Minggu, 04 Mei 2014

CERITA PENDEK: KADO ISTIMEWA UNTUK SALIM

               Suara Bu Dian yang lantang  tak dapat meredam riuhnya siswa-siswa  di kelas IX A yang sedang mengikuti pelajaran bahasa Indonesia siang itu.  Semua siswa tertawa serempak bagai koor. Semua mata memandang satu arah, Salim. Siswa  yang duduk paling belakang  itu tidur terpekur dengan kepela tertelungkup di meja. Dengkurnya masih tersisa kala Bu Dian mendekat.
            “Salim…Salim.” tegur Bu Dian sambil mengoyang-goyangkan tubuh Salim yang kerempeng berbalut baju pramuka yang  sudah lusuh.
Salim menggeliat  seperti ular yang akan keluar dari persembunyiannya. Badannya lemas, perlahan berusaha mengangkat kepalanya yang plontos lalu tangannya diturunkan.  Wajahnya pias setelah tahu semua temannya mentertawakannya.
            “Maaf Bu  Guru,” kata Salim polos sambil mengelap liur di sudut bibir dengan tangan kirinya. Matanya yang cekung tersimpan kantuk yang berat. Salim merutuki diri sendiri, mengapa hal ini terulang lagi. Rasa lelahnya memang membuat dirinya mudah terkantuk di siang yang panas dengan semilir angin yang berembus lewat jendela kelas.
“Salim…Salim apa sebenarnya kaulakukan di rumah, setiap hari kok kamu ngantuk melulu. Selain itu ibu juga lihat kamu sering terlambat., ingat Salim sebentar lagi ujian” ucap  Bu guru bahasa Indonesia itu  tegas. 
            Salim mengangguk takzim, tertunduk lesu dengan menyimpan sejuta kata yang siap meletup untuk disampaikan pada gurunya itu. Ingin mengungkapkan segala yang menjerat hatinya. Namun, tiba-tiba tenggorokannya tercekat, bibirnya terkatup rapat. Ia tak bisa menyingkap isi hatinya. Ia tak ingin semua tahu akan kehidupan pribadinya. Tak ingin ia dianggap cengeng, tak mau minta belas kasihan. Lebih baik ia diam membisu dan bertekad untuk memperbaiki kesalahannya.
            Bel berdentang mesra, semua siswa berhamburan keluar untuk melepas lelah setelah seharian dijejali soal-soal yang menguras otaknya. Sebagian besar siswa menyerbu kantin. Hanya beberapa anak saja yang pergi ke perpustakaan. Terkecuali Salim, biasanya ia pergi ke mushola sekolah untuk salat dhuha. Namun, kali ini tidak. Ia tetap berada di kelas.
            “ Salim…dengarkan ya, Ibu sangat kecewa dengan perkembanganmu sebulan ini. Coba lihat, nilaimu tryout menurun drastis, “ kata wali kelasnya mendesah sambil membuka buku nilai untuk ditunjukkan pada Salim.
            “Maafkan Salim Bu.” Salim menarik napas perlahan
“Hem… sebentar lagi ujian. Kau ingin lulus kan? katanya kamu ingin jadi juara kok kamu nglokro seperti ini.  Salim… Ibu ingin kamu segera mengubah kesalahan yang selama ini kaulakukan!” suara Bu  Dian lembut.
            Salim tertunduk lesu. Hatinya teriris. Ia menyadari semua perbuatannya tak sebaik dulu. Namun, apa dikata ia harus membantu orangtuanya di pasar. Sebenarnya ayahnya sudah berkali-kali menasihati agar tidak usah ikut ke pasar untuk menyapu. Tapi hati kecilnya tak bisa membiarkan ayahnya yang renta untuk menyapu pasar seluas itu. Salim tak ingin ayahnya  kecapaian lantas sakit.
            “Salim, Ayah ingin kau tidak usah lagi membantu menyapu di pasar. Biarlah Ayah sendiri saja. Ayah masih kuat Le.. Ayah ingin kamu ngepenke sekolah saja, nggak usah mikir pekerjaan Ayah. Ayah melakukan pekerjaan seperti ini sudah bertahun- tahun  Le.
            “Tapi Yah…!” Salim membantah.
“Tidak usah tapi-tapi. Ayah ingin kamu nanti tetap melanjutkan sekolah, Ayah ingin kamu pandai, jangan seperti Ayah dan  Emakmuyang tidak pernah kenal sekolah.
            “Salim kok diam?” tanya Bu Dian menyadarkan lamunannya.
“Iya saya mengerti, dan InsyaAllah saya akan mengubahnya,” jawab Salim lirih.
