Senin, 19 Desember 2022

Mengukir Senja Bersamamu (Refleksi Pernikahan 35 Tahun)

                     dokumen pribadi

Tak Terasa hari ini 20 Desember 2022, adalah hari istimewa. 35 tahun sudah kebersamaan yang kami lalui dalam biduk pernikahan. Jika dipadankan dalam hidup, usia 35 tahun adalah sudah dikategorikan sudah dewasa. Benar juga hal tersebut. Pernikahan kami sudah sampai pada tahap tersebut. 

Perjalanan panjang telah kami lalui dalam suka dan duka. Percik-percik dalam mengarungi berumah tangga pasti ada. Namun, syukur Alhamdulillah kami bisa melaluinya dengan baik. Kuncinya kesabaran dan selalu ingat kepada Allah dalam setiap derap langkah kehidupan. 

Sejenak akan saya ceritakan awal kami membangun rumah tangga. Tiga tempat kami menjadi kontraktor. Kok kontraktor? Ya, maksudnya mengontrak rumah sampai tiga kali. 

Pertama, di rumah berdinding kayu jika hujan kadang rumah bocor. Masih ingat waktu itu kami harus bisa mencukupi kebutuhan dengan gaji amat minim sebagai guru. Waktu itu gaji sebesar 57 ribu kali dua dengan gaji suami harus bisa kontrak rumah, makan sehari-hari, dan bayar setoran sepeda motor.

Ketika anak pertama berusia 3 tahun, saya melahirkan anak kedua. Pas lahiran eh... suami pergi ke rumah saudara. Jadi saya melahirkan dibantu bidan desa tak ditunggu suami dengan membayar 50 ribu saat itu tahun 1992. Saat itu belum ada HP. Jadi tak bisa memberitahukan akan kelahiran anak. 

Saat lahir anak kedua kami sudah pindah kontrakan. Selama dua tahun kami menempati rumah, kami harus pindah dengan alasan rumah akan dipakai sendiri oleh yang punya rumah. Usut punya usut ternyata dikontrakkan orang asing dengan sewa lebih tinggi. Saat itu sewa kontrakan 100 ribu.

Usia anak kedua satu setengah tahun, lahirnya anak ketiga. Heee ceritanya sundulan kata orang jawa. Kelahiran anak ketiga, kami sudah pindah rumah. Pindah rumah, lahirlah anak. Dengan gaji pas-pasan kami berjuang menghidupi tiga anak. Betapa kerepotan kami alami.  Ada dua ART yang siap membantu keseharian kami. Jika tidak ada tentu tidak mampu. Mengasuh tiga anak yang semuanya cowok bukan hal mudah. Sampai akhirnya kami mempunyai rumah sendiri di Ambarawa.

Berjalannya waktu kami mempunyai tanah. Karena kurang sreg di tempat dingin Sumowono, tanah saya jual. Uang hasil menjual tanah dengan harga tiga kali lipat bisa kami gunakan untuk membeli tanah kembali lalu  membangunnya. Walaupun belum rampung rumah mungil kami tempati. 

Penuh perjuangan kami berusaha mendidik mereka dengan sepenuh hati.  Kebutuhan makin besar saat saya dan suami harus juga kuliah hingga sarjana. Saat awal mengajar, pendidikan kami hanya sampai diploma 1. Selanjutnya kuliah sendiri hingga S1.

Mendidik ketiga anak bukan hal mudah. Saya berusaha mendidik agama dengan mendatangkan guru ngaji selain diikutkan dalam TPA. Ketiga anak saya ikutkan juga dalam kursus mata pelajaran agar bisa menunjang pendidikan. Pendidikan agama dan umum kami usahakan semaksimal mungkin.

Kami berjuang dengan bekerja sebaik-baiknya. Bekerja dengan tekun dan berusaha tidak meninggalkan siswa tanpa ada kepentingan mendesak.

Kejujuran dan ketekunan kami lakukan dalam bekerja. Prinsip kami bekerja untuk mencari rejeki yang berkah.

Doa, tirakat dan bekerja sungguh-sungguh terus kami lakukan demi anak-anak kami. Syukur Alhamdulillah ketiga anak kami bisa bersekolah dengan lancar. Anak pertama bisa sekolah di sekolah negeri hingga perguruan tinggi. 

Doa dan usaha akhirnya bisa mengantarkan anak pertama diterima di UNS. Baru saja dijalankan tiga bulan ada informasi jika anak diterima di universitas unggulan yaitu STAN Jakarta. Rasa syukur tak terhingga kami rasakan.

Tiga tahun kemudian sang adik menyusul bisa mengikuti jejak kakaknya. Syukurlah anak kedua yang pernah mendapat nilai 10 bulat pada mapel Matematika bisa lolos di UGM dan STAN. 

Rejeki tak terduga kami terima. Kedua anak berjuang belajar di sekolah ikatan dinas. Perjuangan terus kami lakukan. Jika tidak bisa mengikuti aturan bisa kena DO. Artinya bisa keluar jika nilai belum memenuhi syarat. Kejujuran dalam ujian atau tes benar-benar diterapkan.

Akhirnya kedua anak bisa bekerja sebagai pegawai negeri di departemen keuangan. Tantangan demi tantangan ditempa. Apalagi anak harus bisa menangkis rumor negatif saat bekerja di departemen itu. Syukur alhamdulilah dengan bekal iman, anak termasuk pejuang anti suap dan mendapatkan penghargaan dari kantor. 

Sedangkan anak ketiga kini bisa menyelesaikan kuliah S2 di Unnes. Kini ketiganya telah berumah tangga. Rasa syukur tak terhingga kamu rasakan.

Kami sebagai anggota pensiun telah lulus. Lulus sebagi guru, lulus telah menyekolahkan anak hingga bisa kuliah, dan lulus karena telah menikahkan ketiga anak. Rasanya plong. Semua karena Allah. 

Kini kebahagian kami nikmati dengan berdua dengan menempati gubuk baru dari jerih payah kami. Walaupun kami tak punya investasi apa pun, namun kami sudah merasa plong telah menyelesaikan tugas kami selaku orangtua. Amanah yang telah diberikan Allah telah kami jaga. 

35 tahun kebersamaan kami telah mengukir banyak cerita dalam bingkai kebahagiaan. Kini saatnya kami meniti senja dengan selalu mendekat pada-Nya agar bekal makin bertambah yang akan kami bawa di akhir zaman. Semoga kebersamaan kami bisa langgeng hingga nanti. Hanya kepada-Nya kami berlindung agak keluarga kami diliputi kebahagiaan.

 

Ambarawa, 20 Desember 2022

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 17 Desember 2022

Resensi : Perjalanan Jiwa yang Menggugah Hati

 


Judul Buku          : Napak  Tilas Perjalanan Jiwa

Penulis                : Sri Sugiastuti

Penerbit              : CV Oase Pustaka

Tahun Terbit      : September 2022

Tebal Buku         : 168 halaman

Nomor QRCBN   : 62-134-3908-034

Peresensi            : Budiyanti

 

Sebuah jejak hidup akan bisa menjadi refleksi diri dalam menjalani perjalanan di dunia. Perjalanan jiwa akan menjadikan kita lebih tahu akan makna hidup ini dengan berbagai percik-percik yang kita alami. Kita pun akan bisa menambah rasa syukur akan anugrah terindah dari Allah. Semua itu terangkum dalam buku setebal 168 yang ditulis oleh seorang guru,  blogger dan penulis Sri Sugiastuti.

Buku berjudul ‘Napak Tilas Perjalanan Jiwa’ ini terdiri dari 26 kisah inspiratif. Buku  yang menggugah jiwa bisa menjadi teladan bagi pembaca. Membaca buku ini seolah pembaca diajak menyelami jiwa penulis dengan berbagai kisah nyata yang menarik. 

Pada kisah pertama yang berjudul Aku, Ibu dan Guru berkisah tentang penulis yang sudah sejak kecil ingin menjadi guru. Hal ini terbukti penulis, Astuti kecil sudah sering memeragakan dirinya menjadi guru saat bermain dengan teman-temannya. JIwa suka membaca pun sudah ada dari kecil. Hal ini dapat diceritakan Astuti sudah suka membaca majalah Kucung dan Bobo yang dibelikan sang Ibu. Sang Ibu pun berasumsi Astuti akan menjadi guru.

Cita-cita pun tecapai dan pengabdian sebagai guru telah dijalaninya hingga pensiun. Sesaat penulis bercerita saat bertemu muridnya.

“Ibu, saya bisa sukses karena Ibu.” (hal 13) Ucapan seorang siswa yang telah sukses pada penulis yang telah menjadi guru muda. Penulis yang kini disebut sebagai Bu Kanjeng ini mengerutkan kening karena lupa dengan siswa yang telah menjadikan teguran guru sebagai cambuk untuk bangkit. 

Hal ini bisa dibaca pada kisah kedua. Berkat penulis, siswa tersebut telah sukses. Kisah ini ada dalam bagian dari perjalanan saat masih bersekolah  dari SMA hingga kuliah dan akhirnya menjadi guru.

“Dengan memiliki ilmu kita dapat menggenggam dunia, dan mengejar mimpi besar yang kita punya sehingga akan menjadi orang yang berguna bagi masyarakat dan bangsa.” 

Qoute yang mengawali kisah ketiga ini mematik penulis menjadi refleksi diri menuju guru berprestasi. Bu Kanjeng telah membuktikan bahwa orang berilmu dapat meraih mimpi. Penulis telah mengabdi. sebagai guru selama 35 tahun. 

Kisah yang ketiga ini juga ditunjukkan adanya prestasi  saat beliau kuliah di Universitas Sebelas Maret. Bu Kanjeng pernah menjadi mahasiwa yang aktif dan banyak sertipikat yang bisa sebagai modal melamar pekerjaan sebagi guru. Bu Kanjeng orang yang ingin terus mengejar ilmu. Keinginan memajukan siswanya telah dialaminya dengan menjadi guru di sekolah swasta dengan murid yang di bawah rata-rata. Menuju pencapaian prestasi itu proses yang harus dijalani dengan kesunguhan (18). 

Refleksi diri ini Bu Kanjeng tetap merasa belum maksimal walaupun beliau kini telah menjadi pahlawan keluarga, literasi, dan pahlawan lain untuk berbagi.

Komunikasi  adalah kunci untuk membuka hubungan apa pun. Ungkapan yang ditulis oleh Penulis beken Tere Liye ini telah menjadi patokan Bu Kanjeng untuk menghadapi siswa yang belum membayar sekolah. 

Beliau intens berkomunikasi dengan orangtua yang akhirnya membuahkan hasil. Hal tersebut bisa dibaca pada cerita keempat yang berjudul Komunikasi Guru, Siswa, dan Orangtua. 

Better late than never. Kata ini menjadi mantra Bu Kanjeng yang dapat mengantarkan beliau menjadi penulis saat memasuki usia 50 tahun dengan meluncurkan dua buku yang berjudul Kugelar Sajadah Cinta yang telah diterbitkan indie. Sedangkan buku pendalaman materi bahasa inggris telah dterbitkan secara mayor yaitu penerbit Elangga. 

Prestasi terus bergulir dengan disandangnya beliau sebagai Ratu Antologi. Bu Kanjeng berhasil menggali potensi penulis pemula menjadi penulis sejati. Banyak karya dihasilkan karena tangan dingin Bu Kanjeng. Inilah kebanggaan beliau bisa mengumpulkan naskah yang akan dibukukan. Keberhasilan berliterasi dibuktikan dengan seringnya menjadi narsum di kelas belajar menulis PGRI bersama Bapak Wijaya Kusumah. Produktif saat senja menjadikan tema saat mengisi acara di radio. 

Zaman berubah sesuai perkembangan. Saat zaman digital Bu Kanjeng ikut terlibat di dalammnya. Hal ini bisa kita simak pada judul Hidup di Zaman Digital Bersama Merdeka Belajar. Hidup dengan selalu belajar itulah sosok Sri Sugiastuti yang biasa dipanggil Bu Kanjeng.


Ada kisah unik saat Bu Kanjeng berkunjung ke Labuan Bajo sebagai peserta JAMDA IX NTT 2022. Gara-gara lupa menaruh dompet kepanikan melanda. Untung ada teman yang baik hati. Kisah ini bisa Anda baca pada hal 32. 

KIsah menarik lain adalah saat Bu Kanjeng bisa bersilahturami dengan Bu Nia. Memang Bu Kanjeng orangnya supel, baik hati dan amat bersahabat dengan siapa saja. Karena berliterasi akhirnya beliau banyak saudara yang berada dari berbagai daerah. Dengan Bu Nia seolah seperti saudara. Kala Bu Kanjeng ke Jakarta atau Bogor, selalu diagendakan beertemu dengan sabahat literasi. Saling tukar oleh-oleh menjadi acara asyik dua sahabat literasi.

Masih banyak cerita yang inspiratif dalam buku yang bersampul kuning biru ini. Tentang kisahnya yang berhasil membantu Yu Parni, kisah saat berkunjung ke adiknya dan saat mendapat rejeki anak setelah beberapa kali keguguran. Selain itu ada kisah yang menggugah yaitu beliau bisa menjalankan umroh bersama suami saat usia sudah senja. 

Alhamdulillah. Yang tak kalah asyik saat beliau aktif di LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan) Bubisa bersilaturahmi dengan calon walikota Solo yang waktu itu dijabat oleh Bapak Joko Widodo. Bertemu dengan Mas Gibran Rakabuming Raka yang sudah menjadi walikota Solo pun diceritakan dalam buku ini.

Kisah-kisah dalam buku ini amat bagus sebagai referensi untuk mengupgrade diri. Kata-katanya mudah dimengerti dengan bahasa sehari-hari. Buku ini bisa menjadikan pembaca termotivasi lewat jejak jiwa Bu Kanjeng. Selain itu bisa tersirat bahwa belajar tak mengenal kata terlambat. Hal ini terbukti dalam buku ini Bu Kanjeng, telah membuktikan bahwa beliau belajar dan belajar walaupun usia sudah senja.

Secara keseluruhan buku ini amat bagus walaupun ada sedikit yang perlu dibenahi. Misalnya teks tulisan kurang jelas dibaca karena kurang hitam.  Ada beberapa typo yang harus diedit. Pemakaian tag pada percakapan yang diakhiri tanda baca koma seharusnya ditulis huruf kecil.

“Kok bisa?”  Tanya Bu Kanjeng penasaran. ( hal. 13)

Seharusnya :

“Kok bisa?” tanya Bu Kanjeng penasaran (kata tanya diawali huruf kecil)

Hal sama pada hal. 22. Sebaiknya kata tanya menggunakan huruf kecil. Hal ini juga ada dalam hal. 75. Selain itu setelah tanda petik (“) tidak ada spasi.

  Wah, Mbak Iyem kecewa berat ya?” Komen Bu Kanjeng.

Seharusnya…

“Wah, Mbak Iyem kecewa berat ya?” komen Bu Kanjeng.

Selanjutnya ada  paragraf yang ditulis sama sehingga membuat pembaca bingung yaitu hal. 149 dan 154 Malik berlari sekencang mungkinke arah gunung..... dst.

Walaupun ada kekurangan yang relatif sekitit, buku ini layak dibaca dan dimiliki. Selamat membaca.

Salam literasi

19 Desember 2022

 

 

Selasa, 29 November 2022

Bakwan Jagung dari Anak Menantu



                 dokumen pribadi 

Pagi-pagi anak menantu mengirim bakwan jagung dan sayur asem. Anak yang kini sedang mengandung ini sudah mulai senang masak. Beda saat usia kandungan sebelum bulan kelima. Hampir tiap hari mual sehingga tidak pernah memasak. 

Setiap hari suaminya siaga dengan menu siap makan. Tentu saja suaminya harus mencari sesuai keinginan. Menurut anak menantu, ia akan mual jika ada bau masakan apa saja.

Syukur Alhamdulilah kini sudah baikan, memasak pun jadi terbiasa lagi. Jika ada masakan berlebih, Ia selalu mengirim masakan seperti pagi ini. Anak menantu yang tinggal tidak jauh dari kami selalu memperhatikan kami yang sudah lansia.

"Ibuk, gak usah masak. Nanti Enik kirim,” ucapnya setiap akan masak. Kebetulan sebelumnya memang ada gagasan untuk memasak sayur asem.

"Oke, siap, nanti bahan yang belum ada ambil saja di kulkas,” balasku sambil membuka kulkas. Saya  keluarkan lombok, tomat dan jipang untuk melengkapi.

"Tomat sudah adak kok Buk,” jawabnya sambil mengambil lombok.

"Selang beberapa jam, masakan telah ada di meja makan. Saya dan suami pun langsung sarapan.

"Hemm enak,”ucap suami memuji masakan sang Menantu. Saya pun mencicipinya. Suami pun menyahut kembali katanya kurang garam sedikit. Namun, rasanya tetap nikmat bukankah seusia kami  harus mengurangi rasa asin.  

Lain waktu, kami pun jika ada jajanan walaupun mungkin tidak banyak selalu saya sisihkan untuk anak. Kadang suami pun sering membelikan kelapa muda untuk kesehatan calon cucu. 

Ketika anak keluar rumah misalnya ke pasar, saya selalu ditanya untuk dibelikan apa yang saya suka. Itulah wujud perhatian anak pada orangtua. Kami sebgai orangtua tentu sangat senang dengan usahanya untuk membahagiakan orangtua.

Hubungan saya dan menantu amat baik. Kami pun saling memberi jika ada masakan berlebih. Atau justru kami masak berlebih agar bisa untuk dua keluarga.

Dari pengalaman tersebut kita bisa mengambil manfaaat bahwa menjalin keharmonisan dengan anak menantu atau anak sendiri  itu wajib. Bagi anak menjalin keharmonisan dengan orangtua itu wajib juga. 

Anak menantu sudah kita anggap anak sendiri begitupun. Cara tersebut wujud bakti anak pada orang tua. Walaupun ada pepatah yang mengatakan bahwa jika anak memberikan bintang berjuta harta, namun itu semua belum cukup untuk membalas kasih cinta seorang ibu. Namun yang utama anak sudah berusaha baik itu sudah bagus.

Hanya dengan saling memberi bisa menjadi ikatan batin baik. Bakwan jagung pun bisa menjadi sarana menjalin hubungan menantu dan mertua menjadi baik. Kita harus  bisa saling ngemong, saling pengertian agar jalinan kedua pihak bisa mewujudkan keluarga bahagia.A

Ambarawa, 30 November 2022

 

 

 

Minggu, 10 Juli 2022

Tradisi Idul Adha yang Belum Pudar

 




Syukur Alhamdulillah hari ini saya dan keluarga bisa melaksanakan salat idul Adha. Kali ini tak seketat dulu dengan memakai masker. Namun, beberapa orang ada yang tetap mematuhi protokol kesehatan. 

Pagi sekali saya sudah mempersiapkan kupat, opor dan sambel goreng dalam rantang. Tak lupa bawa piring dan sendok. Ini semua untuk persiapan makan bersama di halaman masjid. 

Kami salat idul Adha di masjid A'Taqwa Kaliputih. Ketika saya dan keluarga sampai di masjid, suasana sangat ramai. Di halaman masjid juga penuh dengan ibu-ibu serta anak-anak.Sedangkan di dalam khusus jemaah pria. 

Sebelum salat, panitia mengumumkan daftar yang ikut kurban. Alhamdulillah bisa terkumpul dua sapi dan sembilan kambing. Alhamdulillah pula kami bisa menjadi bagian tersebut.



Salat berjalan lancar dengan imam Bapak Abdul Wahid. Namun, pengeras suara kurang bagus sehingga suara kurang jelas. Intinya berisi memaknai hari kurban. 

Usai salat, ada tradisi yang selalu dilaksanakan yaitu berdoa bersama untuk arwah leluhur. Kami tidak langsung membubarkan diri tetapi bersama-sama membaca dzikir tahlil yang dipimpin oleh Pak Abdul Wahid. Kami khusuk melafalkan doa bersama. 

Dzikir dan tahlil selesai dilanjutkan makan bersama. Segera anak menantu mengambil bawaan kupat dan lauk yang diletakkan di depan teras rumah warga yang berada di dekat masjid. 

Ibu-ibu lainnya juga sama. Mengambil bawaan yang sudah dipersiapkan dari rumah. Kami berkelompok dengan keluarga masing-masing. Ada juga yang berbarengan duduk melingkar untuk makan bersama. Sedangkan bapak-bapak berada di teras masjid. 

Kupat sudah saya belah. Lauk opor dan sambel goreng kentang dan ati tertata di rantang penuh menggoda. Yang namanya lontong opor atau kupat disukai anak-anak. Jadi tak rugi masak sendiri. Kali ini semua saya masak sendiri. Kebetulan anak dan ada acara lainnya. Jadi dari pagi sampai siang saya rempong memasak menu kesukaan keluarga. Alhamdulillah semua makan dengan lahapnya. 

Kami pun pulang lewat samping masjid sambil melihat sapi dan kambing yang siap jadi kurban.

Alhamdulillah tahun ini kita bisa melaksanakan salat idul Adha dengan baik. Walaupun ada perbedaan kita tetap menghargai perbedaan tersebut. 

Alhamdulillah beberapa jam setelah pulang dari masjid. Dua tas berisi daging kambing dan sapi sebagai bagian dari Sohibul Qurban kami terima. Siap-siap buat sate nih. 

Selamat hari raya idul Adha saudaraku. Semoga kita bisa memaknai hari raya idul Adha dengan selalu meningkatkan iman dan taqwa. 

Ambarawa, 10 Juli 2022

Tulisan ke-31

Menulis blog bersama Omjay 


Sabtu, 09 Juli 2022

Serunya Lava Tour Jeep Adventure

 


Hari Selasa, 5 Juli 2022 keluarga besar Gridaba mengadakan _dolan bareng_ ke Yogyakarta. Berbagai objek kami kunjungi. Objek pertama adalah ke Kaliurang Yogyakarta untuk mengikuti lava tour dengan jeep. 

Saat itu saya dan suami sudah sampai di depan pasar Kebumen Banyubiru pukul 06.30. Sepeda motor kami titipkan di rumah Bu Nur Mualifah. Suasana depan pasar Kebumen amat ramai oleh kami. Tempat ini menjadi titik kumpul berangkat. Kaus merah bata mewarnai pagi hari. Bus pun datang. Kurang lebih pukul 07.00 kami meluncur ke Yogyakarta. Wajah para guru amat ceria.

Perjalanan yang indah kami nikmati.  Dalam bus kami bersendau gurau dan berkaraoke ria dengan lagu-lagu merdu. Kami bersama-sama menyanyi. Ibu Mia dan suaminya tak ketinggalan meramaikan dengan lagu-lagu yang enak. Saya dan suami pun ikut serta dengan suara kami yang belum semerdu lainnya. Hee modal berani saja. 

Kota demi kota kami lalui. Suasana pagi itu amat ramai. Lalu lintas lancar. Tak lama kemudian kami sampai di Kaliurang Yogyakarta. Tampak lalu lalang orang menggunakan Jeep banyak sekali. Kami segera turun dari bus lalu memilih Jeep yang sudah berjejer di sebuah lapangan kecil. Satu Jeep diisi 4 orang. 

Suasana tempat tersebut sudah ramai dengan pedagang kaca mata, buah salak.  Pedagang kacamata pun dikerubuti ibu-ibu. Saya tak ketinggalan  membeli kacamata. Hee kaya ABG saja.

Kelompok kami terdiri dari saya,  suami, dan Pak Edy beserta istrinya. Kami pun  naik Jeep yang agak tinggi dari mobil pada umumnya. Helm kecil sudah kami pakai. Siap melakukan lava tour. Rasa penasaran terus menggurita. Seperti apa ya nanti?

Satu persatu Jeep melintasi jalan secara beriringan.  Kurang lebih 11 Jeep yang kami sewa. Awal petualangan yang seru.  Saya yang duduk di depan berpegangan erat pada besi-besi yang di samping kanan kiri. Mas Sopir mengendarai Jeep cukup kencang sehingga kami harus hati-hati. 

Beberapa menit kemudian kami sampai Bungker Kaliadem. Hanya beberapa meter dari parkir mobil, kami memasuki bungker yang sudah tidak terpakai. Bunker ini adalah tempat menyelamatkan diri dari larva. Namun, justru di tempat inilah para pekerja hangus terbakar oleh lahar panas. Menurut pemandu ada dua orang ditemukan sudah terbakar di pintu. 

Hanya beberapa saat kami berada di bunker. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan kembali sampai di lereng gunung Merapi. Terbayang saat dulu gunung Merapi meletus. Kanan kiri jalan adalah tempat penduduk yang kini sudah berubah jadi kebun dengan aneka tanaman. Rumput -rumput hijau tumbuh subur. Konon kebun tersebut dulu terbenam lumpur. Sedangkan sungai sebelah kanan kata Mas Sopir sampai penuh dengan lumpur akibat gunung Merapi meletus. Ada beberapa bekas bangunan yang tinggal puing-puing. 

"Lha penduduk di sini sekarang di mana Mas?"

"Sekarang semua penduduk sudah dibuatkan rumah oleh pemerintah yang jauh dari sini."

"Lha rumahnya Mbah Marijan mana Mas?" tanyaku lagi. 

"Oh masih ke atas Bu," jawabnya sambil mengendarai dengan gesit. 

Perjalanan yang menyenangkan sambil ngobrol-ngobrol sana sini. Mas  Sopir menjawab dengan ramah. 

Akhirnya kami sampai di sebuah sungai yang ada genangan air. Sepertinya tempat yang sudah dipersiapkan untuk berbasah ria dengan Jeep. Beberapa Jeep ada yang masuk ke objek ada juga yang keluar. Tak sabar rasanya sampai di sungai yang tidak mengalir. Hanya beberapa titik ada kubangan air. 

Tak lama kemudian Jeep kami melintasi kubangan air. Kami pegangan erat sekali. 

"Haaaa!" Kami teriak panjang ketika Jeep persis di kubangan. Mau tak mau air muncrat mengenai tubuh. Selanjutnya naik dari sebentar lalu ke kubangan lagi begitu seterusnya sampai berulang kali putaran. Pada kubangan terakhir kami berteriak keras karena air mengenai tubuh kami semua. Kaus dan celana panjang pun basah kuyup. Inilah keseruan yang kami nikmati. Benar-benar berkesan deh. 

Setelah beberapa kali putaran kami kembali ke tempat awal. Walaupun badan basah, kami bisa menikmati keseruan ini. Sampai di tempat awal ternyata banyak yang tidak basah. Karena basah, saya segera mencari tempat kamar mandi untuk bersih-bersih dan ganti baju. Banyak kamar mandi yang tersedia dengan membayar murah. 

Tak terasa perut lapar. Sebelum makan kami salat dulu di belakang  rumah makan. Menu istimewa telah tersedia. Saya dan suami makan siang dengan lahapnya.  Alhamdulillah sebuah pengalaman indah bisa kami nikmati dengan penuh kegembiraan. 

Ambarawa, 9 Juli 2022

Tulisan ke-30

Menulis blog bersama Omjay 

Kamis, 07 Juli 2022

Telaga Menjer Wonosobo


 

Objek wisata terakhir jalan-jalan kami ke Dieng adalah ke Telaga Menjer. Objek wisata ini sekaligus perjalanan pulang. Kami melewati tempat awal tadi pagi. Jalanan kali ini menurun dengan pemandangan indah yang tak ada bosannya.


Sesaat sebelum sampai terlihat pipa besar berada di samping jalan yang kami lalui. Kami saling depan tentang pipa ini. Ternyata pipa ini adalah untuk mengalirkan air dari telaga ke tempat penampungan yang akhirnya menjadi pembangkit listrik. 


Sampai di tempat tujuan terdengar suara nyanyian yang amat keras. Awalnya saya mengira ada pertunjukkan tetapi suara tersebut adalah suara nyanyian dari tape recorder. Oalah keras sekali. 


Selanjutnya kami masuk objek dengan membayar sepuluh ribu rupiah. Telaga tak jauh dari tempat pembelian karcis. Hanya beberapa meter saja kami sudah berada di pinggir telaga Menjer. 

Sebuah tulisan besar berada di  depan. Belakangnya telaga Menjer dengan air yang jernih dan tenang. Suasana objek ini sepi. Hanya beberapa orang saja yang terlihat. 

Di sebelah kiri telaga banyak sekali perahu yang bersandar di pinggir telaga. Hanya satu dua yang sedang berjalan. Untuk bisa naik perahu kalau banyak temannya setiap penumpang dipatok harga 20 ribu. Namun, jika tak banyak kami harus menyewa 150 ribu. 

Kami memutuskan tidak naik perahu. Kami hanya berfoto sejenak sambil menikmati indahnya Telaga Menjer di Seorang ibu membantu mengambil gambar. Tampaknya sudah terbiasa. Saya pun mengambil uang untuk saya masukkan kotak  yang tersedia sebagai jasa pengambilan gambar. 

Selanjutnya kami keluar objek untuk ke kamar kecil lalu salat qosor salat dhuhur dan ashar karena kami akan melakukan perjalanan lagi. 

Tak lama kemudian kami sampai di rumah saudara. Hanya sejenak untuk berpamitan. Kami pun pulang menuju rumah. Sebelumnya kami mampir sejenak di rumah makan Kledung yang amat bagus. Berbeda dengan saat memasuki Wonosobo. Ada view berfoto di kaca, taman dengan keindahan alam gunung Sindoro. Kami pun pulang menuju Ambarawa. 

Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat. Puji syukur kehadirat Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kami. 

Ambarawa, 7 


Candi Arjuna Wonosobo

Salah satu destinasi wisata yang menarik di Wonosobo ini adalah di candi Arjuna. Karcis terusan dari Kawah Sikidang adalah objek candi Arjuna. Akhirnya kami meluncur ke objek ini. Seperti objek lainnya, halaman parkir penuh. Kami masuk objek dengan berjalan kaki pada jalan yang lurus datar dengan kanan kiri tanaman bunga yang indah. Selanjutnya kami tunjukkan karcis lalu kami masuk.

Beberapa orang lalu lalang. Ramai sekali. Banyak yang sudah berbalik dari Candi Arjuna. Rupanya objek wisata ini menarik perhatian pengunjung. Mungkin masih liburan jadi terus ramai. Candi sudah tampak dari kejauhan. Sebelum masuk area ada dua remaja cantik memberi kain segi empat bercorak kotak yang berwarna hitam putih.

"Mbak bayar berapa?" tanyaku penasaran.

"Seikhlasnya Bu, " jawabnya ramah.

Selanjutnya kain tersebut kami pakai dengan mengikatnya di pinggang. Hemm bagus juga. Candi Arjuna sudah di depan mata. Candi menjulang tinggi ini masih utuh. Suasana ramai sekali. Sebagian besar sedang mengabadikan momen bersama keluarga, teman atau pasangan.

Matahari mulai menyengat tubuh karena hari telah siang. Kami berempat memilih duduk-duduk sambil memandang kemegahan candi Arjuna.

Candi Arjuna merupakan salah satu candi peninggalan agama Hindu. Candi ini merupakan candi Hindu pertama di Jawa.

Candi Arjuna sendiri  pada abad ke-7.

Karena cuaca panas dan pengunjung banyak, akhirnya kami memutuskan untuk kembali. Apalagi azan berkumandang. Kami tata kembali kain lalu kami kembalikan. Suami memasukkan uang pada bok yang tersedia. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih.

Kami pun menuju parkiran mobil lalu menuju objek lain sekaligus mencari tempat untuk melaksanakan ibadah salat dhuhur.

Tulisan ke- 28

Menulis blog bersama Omjay


Indahnya Batu Pandang Ratapan Angin

 


Ini objek yang paling bagus menurut saya. Baca tulisan itu saja sudah menarik. Seperti apa ya? 

Objek wisata ini menarik karena pengunjung bisa melihat pemandangan telaga warna dari ketinggian. Woh pasti seru. Saya pun penasaran. Setelah mobil diparkir, pemandangan yang ada adalah bebatuan yang ada di sekitar objek. Banyak sekali bebatuan tinggi yang di bawahnya ada perkebunan penduduk. 

Kami masuk objek dengan membayar lima belas ribu rupiah. Jalanan menanjak. Untung saya memakai sepatu jadi nyaman untuk berjalan. Objek ini berada di ketinggian dengan batu-batuan yang terjal.  Hemm harus ekstra hati-hati. Tadi petugas karcis menyarankan untuk menyimpan karcis karena ada asuransi. Itulah sebabnya ada asuransi karena medannya amat membahayakan jika tidak hati-hati. 

Kami pun menuju spot pertama. Kami naik pada bangunan kecil seperti gazebo. Up .. dengan bantuan anak saya naik ke atas. Tampak telaga begitu indah. Benar-benar memukau pemandangannya. Beberapa orang sedang mengambil gambar dari bangunan ini. Sedangkan yang akan difoto ada di atas batu yang terletak di bawahnya. Kami harus antre untuk bisa foto di atas batu dengan background telaga warna. 

Sesaat saya dan suami serta anak sudah dekat batu menunggu giliran. Sesaat saya teriak seolah mengingatkan pada orang lain untuk hati-hati. Agak miris juga kala saya sudah duduk di atas batu yang bawahnya ada tebing.  Alhamdulillah kami bisa mengabadikan momen terindah.

Selanjutnya kami turun untuk menuju spot lain. Saat menuju spot lain ada seorang yang membawa burung hantu. Saya hanya lewat saja sambil melihat beberapa anak kecil berfoto dengan binatang yang berwarna putih.

Kini kami memasuki taman yang ada tulisan ' Batu Pandang Ratapan Angin ' jalanan masih menanjak untuk ke spot lain. Di sisi kiri ada spot ayunan yang bawahnya tebing. Untuk yang ini hanya kami lewati. Saya berhenti sambil agak ngos-ngosan. Jalanan menanjak terus untuk sampai pada gardu yang berada di bebatuan tinggi. Ada jembatan untuk mencapai ketinggian tersebut. 

Suami berjalan ke atas. Penasaran dengan spot itu. Saya gak kuat untuk naik karena benar-benar menguras tenaga. Saya dan anak menantu memilih duduk di depan warung yang berada di bawah. Kita bisa melepas lelah dengan beli minuman sambil menikmati pemandangan telaga warna. Sungguh nikmat sekali. 

Tak lama kemudian suami dan anak lanang turun. Kami pun bersama kembali ke parkiran mobil untuk menuju objek wisata selanjutnya. 

Tulisan ke-27

Menulis blog bersama Omjay 



Kawah Sikidang Wonosobo

 


Jalan-jalan ke Dieng belum lengkap rasanya jika belum ke kawah. Hari masih pagi ketika kami sampai di objek wisata kawah Sikidang. Selanjutnya kami parkir di halaman depan pertokoan. Sudah banyak mobil diparkir. Banyak pula yang menawari untuk naik jep  yang bisa berkeliling objek. 

"Berapa pak?

"Tiga ratus ribu Bu." jawab seseorang yang bertopi sambil menawarkan jasa jepnya.

Kami memutuskan tidak naik jep. Kami pun berjalan menuju pos karcis. Per -orang bayarnya dua puluh ribu sudah termasuk masuk ke objek candi Arjuna. 

Segera kami memasuki setelah anak membeli karcis. Beberapa orang berjaga di depan pintu. Ketika kami masuk sudah bisa kami lihat ada patung binatang kidang. Selanjutnya kami berjalan menuju kawah. Tempat berubah dari saat awal ke sini. 

Selain ada taman dengan bunga-bunga cantik, ada jembatan panjang yang terbuat dari kayu jati. Jembatan ini amat cantik untuk berfoto dengan latar Kawah. Saya pun berjalan menuju kawah. Aroma belerang mulai terasa di hidung. Masker pun kami pakai. Kanan kiri jembatan ada spot-spot foto yang bagus dengan aneka bunga.  

Tak lama kemudian kami sampai di kawah Sikidang. Air belerang yang berwarna putih keabuan amat pekat mendidih. Suaranya jelas dan bisa kami lihat dari dekat di balik pagar pembatas. 

Usai ambil foto kami melanjutkan berjalan keluar dari kawah dengan masih melewati jembatan tadi. Jembatan ini kalau dari awal masuk bentuknya melingkar di area luar kawah dengan pemandangan indah. Sesaat saya berhenti. Mengamati pohon yang mengering dengan bebatuan yang hitam. Konon beberapa tahun lalu objek wisata ini ditutup  karena  kawah aktif. 

Kami terus berjalan untuk keluar dari kawah. Namun, kami harus melewati para pedagang kurang lebih sembilan putaran.  Wohh... siap-siap kaki harus kuat.  Kalau tidak lewat jalur ini tentu saja tidak bisa keluar. Ya nikmati saja. Lelah ya istirahat. 

Kami terus berjalan dengan pemandangan pedagang yang menjajakan dagangannya. Yang paling banyak ditawarkan adalah carika yang murah harganya. Selain itu ada kaus, belerang yang dibungkus plastik kecil yang bisa mengobati penyakit kulit. Ada aneka kerupuk mentah, keripik kentang, kentang mentah dan lainnya. Saat lelah kita bisa juga membeli minuman. Ada juga makanan siap santap. 

Saat itu saya justru tertarik dengan makanan yang terbuat dari kelapa dan tepung beras yang dicetak kemudian dibakar di atas tungku dengan bara arang. Namanya rangin. Enak rasanya. 

Sambil istirahat saya pun membelokan kaus untuk keluarga yang di rumah. Tentu saja harus ditawar. Alhamdulillah beberapa kaus bisa kami dapatkan. Kami pun menuju parkiran mobil. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan menuju candi Arjuna. 

Oke tunggu cerita selanjutnya ya teman-teman. Pokoknya seru deh objek wisata Dieng ini. 


Tulisan ke-26

Menulis blog bersama Omjay 

Jalan-jalan ke Dieng

 (1) Sarapan Nasi Megono


Sudah lama sekali punya keinginan pergi ke Dieng bersama keluarga. Sebenarnya dulu waktu anak saya masih kecil pernah sekali ke Dieng. Namun, kali ini keinginan kembali hadir. Alhamdulillah bersamaan dengan acara keluarga di Wonosobo, kami sempatkan untuk pergi ke Dieng walaupun hanya berempat. Saya, suami dan anak kedua beserta suaminya. 

Pagi sekali, saya dan suami sudah siap di depan hotel Sindoro Sumbing. Kami menambah satu hari menginap untuk bisa berwisata ke Dieng. Tepat pukul 6.30 kami keluar dari hotel. Semua barang sudah saya masukkan dalam mobil. Jadi sepulang dari Dieng kami bisa langsung pulang. 

Senin pagi, 4 Juli 2022 jalanan kota Wonosobo sudah ramai. Lalu lalang mobil tiada henti. Kami  akan mencari makan pagi dulu. Setelah menemukan tempatnya kami berempat duduk lesehan di dekat alun-alun Wonosobo. Menu yang jarang sekali saya ketahui yaitu nasi  Megono 

Beberapa menit kemudian, nasi Megono dibawa oleh seorang pemuda menuju ke tempat kami duduk. 

"Oh ini to, saya sudah pernah makan nasi ini,"ucapku

"Ini enak lho Buk," puji anak menantu. 

"Ini kan nasi dicampur urap gori atau nangka muda kan?" 

Anak menantu berkilah kalau nasi megono Wonosobo tidak ada nangka muda. 

Kami pun menikmati nasi megono Wonosobo dengan lahapnya. Saya pun merasakan lezatnya nasi ini . Ternyata tidak sama dengan yang pernah saya makan di daerah lain. Nasi yang sudah tercampur urap sayuran memang lebih gurih. Apalagi ada lauk kering dan tempe mendoan serta teh manis yang hangat. Tak perlu merogoh kocek yang banyak untuk makan pagi ini. 

Usai makan saya mendekati penjual yang sedang melayani pembeli.

"Buk, ini sayuran apa kok gurih sekali, apakah ada nangka mudanya?" tanyaku

"Ini bukan nangka muda tapi itu lho buk, kubis yang daunnya besar diberi bumbu lalu dimasak jadi satu,  " jelas ibu yang masih muda dengan senyum. 

"Enak lho Buk," pujiku

"Terima kasih sekali Buk," ucap ibuk penjual ramah. 

Kami pun meninggalkan alun-alun dengan perut kenyang. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan menuju Dieng. 

#Tulisan ke - 24

#Menulis blog bersama Omjay 



Sabtu, 02 Juli 2022

Green Canyon Pangandaran

 


Salah satu objek wisata di Pangandaran yang kami kunjungi dalam acara Gathering Family beberapa bulan lalu ini adalah Green Canyon Pangandaran. Saya ikut penasaran saat itu. 


Mobil diparkir di seberang jalan pintu masuk objek wisata Green Canyon.  Kami turun dari bus kemudian bersama-sama menyebarang jalan. Kami mengikuti Mas TL menuju sebuah sungai. 

Dari tempat pembelian karcis jalan menurun.  Kami dikelompokkan dalam 5 sampai 6 orang untuk masuk ke perahu. Telah berjajar perahu bercat warna- warni di pinggir sungai yang jumlahnya lumayan banyak. Kami berlima langsung masuk perahu mesin. Waktu itu saya bersama Bu Nur Mualifah, Bu Nur S.  dan dan dua teman lainnya. 

