Rabu, 22 Desember 2021

Aku, Ibuku dan Anak-anakku


 

            Hari masih pagi ketika anak-anak dan cucu  mengucapkan hari Ibu lewat WA atau VC. Hati rasanya nano-nano. Haru dan bangga dan bahagia karena di usia senja ini anak-anak makin sayang dengan Ibunya.  Anak-anak kini telah dewasa. Alhamdulilah di usia yang hampir pensiun, ketiga anak yang semuanya cowok sudah selesai bersekolah dan semuanya telah bekerja. Dan yang lebih membahagiakan seorang ibu adalah semuanya telah menemukan tambatan hati. Kini mereka sudah mandiri membangun rumah tangga. Rasa bangga benar-benar terukir di hati orang tua. Ketiga anak yang manut tak neko-neko seperti kebanyakan anak zaman now yang terpengaruh dengan hal-hal negatif.

            Memori saat awal menjadi ibu kembali hadir saat hari Ibu kali ini. Ya, kenangan 33 tahun lalu. Bagaimana ya kisahnya? Yuk ikuti ceritanya ya

            Tanggal 20 Desember kami menikah, 27 Desember anak pertama lahir. Lho kok bisa? bisa dong. Maksudnya setahun kemudian setelah pernikahan. 20 Desember 1987 menikah, setahun kemudian 27 Desember 1988 lahirlah bayi mungil di dunia. Menjadi kebahagiaan tersendiri anak pertama lahir dengan bobot 32 kg dengan panjang 50 Cm.

            Masih ingat saat akan melahirkan. Waktu itu kami menempati rumah kontrakan di dekat sekolah. Rumah dinding berpapan ini bagi kami sudah bagus dengan biaya kontrak waktu itu 100 ribu rupiah satu tahun. Saat hamil saya selalu memeriksakan kandungan ke Ambarawa. Mengandung anak pertama itu benar-benar masih ada rasa takut ini itu. Makanya saya pilih bu Bidan Ambarawa yang menurut teman-teman sekantor bagus. Ikutlah saran teman-teman. Setiap bulan saya diantar suami periksa.

 

            Jelang HPL perut tak karuan. Rasa mules terasa. Perut rasanya kencang. Kemudian saya ke kamar mandi. Ada plek merah di celana. Saya bersama suami langsung menuju ke Ambarawa. Kebetulan berbagai keperluan melahirkan sudah jauh-jauh hari dibeli. Sudah saya masukkan dalam tas. Untuk keperluan ini sebulan sebelumnya saya selalu bertanya kepada teman apa saja yang dibeli. Sebuah daftar dengan aneka keperluan saya tulis rapi di buku.

 

Sampai di Bu Bidan Yur, saya diperiksa. ternyata masih jauh dari perkiraan lahiran. Entah kenapa waktu itu kami memutuskan pulang. Bu Bidan juga menyetujuijika saya pulang. Rasa sakit juga sudah berkurang.

 

Sampai di rumah taka da rasa sakit lagi. Namun, tengah malam rasa mulas kembali ada. Waktu itu pukul 02.00. Jelas tidak mungkin kami ke Ambarawa. Saat itu entah pikiran hanya ingin melahirkan di Ambarawa, padahal di Sumowono banyak bidan. Mungkin kemantapan yang utama. Malam hingga pagi saya benar-benar kesakitan. Rasa ditahan sampai pagi. Pagi itu 27 Desember saya dan suami berangkat Bu Bidan Ambarawa dengan naik angkot. Kami bawa kembali tas yang sudah berisi berbagai perlengkapan.

 

Sampai di rumah bersalin saya diperiksa lalu masuk ke ruangan. Rasa sakit makin terasa. Tiap detik makin kencang. Saya merintih dan bolak balikkan badan. Berbagai posisi badan rasanya tak berubah rasa sakitnya. Aku pegangi suami sambil menahan rasa sakit. Keringat bercucuran.

            “Sakit Mas, “ ucapku menahan rasa sakit

            Dipati roso saja ya, Mas?” maksudnya seperti kalau mau operasi. Hal ini jelas tak mungkin.

            “Ya, dipacu saja ya Mas, rasanya tak kuat. Sakitnya kok seperti ini ya?” Suami mengelus-elus tanganku, berusaha membantu mengalihkan perhatian agar rasa sakit hilang. Akhirnya saya disuntik pacu. Seharusnya suntik pacu untuk ibu yang ada masalah dengan kelahiran. Benar juga kata teman bahwa suntik pacu lebih sakit rasanya. Saya benar-benar kesakitan saat itu. Berulang kali suami menghibur dan berdoa. Saat itu saya sudah ditemani Ibuku. Seorang wanita yang setia menunggu anaknya akan melahirkan. Segala keperluan dipersiapan karena jelang melahirkan ibu sudah di rumah kontrakan kami.

            Tepat pukul 14.00 lahirlah bayi laki-laki. Rasa syukur tak terhingga pada Allah. Kemudian bayi dibawa ke ruang khusus. Tidak seperti saat ini langsung diperlihatkan. Badan saya dibersihan oleh Bu Bidan. Saya pun diberi tambahan darah karena saat itu mengeluarkan darah amat banyak.  Selang sehari, badan saya sudah sehat dan diperbolehkan pulang.

            Sampai di rumah segala keperluan bayi dipersiapkan oleh Ibuku. Mulai dicarikan tukang pijat setelah beberap hari, dibuatkan jamu untuk diminum. Kemudian ramuan yang dioleskan perut sampai obat mata herbal namanya pupuh, yang diteteskan pada mata. Setiap pagi, Ibu selalu meracik jamu untuk diminum. Sehari-hari dedek kecil yang merawat Ibu dibantu suami. Cucu pertama benar-benar disayang neneknya. Sampai puput atau istilah lainnya tali pusar sudah lepas Ibu masih bersama kami. Setelah selamatan lahiran baru Ibu pulang. Bersyukur banget Ibu bersama kami.

            Selang tiga tahun persis anak kedua lahir. Kemudian anak ketiga lahir pada saat anak kedua baru berusia satu setengah tahun. Orang jawa menamai sundulan. Alhamdulillah ketiganya tumbuh menjadi anak yang baik. Syukurlah bisa membanggakan orang tua.

 

           

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar