Senin, 27 November 2017

KEMERIAHAN PAMERAN LITERASI KABUPATEN SEMARANG


Pengunjung Pameran

Selasa, 14 November 2017 kegiatan pameran literasi mulai dibuka. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas pendidikan Kabupaten Semarang. Selama tiga hari kita bisa mengunjungi pameran literasi di gedung Pemuda Ambarawa. Kegiatan kali kedua ini sebagai wujud menyukseskan Gerakan Literasi Nasional. Dengan harapan budaya membaca dan menulis makin baik. Selain pameran literasi, ada berbagai lomba yang diadakan serentak di tiga tempat. Lomba bedah sastra, membaca cepat dan story telling untuk tingkat SD, SMP dan SMA.
Menjadi kebahagiaan tersendiri ketika saya bisa berperan menjadi yuri dalam lomba bedah sastra untuk SMA. Tepat pukul 07.45 saya sudah sampai di SMA Sudirman Ambarawa, tempat diselenggarakan tiga lomba untuk tingkat SMA. Sekolah yang sejuk, nyaman sehingga membuat para siswa kerasan Pastinya. Masjid bersih dengan ruang ibadah yang lumayan luas. Begitu juga lingkungan tampak asri walau berada di tengah kota.
Bedah sastra pun dimulai pukul 09.00 dengan jumlah peserta 49 siswa SMK dan SMA se- Kab. Semarang Alhamdulillah pelaksanaan lomba dibantu oleh para guru SMA setempat. Kami pun para yuri bisa mempelajari materi soal dan memantapkan lagi materi penilaian. Materi bedah sastra SMK/ SMA adalah membuat teks ulasan atau istilah umum berupa resensi berdasarkan sebuah cerpen. Mengapa cerpen kok tidak buku? Hal ini disebabkan keterbatasan waktu sehingga dipilihlah cerpen. Teks ulasan berisi orentasi, tafsiran, evaluasi serta rangkum.
Tepat pukul 11.00 semua peserta telah menyelesaikan pekerjaan. Kami pun para yuri mulai berjibaku membaca semua ulasan dengan penuh hati-hati. Para yuri dibuat sedikit bingung karena banyaknya teks ulasan yang bagus sesuai ketentuan. Dengan tulisan rajin, berstruktur serta sesuai aturan. Walaupun ada juga yang tidak sesuai juknis. Banyak juga hanya menulis kan unsur intrinsik cerpen. Inilah kejelian kami dalam mengamati satu persatu karya. Saya pun berdecak kagum ketika saya temui teks ulasan yang bagus isinya, tulisan serta sesuai ketentuan.

Stand SMPN 2 Banyubiru

                 Alhamdulillah pukul 13.30 kami bisa tuntas menyelesaikan penjurian dan bisa memilih para juara. Dalam hati saya berpikir bahwa para juara bisa menjadi penulis. Ya..
Semoga saja. Hari telah siang. Setelah makan siang dan salat kami meluncur ke panitia yang berada di lain tempat yaitu di tempat lomba tingkat SMP yaitu di SMP PL. Masih ada waktu kami pun menuju ke gedung Pemuda untuk melihat kemeriahan Pameran literasi yang memang benar-benar heboh deh. Bagaikan lautan manusia. Ruangan penuh sesak para pengunjung. Berbagai suguhan menarik ditampilkan di stand selain pajangan kegiatan literasi juga ada suguhan berupa musik, pertunjukan, juga kuis. Semua itu untuk memeriahkan pameran literasi.
Semoga kegiatan ini benar-benar bisa mengajak semua elemen gemar membaca. Pameran kali ini sungguh berkesan. Apalagi saya bisa bertemu dengan teman-teman yang lama tidak jumpa Ambarawa bergeliat memancarkan kebangkitan dalam dunia literasi. Yuk nonton ya. Masih dua hari lho..

Para Juara Lomba Literas

           Hari kedua, 15 November 2017 pameran literasi kabupaten Semarang ternyata masih dibanjiri pengunjung. Sejumlah siswa dari berbagai sekolah memenuhi stand yang ada. Ruang pun makin sumpek. Saya yang siang itu datang makin terjebak di tengah pameran karena padatnya pengunjung. Apalagi saat salah satu stand menyuguhkan lagu dengan musik serta joget para pengunjung. Hem....riuh suasana siang itu. Belum lagi saat beberapa stand berpromosi dengan berbagai cara. Ide cemerlang juga sehingga acara tidak adem ayem. Ada yang memberi kuis berhadiah. Kuis seputar pelajaran. Sip juga ini. Namun karena ruang sempit sehingga suasana kurang nyaman.
Oh ya..selain dari berbagai sekolah pameran diikuti oleh kelompok TBM, Warung Pasinaon yang aktif membudayakan gerakan literasi di daerah Bergas. Salut Bu Tirta. Semoga suatu saat bisa mengikuti jejak beliau.
Hari makin sore, sebelum saya pulang stand kami dikunjungi untuk dinilai. Seperti tahun lalu bahwa pameran kali ini pun dilombakan. Alhamdulillah kami bisa menjawab pertanyaan beliau. Namun, kami pun belum bisa memberikan bukti kalau kegiatan literasi Sekolah diikuti oleh guru. Sudah saya tunjukkan hasil karya guru. Namun yang diminta adalah hasil dari guru saat kegiatan literasi. Kami pun menjawab kalau guru juga membaca tanpa didokumentasi.


Menjadi kebahagiaan sekaligus kebanggaan saat ada kunjungan dari beliau Ibu Dewi selaku Kepala Dinas Kabupaten Semarang. Alhamdulillah kami bisa bincang-bincang dengan beliau. Bersyukur juga Beliau telah mengapresiasikan karya guru yang amat sederhana. Semoga bermanfaat ya Ibu. Dengan kunjungan Beliau kami pun bersemangat untuk menyukseskan gerakan literasi.
Kamis, 16 November 2017 Pameran Literasi memasuki hari terakhir. Berdasarkan kiriman foto seorang teman, pengujung masih membludak. Tampak anak sekolah berkerumun di stand demi stand. Hal ini membuktikan bahwa animo akan pameran literasi diapresiasi dengan baik. Tepat pukul 12.00 saya sampai di gedung Pemuda, tempat diselenggarakan pameran. Saatnya pengumuman pemenang lomba literasi dan stand dibacakan. Hem...mereka pasti dag dig dug.
Di depan tempat diumumkan sudah berjubel tak sabar menanti hasil. Dan.. pengumuman pun dibacakan oleh panitia dari dinas Pendidikan kab Semarang. Sorak- sorai memenuhi halaman gedung Pemuda. Para pemenang pun siap-siap menerima hadiah dari panitia. Dan akhirnya satu persatu para juara literasi yang terdiri dari lomba bedah karya, membaca cepat, story telling baik tingkat SD, SMP, SMA dan kelompok TBM maju untuk menerima piala dan uang binaan.
Woh....keren, ikut bangga, terharu. Mereka tampak sumringah, menebar senyum. Kegembiraan membalut hati mereka, pasti... Di pundak mereka siap menyukseskan Gerakan Literasi.
Pengumuman pemenang stand pun diumumkan. Walaupun kelompok kami belum juara, saya tetap bangga, ikut acung jempol ketika para juara menerima piala. Mereka memang pantas menjadi juara. Selamat kepada juara 1 dari sub rayon 02, juara 2 dari sub rayon 05 dan juara 3 sub rayon 03. Sukses selalu untukmu para jawara.
Mari tebarkan gerakan literasi. Meminjam slogan kel 03. Sukseskan literasi bukan hanya basa- basi. Selamat juga para juara dari TBM pasinaon. Keren Bu Tirta. Jerih payah dibalas dengan hasil yang gemilang. Sukses selalu tebarkan ilmu untuk generasi penerus bangsa. Sukses selalu untuk TBM lain yang meraup juara.
Acara bongkar- bongkar pun dilanjutkan diiringi gerimis sore. Gelar pameran berakhir, namun gerakan literasi harus berjalan. Seiring dengan bergulirnya waktu. Sampai jumpa tahun depan.  Banyak hal kita petik dari even ini, dengan even ini setiap elemen baik sekolah maupun TBM akan berusaha menyukseskan Gerakan Literasi. Para guru bisa belajar dari pengalaman baik meningkatkan kualitas anak didik agar ke depan bisa memenangkan lomba baik lomba siswa maupun stand. Sedangkan bagi peserta yang sudah memenangkan pasti berusaha lebih baik untuk mempertahankan prestasi yang telah diraih.
Dengan adanya gelar pameran menjadikan peserta stand meningkatkan kualitas stand agar lebih baik.
Selain hal positif yang dapat kita ambil hikmahnya tentu saja ada yang perlu diperhatikan agar ke depan lebih baik
Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk penyelenggaraan ke depan adalah tempat. Menurut pengamatan, tempat terlalu sempit untuk menampung puluhan stand juga pengunjung. Hal ini bisa kita lihat saat para pengunjung yang membludak. Seolah tak bisa menikmati dengan tenang, cermat isi pameran.Selain itu, saat pengunjung berdatangan, terutama anak-anak sekolah dasar. Mereka sulit untuk bergerak. Padahal mereka harus mencatat untuk bahan laporan. Perlu juga dipertimbangkan dengan adanya hiburan di depan stand. Mereka bernyanyi berjoget ria di jalan. Jadi meriah sih even ini, tapi.....Hal ini mengganggu jalannya para siswa. Mungkin untuk stand yang ada seperti ini ditempatkan di pinggir atau tempat khusus.
Namun dibalik kekurangan, pameran literasi ini perlu diapresiasi dengan baik. Semoga tahun depan lebih baik. Aamiin.
Salam literasi
Ambarawa, 28 November 2017
Budiyanti Anggit
Guru SMP N 2 Banyubiru




Senin, 28 Agustus 2017

5 Dampak Positif Pemberian Reward kepada Peminjam Buku Perpustakaan.

       

Foto: Koleksi Pribad
     Menjadi suatu kebanggaan bagi guru ketika mengetahui para siswa berduyun-duyun ke perpustakaan sekolah untuk membaca atau pinjam buku. Hal ini sebagai wujud menyukseskan Gerakan Literasi Sekolah yang telah dicanangkan oleh Bupati Kabupaten Semarang. Harapannya bahwa setiap siswa mampu membaca minimal dua belas buku dan merangkumnya. Nah… pada tahun pelajaran 2016/2017 SMPN 2 Banyubiru memberi reward kepada 6 siswa yang telah membaca buku terbanyak selama setahun. Tak diduga ada yang telah mencapai 30 sampai 35 buku yang telah mereka pinjam dengan menunjukkan kartu perpustaan. Mereka dengan senangnya menerima reward berupa satu pak buku tulis ditambah satu buku fiksi. Harapannya para siswa lebih semangat lagi untuk membaca. Namun, ada juga kartu perpustakaan siswa kosong. Belum sekali pun pernah meminjam buku.
     Bukan hal yang mudah membiasakan para siswa untuk gemar membaca. Bagai menegakkan benang basah. Jadi, Sekolah benar-benar bangga melihat beberapa anak rutin membaca buku perpustaakaan. Oleh karena itu, pemberian reward akan berdampak positif bagi siswa. Apa saja sih dampak pemberian reward bagi siswa

1.        Menambah semangat untuk terus mengunjungi perpustakaan.
      Dengan pemberian hadiah, siswa makin semangat untuk pergi ke perpustakaan. Harapannya tahun depan bisa mendapat predikat sebagai pembaca/ peminjam terbanyak lagi. Selain itu ilmunya makin bertambah,

2.        Bangga karena ketekunannya dihargai.
Salah satu karakter yang dimiliki siswa adalah bangga pada diri sendiri. dengan rasa bangga kepercayaan pada diri sendiri tercipta. Dengan demikian, siswa semakin yakin jika apa yang ditekuninya berbuah manis. Hal ini akan berimbas pada prestasinya. Dengan banyak membaca, ilmu bertambah, wawasan luas. Ia makin yakin bahwa dengan membaca bisa membuka jendela dunia.

3.        Memberi contoh/ teladan kepada siswa lain.
Keteladanan itu sangat penting bagi orang lain. Apalagi keteladanan yang dapat menginspirasi. Dengan melihat temannya meraih prestasi, para siswa lain ingin melakukan hal sama. Hal ini berdampak positif bagi tumbuh kembang siswa lain. Prestasi temannya pun akan meningkat karena gemar membaca. 

4.        Dikenal guru dan teman karena prestasi.
Dikenal guru itu menyenangkan, apalagi dikenal karena prestasi. Tak kenal tak sayang. Nah dengan dengan dikenal oleh guru, kita akan disayang guru. Senang kan, jika setiap saat guru menyayangi kita.

5.        Menjadi sejarah dalam gerakan literasi sekolah.
Saat ini Gerakan Literasi Sekolah(GLS) sedang digalakkan. Bahkan gerakan ini wajib diimplematasikan dalam setiap pembelajaran. Munculnya pembaca sekaligus peminjam terbanyak merupakan sejarah yang bagus bagi sekolah. Prestasi ini mengukir sejarah dalam dunia literasi di sekolah.

            Selamat membaca dan membaca. Sukseskan Gerakan Literasi Sekolah








Minggu, 27 Agustus 2017

MERIAHNYA KARNAVAL DI DESA KEBUMEN BANYUBIRU





Foto Koleksi Pribadi
Foto Koleksi Pribadi

Peringatan hari Proklamasi tak akan meriah tanpa adanya karnaval. Karnaval yang dilaksanakan setahun sekali menjadi dambaan warga desa, termasuk warga Desa Kebumen Kecamatan Banyubiru. Semua warga berperan serta memeriahkan acara yang memang sudah dinanti-nanti.
Hari Minggu pagi, 20 Agustus 2017 gaung karnaval terdengar. Mulai dengan riuhnya suara drum blek yang dibunyikan warga untuk menuju pusat kumpul peserta karnaval, yaitu di SD Kebumen 01 yang letaknya di pinggir jalan. Ada juga wira-wiri warga dengan kostum warna-warni.
Nah, kami pun SMPN 2 Banyubiru sekaligus sebagai warga Desa Kebumen  tak mau ketinggalan memeriahkan karnaval tersebut. Berbagai persiapan pun kami lakukan yaitu membagi menjadi beberapa kelompok sampai membuat sarana yang dibutuhkan. Akhirnya terbentuklah kelompok pasukan bendera, kelompok pakaian adat, kelompok petani, ABRI, IPTEK, kerohanian, Olah Raga, pasukan sepeda hias dan tak ketinggalan kelompok drum blek yang cukup meriah.
Tepat pukul 08.30 para siswa dikumpulkan untuk selanjutnya menuju pusat pemberangkatan. Kami mendapat urutan pertama. Woh… kemeriahan pun mulai terasa saat kami sampai di tempat start pemberangkatan.  Berbagai kelompok dari sekolah maupun desa menuju satu pusat di depan SD Kebumen 01. Sebuah odong-odong dengan para krucil-krucil anak-anak TK siap ikut memerihakan karnaval. Suara para penabuh drum blek dari berbagai kelompok makin membuat depan SD Kebumen makin ramai.
Foto: Koleksi Pribadi
Foto: Koleksi Pribadi

drum blek. Foto Koleksi Pribadi
Mulailah kami yang terdiri hampir 400-an yang terdiri dari semua siswa dan para guru melakukan perjalanan menuju ke arah yang telah ditentukan oleh panitia, yaitu dari depan SD Kebumen 01 menuju ke barat sampai Desa Gilang. Karena mendapat giliran pertama, kami pun berpapasan dengan kelompok  lain yang juga akan memeriahkan karnaval tingkat desa ini. Tak bisa dipungkiri kemacetan pun terjadi.
Perjalanan para siswa menuju Desa Gilang berjalan lancar. Dengan gembira para siswa bernyanyi dan memainkan drum blek. Kemeriahan tampak di sepanjang perjalanan. Tak ada kendala sedikit pun saat para siswa berjalan kaki yang lumayan jauh. Sambil menikmati perjalanan kami pun bisa melihat aneka penampilan warga lain dengan kostum yang benar-benar menarik. Baju berbahan amat murah, misalnya tas kresek, Koran juga bahan daur ulang menjadi tampilan yang memukau. Hal ini membuktikan masyarakat bisa berkreasi dengan barang yang sederhana. Aneka replika ada dalam karnaval tersebut. ada Unta, Ikan dan juga berupa ular yang merupakan identik dengan baru klinting pun ada dalam karnaval kali ini.
Ya… memang perlu diberi acung jempol untuk warga yang dengan ikhlas memberi hiburan gratis pada masyarakat. Walaupun ada sedikit kendala , karnaval Desa kebumen perlu mendapat apresiasi. Harapannya karnaval tahun depan perlu dipikirkan rute jalan agar tidak terjadi kemacetan. Namun dibalik kekurangan, banyak hal positif yang perlu dipertahankan. Inilah bentuk kecintaan pada bangsa dengan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif. Lanjutkan!

Dirgahayu Republik Indonesia ke -72. 

Senin, 08 Mei 2017

Serunya acara 1st Anniversary Teater Seribu Wajah Ambarawa


Hai Sobat semua, jumpa lagi dengan saya…
Tak terasa setahun sudah keberadaan Teater Seribu Wajah ada di Ambarawa. Umur yang masih unyu-unyu. Namun patut dibanggakan karena pada usia yang masih muda telah menorehkan pertunjukkan yang memukau. Dengan tangan dingin sang Sutradara Bang Daniel Godan Exaudi para muda-mudi bisa berekspresi apik pada perayaan ulang tahun yang diselenggarakan pada hari Minggu, 30 April 2017.


Acara dikemas dalam dua kegiatan yaitu pada pukul 15.00 dengan acara workshop keaktoran dan pantomim untuk pelajar SMP dan SMA sederajat dan malamnya pementasan teater  dengan judul Kapai-kapai karya Arifin C. Noor dan Hujan Kemarau di Pendopo Kecamatan Ambarawa.
Tepat pukul 15.00 hujan mengguyur Ambarawa. Dingin menusuk badan. Saya yang waktu itu akan sudah bersiap-siap berangkat jadi urung. Saya sedikit was-was karena sudah janjian pada beberapa siswa  yang akan datang. Akhirnya saya tetap berangkat walau agak gerimis. Butir-butir air hujan menerpa pipiku. Ah tidak apa-apa. Ini juga air kiriman dari Allah. Insya Allah sehat. Dan benar ternyata acara workshop sudah mulai. Saya lihat ada delapan siswa SMPN2 Banyubiru yang ikut pada acara itu. Saya pun ayem. Lagian ada teman guru sudah datang.
Kupikir yang namanya workshop itu ya seperti workshop pada umumnya, duduk manis dengerin ceramah. Ternyata beda kali ini. Semua peserta worshop saat itu duduk melingkar dan sang pemateri yaitu Bang Daniel memberi pengarahan seputar teater. Dilanjutkan praktik materi.   Gerakan jalan pelan lalu sedikit cepat dalam lingkaran ruang. Jadi mereka berjalan-jalan seputar tempat dan gak ada yang bertabrakan. Mereka mempraktikkan berbagai gerakan sesuai dengan karakter. Menjadi jam ya tangan bergerak layaknya jarum jam, menjadi bola ya harus berguling-guling dan lainya.  Hem…seru juga acara itu. Anak-anak tampak sumringah mengikuti kegiatan itu. Selain memperdalam ilmu teater siswa bisa saling kenal dengan grup teater sekolah lain. 
Acara workshop ditutup dengan penampilan pantomin yang diperankan dua anak SD yang pernah jadi juara di Kabupaten. Dengan mengusung tema ‘pagi yang cerah’ dua siswa berpakaian serba hitam dapat menampilkan pantomin dengan apik dan lancar.
Ya saya salut dengan kegiatan-kegiatan positif anak muda seperti ini. Namun sayang belum semua remaja tergerak untuk mengikuti kegiatan baik ini. Mereka masih asyik dengan kegiatan yang cenderung berhura-hura. Makanya saya sangat mendukung kegiatan dengan membuat ekstra kurikuler teater. Tetap semngat untuk mas Daniel yang telah melalang buana dengan dunia teater. Kau telah mengukir indah pada generasi penerus bangsa.
Hem…akhirnya pas jelang magrib acara workshop ditutup. Kuhantarkan anak didikku di pintu gerbang kecamatan. Hati-hati ya Desi, Hosiana, Farih, Fahmi, Nayli, Risky, Kinasih.
Acara dilanjutkan setelah maghrib berkumandang. Saya pun sudah bertekad untuk menyaksikan acara itu. Ya sebagai dukungan atas lahirnya teater seribu wajah. Konon lahirnya teater seribu wajah adalah bermula dari buku antologi puisi berjudul Ambarawa Seribu Wajah yang ditulis oleh berbagai kalangan yang digawangi oleh penarawa (Penulis Ambarawa). Alhamduliah beberapa teman penarawa hadir pada acara itu, ada sang Ketua Mas Agus Surawan, Pak Atoyo dan Pak Joko.
Tepat pukul 19.30 acara dimulai. Gedung yang tidak terlalu luas itu penuh. Berbagai komunitas teater dari Semarang, Salatiga juga Ambarawa berkumpul. Dengan penuh semangat mereka mendukung acara ultah pertama teater Seribu Wajah.
 Kain hitam yang membentang, membalut dinding-dinding tua,  menjadikan suasana saat itu beraura beda. Tenang, adem, tanpa tulisan tanpa pernik-pernih itulah seni teater. Heee itu kesan saya entah benar atau tidak. Sang pewara pun tampil, Mas Habib merangkai acara demi acara agar penonton krasan di acara yang langka ini. Kemudian Pak Artoyo memberi sambutan katanya sih sebagai tetua pendukung teater. Dilanjut dengan pembacaan puisi oleh Mas Syarif Prasetya Adyuta. Dengan tenang, santai  dia gulirkan kata-kata indah. Puisi kedua dibawakan oleh seorang gadis bernama Zachwa. Gadis manis ini pun dapat membawakan puisi dengan penuh penghayatan. Hingga penonton menyimak dengan baik.

Mas Syarif Prasetyo beraksi membaca puisi

Tampilan Mbak Zachwa yang memukau
Penampilan teater perdana pun dimulai. Pementasan pertama adalah dengan judul ‘Hujan Kemarau’ Pet… lampu dimatikan. Gelap, hening mencekam. Yang ada adalah warna hitam. Semua penonton tenang tak tanpa suara. Ya… semua penonton duduk takzim menatap panggung.. Dua sosok muncul yaitu Mas Achmad Najib dan Mbak Winda Kusuma Dengan pakaian layaknya waktu hujan. dua sosok berbalut mantol warna. Gerakan-gerakan dan suara dua tokoh memerankan karakter dimainkan dengan bagus. Acting mantap, suara pas membuat semua penonton terus tak berkedip. Tepuk tangan  sebagai apresiasi pada penampilan perdana. Dan sesuatu hal terjadi pada saat mereka tampil. Hujan pun tiba-tiba datang. Ah… kata si pewara ada kekuatan batin. Heee dan hujan pun reda kala pementasan berakhir. 
Tak kalah menarik penampilan yang kedua. Sebuah naskah teater karya Arifin C. Noer dengan judul Kapai-kapai siap beraksi. Kapai-kapai artinya nih "bergerak-gerak seakan hendak  mencapai sesuatu." Ah seperti apa ya penampilan mereka. Jadi penasaran deh. Dalam keremangan karena lampu dimatikan, tiga sosok menampakkan diri Elvira Septi sebagai Bulan. Dengan balutan baju merah menyala, menjuntai hingga ke lutut,  duduk di kursi yang  bergantung di tiang. Meliuk-liukkan tangannya dengan kata-kata lembut. Di tengah panggung sosok Winda Kusuma sebagai emak berdiri dengan suara lembut. layaknya emak. Dan yang seru nih adalah sosok Abu yang dimainkan oleh Sarashadi Irsan, sedangkan Alexa Aprillia berperan sebagi  Iyem pun tampil apik sebagai istri abu. Dan terakhir Achmaf Najib H. berperan sebagai Sang Kelam. 



Ah… menonton teater seolah kita larut dalam cerita. Memahami setiap ucap dan gerak-gerik tokoh. Perlunya konsentrasi agar mengerti isi cerita. Saya pun terkesima dengan acting mereka, angkat jempol deh. Mereka memerankan tokoh dengan memukau, tanpa cela. Lagi-lagi ini peran serta sang Sutradara Bang Daniel Godan exuadi. Dan tentu saja kerja sama apik dengan para aktor-aktor muda berbakat. Selamat ulang tahun ke -satu Teater Seribu Wajah. Semoga ke depan dapat menjadilan jembatan generasi muda berkarakter, berbudi pekerti yang baik. Semoga
Selam budaya.!
Ambarawa, Mei 2017






Senin, 01 Mei 2017

Mencoba Lezatnya Bakso Uleg Tamanggung


Hai sobat semua, saya yakin teman-teman demen bakso ya kan. Ya… menu ini sudah menjadi menu favorit berbagai kalangan. Baik anak-anak, remaja, atau orangtua. Benar kan?
Nah…sobat, saya baru saja mencoba menu baru nih. Dan kedengarannya gak sesuai dengan bakso kebanyakan. Namanya saja Bakso Uleg. Ingin tahu kan. Okey ….lanjut!

Makan bakso uleg bersama teman lama
Hari Senin kemarin tuh libur kan. Ya… biasa nyelesaikan  berbagai target. Pekerjaan rumah, bersih-bersih rumah, nyuci dll. Ya tentu nyelesain proyek tulisan yang belum juga kelar. Heee sok penulis kali. Tapi tetap semangat kok. Okey… tiba-tiba ada teman lama kirim pesan lewat WA kalau mau mampir ke rumah. Wkkkk belum mandi juga saat itu. Ya akhirnya langsung bersih diri deh biar gak bau. Tamu datang saya sudah dandan rapi. Temanku datang bersama anak dan suami. Mereka mampir karena mau ngantar anak ke tempat kost. Setelah ngobrol sana- sini akhirnya temanku ngajak ngantar anaknya ke Temanggung. Hemmm mau juga nih daripada jenuh ngadepin laptop, idep-idep refresing.
Setelah azan dhuhur Saya, Laksmi( teman semasa SMA) dan suami serta anaknya meluncur ke Temangung. Kota yang sejuk. Dari Ambarawa sekitar pukul 13.00. Kurang lebih satu jam kami sampai di Jembatan Progo. Mungkin hari libur sekitar jembatan ramai. Setelah masuk Temanggung lurus sampailah kami di Jalan Jenderal Sudirman. Kami sepakat mau makan bakso dulu sebelum ke tempat kost. Kami berhenti persis di depan BRI di situ ada  sebuah kios Bakso Uleg Pak Di. Wah penasaran saya dengan bakso itu. yang diuleg apanya. Trus baksonya gimana.
Kami pun memilih duduk di dalam lalu memesan bakso serta minuman. Terlihat lumayan banyak pembelinya. Namun karena pelayannya banyak pesanan kami pun segera datang. Empat mangkok bakso dan satu mangkok berisi sambal berwarna hijau. Saya yakin ini ulegan cabai rawit dan sedikit air. Oh… jadi yang dijadikan nama bakso itu dari sambal yang  diuleg bukan baksonya. Lho bukankah sambal memang diuleg. Heee entahlah.

Kami pun langsung menikmati bakso. Harumnya menguar. Menggoda untuk segera disantap. Namun yang cerewet tanya sana- sini ya cuma saya karena temanku dan keluarganya sudah sering ke sini sih. Hem… kucicipi  kuah yang berwarna coklat kehitaman. Tidak bening layaknya bakso pada umumnya. Dan kurasakan sambil mikir rasa kuah itu. kok beda ya. Rasanya saya pernah merasakan kuah seerti ini tadi. Dan temanku mengatakan kalau kuahnya seperti kuah mie kopyok. Oalah…jadi ingat deh. Ya benar kuah bakso uleg ini bukan kuah bakso pada umumnya tapi kuah bakmi kopyok. Rasanya manis, gurih tak eneg. Lantas saya mulai mangaduk-aduk isi mangkok tadi. Ternyata bakso uleg ini berisi tiga bulatan bakso kalau ini sama dengan bakso pada umumnya. Kemudian ada irisan ketupat dan juga Tahu kuning yang diiris. Selanjutnya di atas kuah ditaburi daun seledri yang diiris halus. 
Bakso Uleg. 
 Saya merasa seperti makan bakmi kopyok. Tapi ada baksonya. Kuah tak berasa ada kaldu atau pedasnya mrica. Jadi segar. Apalagi ditambah dengan kerupuk dan sedikit sambal lombok rawit hijau. Jadi saya merasa tidak eneg dengan menu baru ini.  Biasanya sih kalau makan bakso pada umumnya sedikit eneg maklum mungkin baksonya sudah diberi MSG dan kadang kuah diberi lagi. Jadi biasanya gak habis deh. Lah ini sampai tetes terakhir deh. Kuah gak eneg di lidah. Jadi langsung habis. Maklum dari pagi juga belum sempat makan. 

Warung Bakso Uleg Temanggung
Coba deh jika teman-teman ke Temanggung. Dan harganya juga bersahabat  kok sama dengan bakso pada umumnya. Satu mangkok 11 ribu. Oh ya selain bisa menikmati sensasi baru, Saya juga gak sengaja bertemu juga teman dumay yang udah baik sih. Mbak Dini yang kebetulan rumahnya Temanggung. Alhamdulilah hari dipertemukan teman-teman yang baik. Makasih oleh-olehnya ya Mbak Dini. 

