara merdu. Suara bergema memenuhi rongga hati kami sambil menikmati perjalanan menuju Mekkah.

“Mudahkanlah Ya Allah,” gumamku sambil terus mengucap talbiyah.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar