Kamis, 23 Februari 2023

Gerimis Pagi

 GERIMIS PAGI

@Yanti

langit pekat

rintik menghujam 

bumi basah

gigil 

menyusup hati

Ambarawa, 24 Februari 2023

#puisi 2.0

#1



SECANGKIR KOPI 

@Yanti

secangkir kopi

hangatkan tubuh

jiwa tak rapuh

ukir jejak-jejak hari

menjemput pagi

merenda mimpi

Amb, 24 Februari 2023

#puisi 2.0

#2


DINGIN

@Yanti

dingin berlabuh

menggamit tubuh

tak usah berkeluh

jiwa bergelora 

walau usia sudah renta

semangat membara

terus melukis senja


Amb, 24 Februari 2023

#puisi 2.0

#3


JUMAT BERKAH

@Yanti

dendang hati

bisa berbagi

walau sebiji sawi


mengharap berkah

senyum merekah 

hati pun  bungah

Amb, 24 Februari 2023

#puisi 2.0

#4


SYUKUR 

@Yanti

rasa syukur terukir 

nikmat-Nya selalu hadir 

sehat jiwa raga bergulir


jalankan perintah-Nya

salat lima waktu jangan lupa

Amb, 24 Februari 2023

#puisi 2.0

#5














Selasa, 14 Februari 2023

RESENSI : Anakku Tabungan Masa Depan

 

Judul Buku                 : Anakku Investasi Masa Depanku

Penulis                         :  Sumintarsih

Penerbit                       :  Sip Publising

Tahun Terbit                : Oktober, 2022

SIPISBN                     : 929-220-900-010—7

Peresensi                     : Budiyanti

 

            Anak adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dengan baik.  Anak merupakan investasi bagi orangtua di kemudian hari. Jika kita mendidik dengan baik, suatu saat kita akan menikmati investasi tersebut dengan penuh kebahagiaan. Oleh karena itu, sebagai orangtua mempunyai kewajiban untuk mendidik dan mengantarkan anak menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak mulia dan  berbudi pekerti yang baik.

            Buku yang berjudul Anakku Investasi Masa Depanku menrpakan buku parenting yang bisa jadi referensi para orangtua mengantarkan anak-anak menjadi anak harapan bangsa dan keluarga. Buku bersampul merah biru karya Sumintarsih ini berisi pelajaran berharga terntang parenting. Ada dua puluh cerita yang bisa mengantarkan pembaca untuk bisa mengambil hikmah dari cerita parenting.

            Awal cerita pembaca disuguhnya sebuah cerita yang berjudul “Stop Memberi Label pada Anak”. Orangtua sering memberi lebel pada anak yang sering melakukan kesalahan. Misalnya dalam cerita ini ada anak yang membuat kesalahan yaitu memecahkan termos dan benda lainya. Kemudian kelurga memberi lebel si anak suka menjatuhkan barang seperti kalimat berikut.

            “Mi, Mi kok kamu hobi menjatuhkan barang?” kata Mbak Indah, kakak tertua Ami.(hal.6). Hal ini menjadikan anak terbebani. Hikmahnya kita bisa memberi penjelasan baik-baik pada anak agar anak tidak mengulangi perbuatan yang kurang baik. Pemberian label akan menjadikan anak merasa bersalah. Inilah yang akan menjadikan perkembangan jiwa anak terganggu.

            Dalam cerita parenting kedua, pembaca diajak bercerita seorang anak yang ingin didampingi ketika awal sekolah di TK. Banyak orangtua menunggui anak ketika masih di TK. Hal ini terbukti jika sekolah TK ibu-ibu. Pada cerita ini penulis ingin memberi pembelajaran bahwa sebagai orangtua harus menyesuaikan diri agar anak disiplin, mandiri dengan menyesuaikan limgkungan, Jadi, jika anak disarankan untuk tidak ditunggui, kita harus bisa mengikuti saran guru. Lingkungan sangat menentukan perkembangan anak (hal.11).

            Sebagai orangtua biasanya akan merasa tidak enak jika tidak bisa memenuhhi harapan anak. Apalagi sampai anak merengek minta mainan. Hal ini sering terjadi di mana-mana. Inilah yang akhirnya menjadikan anak mempunyai senjata agar dipenuhi permintaannya. Nah, pada certia ketiga, pembaca disuguhkan cerita tentang anak yang selalu merengek jika ingin dibelikan mainan. Namun, di sisi lain Bunda Uun tidak pernah membeli mainan anak secara langsung tetapi anak diajak jalan-jalan lalu diskusi dengan anak tentang mainan yang diinginkan. Selanjutnya anak disuruh menabung. Seperti yang disampaikan pada halaman 17, ada 5 tips mengatasi anak yang ngambek yaitu, anak diajak berinteraksi, membuat kesepakan, dan mengajarkan menabung.

            Pada era digital ini, anak-anak kadang ingin juga bermain game atau melihat youtube dari HP orangtua. Awalnya biasa saja, tetapi anak-anak kecanduan. Pada bab selanjutnya dalam buku ini dipaparkan bahwa anak sebaiknya diberi kesibukan agar tidak bermain dengan gawainya. Penulis pun memberikan pembelajaran lewat cerita orangtua yang mengajak berkegiatan selama sepekan. Mulai, mengajak ke perpustakaan, mengajak ke mall, mengajak ke penjahit, mengajak ke pakan ikan dan ke panti asuhan.  Semua kegiatan berdampak positif. Anak mengenal perpustakaan, arti jalan sehat, dan belajar memasang kancing dan pelajaran lainya. Orangtua perlu memberi arahan untuk berkegiatan bersama (hal. 24). Dalam sepekan bisa berkegiatan bersama akan menambah wawasan anak. Anak pun akan tidak bergantung pada HP.

            Pembelajaran parenting dalam buku ini bisa kita lihat dalam cerita-cerita yang menarik. Contohnya, belajar naik sepeda, bermain dengan alam, bermain sambil menjaga adik dan cerita-cerita menarik lainnya lalu kita bisa mengambil hikmah dari cerita parenting dalam buku ini.

            Buku ini dikemas dengan diawali cerita yang menarik sehingga pembaca akan mudah memahami maksud dari certa dan bisa diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari. Bahasa yang digunakan dalam buku ini menggunakan bahasa sederhana. Selain itu cerita parenting beragam dengan cerita-cerita sehari-hari yang selalu ada di lingkungan orangtua.

            Bagi orangtua, buku ini amat cocok sebagai referensi untuk diterapkan. Agar lebih luas pengetahuan tentang parenting,  alangkah baiknya materi parenting sesuai dengan tema diperluas dengan referensi dari berbagai sumber. Jadi, pembaca akan merasa lebih banyak pengetahuan tentang parenting. Namun, di  balik kekurangan, buku ini layak dibaca, diresapi dan dimiliki oleh para orangtua. Cara ini  akan bisa mengantarkan anak-anak berakhlak mulia, berbudi luhur dan bisa menjadi anak-anak harapan bangsa. Semoga.

 

Ambarawa, 15 Februari 2023

 

 

`

 

           

 

                                :