            Walaupun sudah dinasihati Ayah dan Emaknya, Salim tetap membantu ayahnya menyapu pasar. Baginya jika dialihkan orang lain berarti mengurangi penghasilan ayahnya. Apalagi ayahnya kini sering sakit-sakitan. Ia tak tega melihat ayahnya membanting tulang sendiri padahal ia mampu membantunya.
            Selepas subuh seperti biasanya ia bergegas mengayuh sepedanya ke pasar yang hanya berjarak 300 meter dari rumahnya. Ia tidak bilang sama ayahnya jika mendahului. Pasar masih sepi hanya penjaga pasar yang masih tidur di los yang kosong. Segera ia letakkan tas dan seragam sekolahnya. Hari ini ia langsung menuju sekolah tanpa pulang dulu seperti dulu. Lalu mengambil sapu utuk menyapu. Tak peduli pasar sepi, ia melakukan hal ini semata-mata baktinya pada orang tuanya. Ia berharap ayahnya datang, pasar sudah selesai tersapu. Ia tengok jam besar yang berada di dinding atas.
Hem… baru jam enam. Kurang sedikt lagi selesai. Gumamnya. Ia berhenti sebentar tuk menenggak air mineral yang dibawanya dari rumah. Baru saja selasai minum tiba-tiba ada dua lelaki berbadan tambun mendekat. Ia beringsut mundur. Perawakan dan wajah dua orang yang tak dikenal itu menakutkan dengan tatapnya mata penuh tanda tanya. Salim siap lari agar terhindar dengan dua orang  yang kelihatan mencurigakan.
             “Hem… jangan lari cah Bagus, kami tidak akan mengganggumu. Kami hanya ingin bicara baik-baik padamu, “ suara lelaki itu menggelegar.
            “Jangan.. jangan ganggu aku, maaf saya harus menyapu lagi. Salim meronta ingin melepas cengkraman tangan orang yang belum dikenalnya.
“Hem ..dengarkan baik-baik, kami berdua tidak akan menganggumu tapi ingin memberi hadiah padamu, “ kali ini suara kedua lelaki itu berubah drastis menjadi  suara lembut. “Dengarkan ya… nih aku disuruh majikanku untuh kasih uang ini padamu karena kau telah mengembalikan dompet majikanku yang hilang seminggu lalu. Kau kan yang menemukan dompet itu seminggu yang lalu? Nah, terimalah!” beberapa lembar uang ratusan ribu diangsurkan oleh pemuda itu.
 Majikanku  juga berpesan agar mulai hari ini sampai satu minggu ke depan, memberi tugas  temanku ini untuk  menyapu  pasar ini. Dan orang tuamu tetap gajian biasa.” lanjutnya sambil menepuk teman sebelahnya.
            “ Apa?!” mata Salim berkaca-kaca. Dengan gemetar diterimanya uang yang sangat berarti baginya. Ia tak menyangka perbuatan yang sekecil itu berbuah manis bagi keluarganya.  Sebenarnya ia sudah melupakan  dompet yang ia temukan semnggu lalu. Baginya berbuat baik tidak perlu diingat.
Sejak hari itu Salim tak terlambat lagi. Semua guru tersenyum melihat perubahan Salim. Dengan penuh semangat Salim melaksanakan ujian dengan lancar.
Hari kelulusan tiba, Salim dinyatakan lulus dengan peringkat pertama.
Hidup Salim Hidup Salim semua temannya mengangkat tinggi tubuh Salim. Salim pun tertawa gembira karena teman-temannya mengelu-elukannya. Selain itu, ia menerima hadiah dari sekolah. Berkali-kali Salim mengucap syukur alhamdulilah. Impiannya tercapai. Tak lupa ia mencium tangan ayahnya dan semua gurunya. Ayahnya menangis terharu.
            “Salim nanti pulangnya bareng ibu saja ya, ibu pengen main ke rumahmu,” ajak Bu Dian wali kelasnya ramah. Salim tak bisa menolak karena bisa naik mobil gratis sampai di rumah. Berdua dengan ayahnya menuju mobil putih mengkilat di parkiran. Ia agak heran karena  mobil itu yang dipakai dua lelaki yang menemuinya di pasar waktu itu.
“Ayo Salim masuk,” ajak Bu Dian sambil membukakan pintu mobil lalu memperkenalkan suaminya. Begitu masuk mobil,  ia terkesima dengan seseorang yang menyalaminya
            “Lupa ya Salim, ini Bapak yang kau tolong saat dompetku  hilang seminggu lalu.
Bapak? !

              === selesai ====
Ambarawa, 4 Mei 2014. dimuat di majalah MAHARDIKA edisi Mei 2014