Perahu lainnya sudah terisi. Bersama kami menyusuri sungai yang warnanya hijau. Perlahan perahu bergerak. Kami semua wajib memakai pelampung. Sepanjang sungai kami bisa menikmati keindahan alam. Tepi sungai tumbuh daun-daun yang subur. Suara deru mesin perahu dan suara air menyatu dalam hening sambil memandang pohon-pohon yang menjulang tinggi. 

Pada pertengahan naik perahu ada rumah di pinggir sungai. Kami diajak merapat untuk sekadar istirahat untuk beli makanan atau minuman. Namun, kami memilih melanjutkan perjalanan. Hawanya sejuk terasa sambil terus melihat air sungai. 


Betapa senangnya ketika kami bisa melihat batu-batu tebing yang berada di pinggir sungai. Batu-batu terus menitikkan air. Batu-batu yang indah makin membuat hati bahagia. Sampai di ujung terakhir sungai ada batu dengan sumber air yang deras dan jernih. Beberapa teman berani naik di atas batu sambil menikmati air yang berada  sekitarnya. Ujung sungai ini pemandangan paling bagus. Butuh keberanian untuk bisa naik. Ya dari perahu tampak licin. Saya beserta teman-teman tak berani naik. Kami pun berputar balik. Kurang lebih setiap perjalanan membutuhkan waktu 15 menit pulang pergi. Kadang kami saling sapa dengan perahu teman. Saling tawa bersama saat berpapasan. 

Tak terasa 30 menit berlalu. Menikmati sungai di Green Canyon Pangandaran dengan penuh kebahagiaan. Menikmati keindahan alam ciptaan-Nya yang sangat luas biasa. Alhamdulillah kami menepi bersama untuk menuju bus.  Berdasarkan papan yang berada di depan tertulis bahwa setiap perahu disewakan dengan harga 200 ribu. 

Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. 

Wonosobo, 2 Juli 2022

Tulisan ke -23 

Menulis blog bersama Omjay 


Kledung Park Wonosobo




Setelah menempuh perjalanan selama dua jam kami akan singgah sejenak untuk salat dhuhur dan makan siang. Sebenarnya satu jam lagi akan sampai di tempat tujuan kami yaitu Wonosobo. 

Akhirnya kami memutuskan untuk singgah di tempat yang menarik, yaitu Kledung Park. Sebenarnya tempatnya dekat dengan Wonosobo tetapi setelah saya tanyakan pada anak Kledung Park masuk wilayah Temanggung. 

Tempat yang menarik ini berada di jalan raya menuju Wonosobo. Pas masuk area, ada pemuda menyambut dengan ramah sambil menyodorkan kartu parkir lima ribu yang dibayarkan pas pulang. Awal turun dari mobil suasana sejuk dengan pemandangan nun jauh di sana ada Gunung Sindoro dan Sumbing. Tampak biru yang memukau. 





Segera kami masuk lewat jalan tengah. Sementara kanan kiri jalan ada sebuah taman dengan bunga bermekaran. Hanya beberapa meter, ada bangunan bertingkat dengan lantai atas terbuka. Itulah cafe yang menyajikan aneka menu menarik. 

Aneka menu tersedia yang tertulis di loket pemesanan. Ada nasi goreng, bakar, bakso dan menu ringan, kentang goreng, mendoan dll. 

Saya pun pesan nasi bakar jamur, anak juga nasi bakar, sedangkan suami pesan nasi goreng seafood. Minuman pun kami pesan. Kamu tak ingin yang kenyang banget karena sebentar lagi sampai tujuan yang pasti ada jamuan makan.

Kami pun naik ke lantai dua. Di lantai dua ini ruangan terbuka dengan kursi-kursi yang melingkar atau mengadap luar. View yang menakjubkan benar-benar menjadikan suasana jadi nyaman. Tampak Gunung Sindoro dan Sumbing yang biru memesona.Tak lama kemudian menu datang. Kami pun makan sambil menikmati pemandangan yang indah. 

Belakang cafe ada juga taman kelinci, ada juga sarana menembak dan yang menarik ada tempat camping dengan tenda yang telah disediakan. Woh menarik juga nih untuk acara keluarga. 

Usai makan kami salat di bawah sebelah cafe. Tempatnya bersih. Sejenak kemudian kami keluar dari cafe menuju tempat parkir. Suasana amat ramai sekali karena weekend. 

Satu jam kemudian kami sampai di rumah saudara. Alhamdulillah. Suasana dingin menyentuh tubuh saat kami sampai di penginapan. 

Wonosobo, 2 Juli 2022


#tulisan ke-22

# menulis blog bersama Omjay 





Kamis, 30 Juni 2022

Suatu Pagi di Pantai Pangandaran

 


Pagi sekali kami berempat sudah bangun karena kami akan ke pantai agar tidak kepanasan. Apalagi saat itu, pagi-pagi sekali seorang teman sudah memposting keindahan pantai. Kami pun rasanya tak sabar untuk turun ke lantai satu dan bersama-sama menuju pantai. Pantai pangandaran tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Jalanan sepi pagi itu. Hanya beberapa toko yang sudah buka. Aneka pakaian batik, kaus terpajang di toko-toko menuju pantai. Sebenarnya pengen belanja tetapi kami memutuskan untuk belanja pas pulang dari pantai.

Kami berjalan beriringan sambil bersendau gurau. Kebersamaan yang indah. Kami, para ibu ini bisa sampai juga di bibir pantai. Ternyata para bapak sudah sampai juga di sini. Pemandangan indahnya pantai Pangandaran sudah di depan mata. Berwisata ke pantai tak ada bosannya. Deburan ombak menggetarkan hati. Birunya air benar-benar memukau. Ciptaa-Nya begitu indah.

Kami pun membaur dengan teman-teman lain. Di pantai Pangandaran ini banyak pemilik  perahu yang menawarkan untuk bisa naik. Beberapa teman naik perahu dengan penuh semangat. Saya dan beberapa teman lain memilih di bibir pantai untuk menikmatinya sambil mengambil gambar. Ya, biasalah emak-emak tak lepas dari berfoto ria dengan berbagai gaya. Inilah keseruan antara kami. Kebahagiaan benar-benar terasa di antara kami.

Sejenak kemudian kami tertarik dengan nasi pecel yang dijual oleh –oleh seorang ibu paruh baya. Ibu itu membawa bakul dengan pecel dan lauk bakwan. Air liur tergerak untuk membeli. Kami pun menikmati nasi pecel menggunakan wadah dari daun pisang. Seger deh saat perut belum terisi.  Selain pecel, Ibu e penjual juga jual ikan asin yang lumayan besar. Kalau beli ini harus ditawar ya teman-teman.


Tak terasa sudah lama kami menikmati pantai Pangandaran. Selanjutnya kami membersihkan kaki yang penuh dengan pasir di tempat yang tak jauh dari pantai dengan membayar dua ribu atau tiga ribu. Kami berjalan keluar dengan kaki bersih. Sepenjang jalan menuju hotel banyak toko yang sudah buka.