Kopdar dadakan dengan Mbak Dini
Okey selamat mencoba. Bakso uleg gak bikin eneg.

Ambarawa, 1 Mei 2017

Rabu, 26 April 2017

Serunya Peringatan Hari Kartini di SMPN 2 Banyubiru

Peringatan hari Kartini tahun ini sepertinya telah menggema dibanding tahun-tahun sebelumnya. Lebih greng dan lebih heboh. Apa benar? Berbagai Medsos terlihat banyak sekali terpampang penampilan para siswa atau para warga yang sangat cantik dan ganteng dengan kebayanya dan blangkonnya. Salon kecantikan ramai, pasar pun juga lebih ramai, ya borong kebaya, blangkon dll. Mungkin ini moment penting dalam hidupnya. Bisa jadi sejarah kalau besar nanti. atau jadi kenangan nantinya. Pokoknya apa deh…apalagi sekarang berfotoria sangat mudah kita lakukan.
Para siswa mengikuti upacara hari Kartini
Bapak dan Ibu Guru tak mau ketinggalan berpakaian adat. 
Apakah peringatan hari Kartini hanya bisa diperingati dengan unjuk penampilan sudah cukup. Sudahkah kita sudah memaknai peringatan hari Kartini? Sebagai generasi penerus saatnya kita peringati dengan hal-hal yang dapat meneladani nilai-nilai luhur Kartini, mengenang perjuangan Kartini sehingga wanita jangan dipandang sebelah mata. Wanita harus bisa menjadi pewaris yang perpendidikan, bermartabat dan harus tangguh menghadapi tantangan zaman.
Nah…saya mau berceritanya serunya peringatan kartinian di sekolah tempat saya  mengabdikan diri sebagai pengajar di SMPN2 Banyubiru. Mau tahu? Yuk lanjut!
Peringatan hari Kartini kali ini bertepatan hari Jumat sehingga acara dikemas singkat namun bermakna. Jauh-jauh hari Pembina OSIS Ibu Nur Mualifah, S.Pd. sudah mengumumkan kegiatan ini dengan mewajibkan siswa memakai pakaian adat. Mau tak mau semua siswa mempersiapkan diri berupaya beli baju baru atau pesan ke salon/ perias agar tidak tidak kedahuluan teman lain.
Ketika saya sampai sekolah pukul 07.00 suasana sekolah sudah ramai. Penampilan para siswa semua berbeda jauh dengan keseharian. Saya pun jadi pangling. Yang cewek semuanya berdandan indah. Dengan baju gemerlap ditambah make up jreng mejadikan semua siswa tampah wooo. Yang cowok pun begitu mereka memakai blangkon, beskap, ada juga yang berpakaian basofi. Oh ya tak ketinggan para guru juga tak mau kalah. Ibu-ibu guru berkebaya dan bapak-bapak guru  tak kalah dengan murid untuk memakai pakaian basofi, lurik. Wah  keren deh!
Tepat pukul 07.30 Peringatan Hari Kartini dimulai upacara bendera dengan petugas semua siswa perempuan. Kepala Sekolah pun memberi sambutan agar kita mewarisi nilai-nilai perjuangan Kartini. Upacara pun diakhiri dengan pemberian hadiah kegiatan bulan lalu, yaitu lomba senam, lomba literasi saat rekreasi di Pereng Kuning. Dan yang mengharukan adalah saat penyerahan piala dari pemenang lomba OSN IPA tingkat Kabupaten atas nama Kinasih Wijayanti kelas 8D sebagai juara 3 tingkat Kabupaten kepada sekolah. Dan juga pemberian penghargaan pada siswa atas nama Safril Ferdi Mualana kelas 8 B yang mendapat juara 6 OSN Matematika tingkat kabupaten. Selamat ya Nak… tingkatkan terus prestasimu!
Pak Dony berpose dengan para juara lomba senam.
                  
Para juara menulis menerima hadiah. Duh ...senangnya

Inilah Juara III OSN IPA Kinasih. kecil tapi cabe rawit. Multi Talenta. 
Acara pun berlanjut dengan pemilihan Mbak dan Mas Gridaba. Gridaba adalah sebutan untuk Negeri dua Banyubiru. Diawali perwakilan dari masing-masing kelas satu putri dan satu putra untuk tampil di tempat yang telah disediakan. Berlenggak-lenggok layaknya paragawati. Lucu juga saat mereka berjalan. Eh ada yang jaritnya terbalik, ada yang seperti pak penghulu eh ada juga yang pede banget sehingga berjalannya bagus. Namun yang dinilai bukan lenggok- lenggok doang lho sobat. Mereka juga mengikuti sesi wawancara seputar Kartini. Ya kita bukan nguji penampilan saja. Intelektual juga jadi syarat  terpilihnya Mbak dan Mas Gridaba. Oh ya ada satu lagi mereka calon Mbak dan Mas harus menampilkan telenta yang dimiliki. Nah… yang ini bikin para siswa yang berada di depan panggung tertawa terbahak-bahak. Seorang calon Mbak dan Mas menampilkan Stand Up Comedi. Ya lumayan juga bahas tentang kapas. Anak pun dibuat tawa sejenak. Kemudian yang membuat penonton sedikit kecewa saat anak menampilkan talenta yaitu baca pantun. Eh.. pantunnya satu bait saja. Kontan saja para yuri bilang buah duku buah kedongdong mau lagi dong… akhirnya si calon Mas tadi mikir buat pantun lagi.
Para peserta Mbak Gridaba bergaya
Para peserta Mas Gridaba bergaya. 
Kemudian yang membuat saya tertawa lagi saat siswa calon Mas menampilkan talenta berpidato. Eh… baru saja sampai pada pembukaan tahu-tahu wasalam. Lho sudah selesai. Ia pun cengir-cengir keluar panggung. Namun kelucuan itu diimbangi penampilan lain yang cukup memukau. Namanya Chanif kelas 8D. Dengan pakaian lurik berblangkon anak ini menampilkan gerakan lucu sambil meneyesuaikan lagu yang diputar di laptop. Wah gerakannya lumayan nih. Para siswa pun ikut bergerak ala dia.
Nah ada yang lebih memukau saat salah satu peserta menyanyikan lagu asing kalau gak salah lagu Arab. Wo keren lagu yang berjudul Kun Anta dinyanyikan dengan apik, lancar plus gayanya oke layaknya penyanyi asli. Dia sangat pede sekali. Saya terpukau dengan penampilan yang tak lain adalah pemenang OSN IPA tadi. Sampai-sampai saya menatap lekat-lekat karena dia hafal semua liriknya. Para siswa dan guru pun kagum penampilan yang memang genius ini. Hadiah tepuk tangan pun menambah suasana makin seru. Ada lagi yang membuat saya kagum saat siswa yang bernama Ayu Novitawati kelas 8 C. Anak ini menyanyikan lagu Bengawan Solo dengan apik. Ya ternyata ada juga anak yang bisa menyanyikan lagu lama tersebut.
Makin siang suasana makin heboh karena sambil menunggu pengumuman pemenang Mas dan Mbak Gridaba adalah acara santai. Para siswa yang bukan peserta boleh menampilkan apa saja. Nah depan panggung pun seolah bergetar. Semua larut unjuk kebolehan dua anak yang menari dengan gerakan-gerakan lincah sambil diringi lagu yang memang pas untuk goyang. Jadilah siswa lain ikut goyang.

