Sabtu, 11 Desember 2021

9 Jam dalam Pesawat (11)



Tak terbayangkan sebelumnya jika saya dan suami bisa berada dalam pesawat selama 9 jam. Padahal sebelumnya sekali pun belum pernah.

Sebuah perjalanan panjang yang harus dilalui. Hati hanya pasrah saja pada Allah.  Agar tidak terlihat pada orang lain kalau saya jadul,  sesekali mata saya mengitari pemandangan baru dalam pesawat.  Maklum belum pernah berada dalam pesawat sekali pun pasti ada rasa heran dan penasaran. Tentu saja ada rasa sedikit was-was jika tidak nantinya tidak bisa melakukan. Ya,  hanya mengalir saja, insyaallah ada jalan. Yang agak risau jika nanti ada keinginan untuk buang air kecil. Tak mungkin selama sembilan jam bisa meredam untuk tidak buang air kecil. 

Setelah saya duduk di kursi empuk, segera tas saya letakkan di bawah kursi agar lebih leluasa bergerak. Sedangkan sleyer masih melekat di tubuh. Selimut merah yang disediakan garuda saya lepas plastiknya. 

Tepat di depan kursi ada televisi tetapi tampaknya gak nyala. Di bawah televisi ada lempengan. Saya yakin ini meja kecil untuk sarana makan. Ada juga kantong, wadah yang berisi majalah tentang penerbangan. 

Segera saya dan suami bersama-sama memakai sabuk pengaman. Berusaha menata duduk agar nyaman. Tampak para Jemaah masih berlalu lalang mencari tempat duduk. Saya duduk pas persis dengan jendela kaca pesawat. Aku memilih di kiri agar bisa menikmati pemandangan di bawah nantinya. 

Tampak pesawat-pesawat lain masih parkir di lapangan yang luas. Lalu lalang petugas bandara tampak dari jendela kaca. Ada yang mengusung barang, ada yang jalan. 

Tak lupa saya abadikan pemandangan bawah sebelum HP dimatikan.  Selama dalam pesawat HP harus  dimatikan dengan mode pesawat, artinya HP off selama perjalanan. 

Televisi agar besar yang berada di depan masih menayangkan tayangan doa dan sambutan dari garuda tentang tata cara dalam pesawat. Beberapa saat semua Jemaah sudah duduk manis di kursi masing-masing. Saya hanya diam sambil berdzikir tiada henti. Tak lama kemudian dua peragawati cantik berdiri di depan yang bisa dilihat kami. 

Dua wanita yang berseragam merah itu mulai menyampaikan panduan dengan memperagakan untuk keamanan penumpang. Mulai cara memakai sabuk pengaman, menggunakan alat jika terjadi sesuatu dan lainnya. Mereka berbicara dengan bahasa Indonesia dengan lancar. 

Saya menyimak dengan baik. Tak lama kemudian sebuah pengeras suara menginfokan bahwa pesawat garuda akan take off.  Doa terus bergulir di bibir. Kemudian saya  mengingat-ingat yang disampaikan Ustad Anwar bahwa kita jangan panik saat ada gerakan keras saat pesawat akan take of. Kami disarankan untuk berdoa, ucapkan kata subhanallah.

Benar juga sesaat kemudian pesawat bergerak dan terasa banget ada getaran di dalam pesawat. Ada desiran sesaat. Saya pun berusaha tidak panik. Perlahan pesawat mulai terbang pelan-pelan. Bisa dirasakan pesawat meninggalkan Bandara Adi sumarno. Naik dan naik terus secara perlahan pesawat Garuda. Lama kelamaan nyaman dan  tak terasa sama sekali, tidak seperti naik bus atau kereta.  Tak ada getaran sama sekali. Inilah kali pertama saya dan suami naik pesawat. 

Tampak dari ketinggian rumah-rumah penduduk seperti rumah liliput makin lam makin kecil. Pegunungan amat jelas dengan tumbuhan hijau. Lalu makin lama hilang berganti dengan awan putih yang menggumpal. Berarti kami sudah dalam ketinggian entak kilometer berapa karena hanya awan yang bergerak. Tak terasa saya bisa dalam ketinggian. 

Sesaat kemudian dua orang peragawati mendorong meja dorong  kecil yang berisi aneka minuman dan makan. 

"Mau minum apa Bapak Ibu?"

tawar Mbak Cantik dengan ramah. Wajahnya yang imut tersenyum pada kami. Saya dan suami melihat deretan minuman dalam kemasan.

"Jus melon saja," jawabku

" Bapak pilih apa?" lanjutku

"Sama saja," ucap suami.

Dua kotak minuman telah kami terima. Selanjutnya Mbak yang bersanggul rapi itu menawarkan nasi. Kami sepakat memilih nasi telur. Dua kotak nasi telah kami terima. 

Makanan dan minuman kini telah kami letakkan di meja yang sudah saya tarik di depan kami. Selain makanan ada sendok garpu yang dibungkus dengan tisu. Segera saya santap menu perdana dalam pesawat. Sebuah pelayanan yang terbaik.

Saya minum minuman berorama melon itu. Lalu makanan yang ada telur dadar serta sambal saya makan dengan lahapnya. Kami sepakat tak boleh mengatakan tidak enak walaupun mungkin menu yang kurang pas di lidah orang Jawa. 

Usai makan saya  buka majalah penerbangan. Banyak informasi tentang penerbangan dalam buku. Lainnya majalah dengan berbagai artikel keindahan kota Indonesia. Tampak suami tertidur pulas. Saya tutup majalah lalu berusaha tidur. Tak lupa saya berdzikir yang menyebut  namanya. 

#gbmkabupatensemarang

#tantangan30hari menulisdesemberceriagbm



Tidak ada komentar:

Posting Komentar