Di jalan kami sesekali berhenti untuk membeli sawo yang bagus bentuknya. Kami pun membeli dengan harga dua kilo 25 ribu. Lumayan murah deh. Tak lupa kami melihat-lihat di kios dan toko yang sudah buka. Tawar menawar tetap dilakukan agar tidak kemahalan. Alhamdulilah saya mendapatkan beberapa kaus untuk kenangan bahwa sudah singgah di pantai Pangandaran. Akhirnya kami masuk hotel untuk bersih-bersih, makan pagi dan melanjutkan perjalanan ke objek lain.

 

Ambarawa, 30 Juni 2022

#tulisan ke-21

#menulis blog tiap hari bersama omjay

 

Rabu, 29 Juni 2022

Eling Bening, Objek Wisata dengan View Rawa Pening





Masa pandemi sudah agak reda, objek wisata pun kini jadi incaran para pelancong yang ingin berekreasi. Objek wisata yang selalu ramai dikunjungi dan viral di Kabupaten Semarang adalah Eling Bening. Eling Bening yang berasal dari Jawa ini berarti eling : ingat, bening: jernih. 

Menurut pemilik objek wisata ini berharap bahwa saat pergi ke tempat ini, kita selalu ingat akan Tuhan dan hati pun jadi jernih. Benarkah ini?

Pukul 15.30 ada notifikasi dari teman kuliah waktu di IKIP Semarang yang mengabarkan bahwa ia berada di Eling Bening. 

[Sampai pukul berapa, Dik Tut?]

[Bersama keluarga atau teman sekolah?]tanyaku lewat WA

Dia pun menjawab bersama teman sekolah lama dan ini objek wisata terakhir. Karena kurang jelas, saya pun menelpon. 

Kira-kira pukul 16.00 saya diantar anak sampai ke Eling Bening. Tempat yang sudah beberapa kali saya kunjungi. Saya pun masuk objek sendiri dengan membayar karcis dua puluh lima ribu rupiah. Saya berjalan sambil mengabarkan jika saya sudah di Eling Bening.  

"Saya berada di bawah yang ada naganya," ucapnya dalam telepon. 

Saya berjalan sambil melihat tempat ini yang agak lama belum ke sini lagi. Tampak bangunan depan masih sama. Gedung putih bertingkat yang bertuliskan Eling Bening. Tempat parkiran juga penuh padahal tidak hari Minggu. 

Segera saya menuju tempat yang ada naganya lewat jalan depan toko oleh-oleh dan Musholla. Agak ke selatan ada gedung terbuka yang bisa untuk duduk-duduk. Selanjutnya saya sampai di dekat patung naga yang berada di bawah.

Sebuah perahu buatan dengan berbentuk naga putih berada di sebuah ketinggian. Di bawah ada tebing yang terjal. Wohh...serem. Sebuah pemandangan dengan view Rawa Pening amat menakjubkan. Dari kejauhan air Rawa Pening amat bening dengan berlatar gunung Merbabu. Benar-benar indah view dari Eling Bening.

Tak lama kemudian kami bertemu. Kami saling berpelukan. Teman kuliah saat di IKIP yang berasal dari Tegal ini adalah sahabat lama yang dulu seperti kakak beradik. Ke mana pun selalu bersamanya. Bisa klop deh.




Kami pun melepas kangen dengan  saling berbagi cerita. Tak terlewatkan kami saling berfoto ria di atas ketinggian sambil memandang indahnya pemandangan.

Selanjutnya saya dipertemukan dengan teman-temannya. Tak lupa saya mengabadikan tempat yang bagus. Banyak perubahan yang ada di Eling Bening ini. Ada kolam renang dengan birunya tampak dari tempatku duduk. Karena penasaran saya pun mendekati kolam yang berada di bawah. 

Selain kolam ini dulu ada juga yang berada di atas yang dekat dengan kursi -kursi apik yang berada di pelataran. Sayangnya saya tidak ke tempat itu. 

Kolam yang di bawah ini ternyata lebih luas dan dalam. Pemandangan dari sini tak kalah indahnya. Sambil berenang atau sekadar duduk-duduk kita bisa melihat pemandangan yang memukau dengan angin semilir. Saya hanya bisa mengabadikan dari jauh. Namun, rasanya ikut merasakan sejuknya sore itu. 

Sejurus mata memandang ada juga tempat bermain khusus anak-anak.  Ada ayunan dan lainnya yang asyik. 

Karena sudah sore jelang Magrib, rombongan akan segera pulang. Kami pun berpisah. Rombongan teman akan pulang ke Tegal. Saya pun pulang ke rumah dengan naik ojol. Alhamdulillah pertemuan yang singkat tetapi berkesan. 

Untuk menuju objek wisata ini mudah kok. Umpama  dari Semarang atau Solo kita menuju terminal Bawen. Selanjutnya menuju jalan ke Ambarawa. Sebelum sampai Ambarawa, teman-teman belok ke kiri menuju objek wisata Eling Bening. Kurang lebih lima ratus meter sudah sampai. Yuk ke objek ini bersama teman atau keluarga pasti seru. 

Ambarawa, 29 Juni 2022

#tulisan ke-20

#menulis blog bersama Omjay

#salam literasi 



Senin, 27 Juni 2022

Suatu Malam di Pantai Pangandaran




Menikmati keindahan pantai kala malam hari dengan deburan ombak benar-benar mengesankan. Apalagi sambil menikmati makan malam. 

Perjalanan dari hotel ke tempat tujuan membutuhkan waktu agak lama karena macet. Ya, banyak pelancong yang ingin berwisata setelah lama sekali vakum.

Sebuah rumah makan dengan lampu temaram kami masuki. Kami langsung duduk di rumah terbuka dengan bentuk yang apik. Sinar lampu hias berpendar. Suasana makin indah.  Bangku tertata rapi. Sepanjang pantai banyak sekali rumah makan yang berada. Kami berada di tengah. 

Makanan kecil telah tersaji di dus kecil. Sambil menikmati jajanan kami mendengar deburan ombak. Pantai yang berada tak jauh dari tempat makan kami tak begitu jelas karena hari telah malam. Namun, kami bisa menikmatinya dari jauh. 

Sejauh mata memandang, ada lantunan lagu dari  sebuah panggung terbuka di rumah makan sebelah. Syahdu terasa. 

Acara inti pun dimulai yaitu pelepasan guru yang akan pindah tugas dan yang purna. Alhamdulillah acara berjalan lancar dengan seuntai kata dari dari kepala sekolah dan guru yang purna atau pindah tugas. 

Makan malam dengan ikan pun siap disantap dengan lahapnya. Kami duduk saling berhadapan menikmati makan malam dengan penuh ceria dan kebahagiaan. Semoga persaudaraan tetap langgeng walaupun kami saling berpisah. Hati tetap bersatu. 

Malam makin larut, kami pun pulang dengan membawa kebahagiaan. Sampai di hotel kami beristirahat dengan nyenyak. 


Ungaran, 28 Juni 2022

#tulisan ke -19

#menulis tiap hari bersama Omjay