Paserta Mas Gridaba uji talenta. Stand Up Comedi

Peserta Mbak Gridaba uji talenta, Bernyanyi

Peserta Mas Gridaba uji telenta. Bergoyang ria. 


Acara santai sambil menunggu Pemilihan Mas dan Mbak Gridaba 

                    Pemilihan Mbak dan Mas pun akhirnya diumumkan. Akhirnya Kinasih Wijayanti kelas 8 D dan Moh. David kelas 7 C dinobatkan sebagai Mas dan Mbak Gridaba. Sebuah selempang pun disamirkan pada mereka. Selamat ya semoga kalian menjadi generasi penerus Kartini yang berkualitas menjunjung nama bangsa dan negara serta agama. Alhamdulliah acara berjalan lancar dan berakhir pukul 11.15



Inilah Pemenang Mbak dan Mas Gridaba berpose dengan Kepala Sekolah Ibu Sri Mulyati, S.Pd. 
Oh ya ternyata wujud peringatan hari Kartini berlanjut hari Sabtu. Yaitu kegiatan literasi dalam rangka hari Kartini. Sebenarnya sih acara itu diagendakan hari Jumat. Namun, terkendala waktu. Alhamdulilah kegiatan literasi didukung oleh Ibu Sri Mulyati, S.Pd selaku kepala sekolah dan semua guru. Pada jam terakhir pembelajaran para siswa menulis surat yang ditujukan pada kaum Ibu. Mereka bisa memilih surat untuk ibu, ibu guru, ibu kartini atau calon Kartini-kartini penerus bangsa. Tak diduga tulisan mereka sangat indah. Saya sampai terharu mengeja kata demi kata tulisan mereka. Kaulah calon Kartini-kartini sejati.
Selamat hari Kartini. Gridaba yes!
Ambarawa, 22 April 2017

Minggu, 16 April 2017

Tunggu Aku Di Sini ( Cerpen)


Gambar diambil dari www.geraldirizki

Sudah hampir setengah jam Rara duduk sendiri di bangku panjang pojok terminal Ambarawa. Dingin. Hujan yang mengguyur siang itu tak menyurutkannya untuk bertemu dengan teman barunya. Ya Rara siswa baru kelas 1 SMA itu harus menemui Ridho, cowok   ganteng yang terkenal dengan sebutan cowok bandel. Ridho menjanjikan meminjamkan novel yang akan dijadikan tugas untuk membuat resensi. Sebenarnya banyak temannya yang menasihati agar ia tak dekat-dekat dengan Ridho. Namun semuan ocean temannya tak masuk di hati. Baginya asal kita berbuat baik, temannya juga baik.
Berkali- kali ia buka HP-nya, tak ada kotak masuk apa pun. Berkali-kali pula ia menghubunginya, tetapi tak juga diangkat panggilannya. Ia jengah. Bosan. Ia tengok kanan kiri juga tak ada orang yang menemuinya. Entah sudah berapa kali ia menghitung bus keluar masuk  terminal. Koran yang ia beli sudah lusuh karena dibolak balik  Bibirnya kering. Bau gorengan dari warung dekatnya telah  menusuk hidungnya dengan aroma menggoda. Membuat  perut gadis berwajah imut itu berdendang.
Hatinya mulai teracuni dengan ocean temannya tempo hari. Huh bengsek. Gumamnya sambil melangkah gontai tinggalkan terminal. Wajahnya berlipat. Disaruk-saruklah batu sebesar kelereng di depannya. Kesal. Cowok zaman sekarang memang gak ada yang dipercaya.
Gerimis tiba-tiba datang. Koran baru ia tudungkan di atas kepalanya. Beberapa langkah sampailah ia di depan gedung bercat kuning. Banyak orang yang berteduh di situ. Awan hitam tebal menggantung di langit. Sebentar kemudian hujan deras pun datang. Rara kedinginan berdiri di antara orang yang juga berteduh. Ia kibaskan koran yang agak basah lalu ia buka koran itu. Dan saat dibuka, tiba-tiba ada cowok yang ikut nimbrung membaca koran yang  dipegangnya.
Koran baru ya Mbak? Deg Rara menoleh ke suara di belakangnya.
Mbak ... ditanya kok diam saja?”
Eh… iya, mau pinjam ya?” jawab Rara sekenanya sambil melirik cowok yang lumayan ganteng.
Enggak kok, aku sudah baca  tadi di dalam,” tangan cowok berambut cepak itu menunjuk ke belakang.
Di dalam?” Rara menoleh gedung belakangnya melihat papan nama yang terpampang jelas di dinding atas. “Perpustakaan?” tanyanya dalam hati. Hatinya berbunga karena dari dulu saat masih tinggal di Klaten ia selalu pergi ke perpustaan daerah. Namun, beberapa bulan tinggal di Ambarawa belum tahu jika ada perpustakaan, yang merupakan tempat hiburan bagi dia.
Yuk masuk saja, nanti Mbak dapat pinjam buku atau baca koran baru. Koran yang basah dibuang saja atau letakkan di sini nanti biar kering sendiri,” ajak cowok berkaus gambar bola.
“Eh iya,” katanya gugup. Kebetulan ia akan mencari novel untuk bahan tugas membuat resensi Akhirnya Rara dan cowok tadi masuk ruang. Setelah menulis data pengunjung mereka masuk beriringan masuk ke perpustakaan yang pengunjungnya lumayan banyak.
Senyum tersungging di bibir gadis kelas 1 SMA itu, benar-benar kejatuhan bintang. Impiannya untuk bergelut dengan buku kembali terisi setelah vakum beberapa bulan. Hem kalau tahu dari dulu ia tak usah repot- repot minjam pada temannya itu.
“Hem,  cowok brengsek !!”
“ Siapa yang brengsek, Mbak?”
Ah enggak kok… .” Rara tersipu, tak diduga ucapannya terdengar oleh cowok yang baru dikenalnya itu sambil melirik Rara. Hati Rara terkesiap sejenak melirik pemuda yang teduh, sopan itu.
Yuk ... carikan aku novel ya? Rara mengalihkan pembicaraan. Akhirnya mereka berdua dengan mudah menemukan novel karena berpuluh-puluh novel tertata rapi di rak paling depan. Mereka  lalu duduk sebangku di sudut perpustakaan.
Eh maaf kita belum kenalan, namaku Tommy dan kamu?” cowok itu mengulurkan tangannya.
Aku Rara…,”
Kamu… ,“ Mereka berbarengan ngomong sehingga keduanya malah diam semua. Akhirnya Rara  mengawali berbicara “Kamu sering pergi ke sini ya?”
Ya, tiap hari Sabtu Insya Allah aku ke sini untuk membaca koran dan buku lain tuk  referensi tulisanku.”
Oh jadi Mas Tommy  ini penulis, ya?
Ah gak juga cuma senang nulis saja,”
Iya tuh  namanya juga penulis,”
Walau baru sebentar mereka kenalan, tampak keakraban sudah terlihat. Rara tak sungkan-sungkan bertanya tentang resensi. Tommy pun mengajarinya secara singkat. Pembicaraan menjadi hangat. Ternyata mereka mempunyai hoby yang sama yaitu membaca. Rara benar-benar bersyukur dapat ilmu yang banyak dari teman barunya. Tak terasa perpustakkan sudah hampir tutup. Mereka memutuskan pulang. Beriringan mereka keluar setelah meminjam dua novel dengan menggunakan kartu teman barunya karena ia sendiri belum punya kartu. Mereka pun berpisah.
Kutunggu besuk Sabtu siang di sini ya,” Tommy melambaikan tangan. Rara mengangguk dengan senyum mengembang. Sesaat Riri ingat akan Ridho. Dibukanya HP. Ternyata tak juga SMS masuk atau penggilan dari Ridho. Rara sekarang jadi yakin jika cowok itu benar tak bisa dipercaya.
***
Ridho masih berdiri mematung di depan Gedung Pemuda Ambarawa setelah beberapa jam menunggu Rara. Di samping warung bakso ia mendekap dua novel. Pandangannya tak lepas pada gedung di seberang jalan. Ia tadi melihat Rara masuk perpustakaan. Sebenarnya bisa saja ia menyusul tapi tidak mungkin dengan baju basah masuk ruang perpustakaan.
“Ridho ... kau di sini, kenapa, tahukah, aku nunggu hampir pingsan  tahu, sudahlah aku tahu siapa dirimu kau memang brengsek,” tanpa bertanya Rara menceracau tanpa jeda. Ia kehilangan kendali. Tak peduli banyak orang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Rara ... tunggu, dengarkan penjelasanku, ini buku pesananmu sudah kubawakan. Dan aku sudah dua jam menunggu di sini, maafkan aku karena ....”
“Sudahlah jangan banyak alasan, simpan baik-baik novelmu itu, aku sudah dapat novel yang kalah lebih bagus dari novelmu yang dekil dan kotor itu.” sanggah Rara sambil pergi tinggalkan Ridho.
Kata-kata Rara menohoknya, membuatnya hatinya tercabik-cabik. Ridho pun pulang dengan sejuta luka merambat memenuhi hatinya yang kian berat. Ia jadi ingat kata-kata ibunya bahwa kesabaran akan membawa kedewasaan diri. Ia letakkan novelnya, bergegas menemui Ibunya yang terbaring sakit. Berkali-kali ibunya dibujuk untuk dibawa ke rumah sakit namun tak juga mau karena biaya.
Esok harinya, Ridho tidak masuk sekolah karena ia harus mengantar ibunya ke rumah sakit karena pagi setelah salat subuh ibunya pingsan. Ia pun SMS pada Budi, teman sebangkunya untuk menyampaikan pada wali kelasnya agar mengizinkannya sekaligus untuk menyampaikan kata maaf pada Rara.
Rara pun jadi menjadi merasa bersalah setelah diberitahu Budi perihal keterlambatan Ridho menemuinya kemarin. Sepulang sekolah ia bergegas menemui Ridho di rumah sakit. Betapa kagetnya  setelah ia sampai di rumah sakit, Ridho dan Tommy sedang bercakap-cakap akrab sambil membawa novel pinjaman dari perpustakaan.
“Ridho ... maafkan saya. Mana novelnya kemarin, yuk besuk kita sama-sama ke perpustakaan ya?” ucap Rara sambil menerima novel dari Ridho.

Selesai

baca juga: Kiat Hadapi Ujian Nasional