Jumat, 31 Desember 2021

Kado Terindah pada Ulang Tahun Pernikahan ke-34



Rasa bahagia terukir indah kala bulan Desember 2021 ini usia pernikahan kami genap 34 tahun. Usia pernikahan yang bukan muda lagi, tepatnya 20 Desember 1987 sampai dengan 20 Desember 2021. Kado terindah bagi kami bukan berlian permata dari anak serta suami. Bahkan perayaan pun tak ada. Namun, ada hadiah terindah yang saya rasakan saat usia jelang senja.

            Kado tersebut berupa kesehatan hingga kini. Hal ini merupakan hadiah dari Allah yang tak tertandingi. Kado berikutnya adalah bisa mengarungi bahtera rumah tangga dengan penuh kebahagiaan. Hal ini terbukti bahwa kami menjalani mahligai rumah tangga penuh bahagia bersama anak cucu. Allah SWT memberi amanah tiga anak yang semuanya lelaki. Kami asuh dengan penuh perjuangan agar mereka menjadi anak soleh.

            Perjalanan membesarkan dan mendidik anak ini telah mampu melampaui riak-riak yang kadang menyertai kami. Mulai mendidik dengan mengedepankan keimanan agar menjadi anak baik. Membimbing mereka agar bisa bersekolah dengan baik. Doa yang tak berhenti kami lakukan. Berbagai usaha kami lakukan. Perjuangan pun membuahkan hasil. Anak pertama  dan kedua berhasil lolos di UNS dan kedua di UGM. Walaupun sudah diterima, kami sebagai orang tua masih terus berdoa agar lolos di perguruan tinggi yang ada ikatan dinas. Artinya sekolah bebas biaya kuliah. Doa dikabulkan Allah. Kedua anak kami diterima di STAN. Sebuah anugrah terindah bagi kami. Rasa syukur tak terhingga karena kedua anak telah membantu orang tua dengan bebas biaya kuliah.

            Kini mereka telah bekerja di departemen keuangan. Yang lebih membahagiakan selain itu adalah sikap tawadhu, bakti pada orang tua serta bisa membawa amanah walaupun banyak pandangan kurang baik kalau  bekerja di tempat tersebut. Amanat yang kami berikan  berupa kerja keras, kejujuran dan tanggung jawab kini melekat di hati mereka. Tak lupa iman dan taqwa telah mereka jalankan. Tak terkecuali anak ketiga telah menyelesaikan kuliah S1 dan kini sedang merampungkan kuliah S2 masih berdagang dengan biaya sendiri.

            Jelang pensiun, ketiga anak telah menemukan tambatan hati semuanya. Mereka telah berdampingan dengan istri-istri yang sholehah. Sudah mandiri semuanya. Inilah kado terindah pada ulang tahun pernikahan kami yang ketiga puluh empat. Allah memberikan kebahagiaan lewat anak-anak kami yang semuanya menyayangi.

            Membangun rumah tangga tak semudah membalik tangan. Banyak hal yang harus kita sadari bersama bahwa kami bukan lagi satu tapi sudah bersama. Oleh karena itu, kebersamaan dalam keluarga adalah hal penting. Kita tak boleh mengedepankan ego saja. Segala sesuatunya dirembug bersama dalam suka dan duka.

            Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kamu yang berfikir,” (QS Ar-Rum: Rum: 21).

Dengan pernikahanlah kita harus saling sayang menyayang agar rasa bahagai, tentram. Semua itu harus disadari masing-masing pasangan. Selain itu yang sebenarnya perlu dijaga agar menggapai bahagia dunia akhirat dalam membawa biduk rumah tangga adalah,

Pertama, keterbukaan. Sebagai suami –istri harus ada keterbukan dalam segala hal. Tak ada yang ditutupi sedikitpun. diperumpamakan kita bertemu dengan semut pun diceritakan. Jangan sampai ada rahasia di antara kita.  Mulai pekerjaan, gaji, utang, teman, rejeki dan apa pun sebaiknya diketahui bersama.

Kedua, saling percaya. Saling percaya adalah modal utama dalam rumah tangga. Kalau kepercayaan sudah tidak terjaga, akan muncul percik-percik rumah tangga. Kita pun harus memegang teguh kepercayaan yang diberikan pasangan. Jangan suka salah sangka, tidak percaya di antara pasangan. Hal ini bisa selalu jujur dengan pasangan. Katakan apa adanya baik jelek atau buruk.

Ketiga, rejeki berkah. Dalam menggapai bahagia dalam rumah tangga salah satunya selalu menghiasai rumah tangganya dengan makan rejeki dengan berkah. Rejeki yang diridhoi Allah yang sebaiknya kita makan. Jangan sekali-kali kita memberi makan anak dengan rejeki yang tidak halal. Rejeki halal tentu saja kita dapatkan dengan tetes keringat diri sendiri. Biasakan bekerja dengan sepenuh hati agar rejeki berkah. Jangan korupsi uang atau pun waktu dalam setiap kesempatan. Hanya gara-gara ‘Asal bapak senang’ kadang menjadikan rejeki tidak halal. Bekerja baik jika ada Pak Bos, jika tidak ada Pak Bos bekerja seenaknya. Secara tidak langsung gaji kita makan dari bekerja tidak sungguh-sungguh. Tentu saja hal tersebut tidak berkah.

Jika rejeki berkah akan berimbas pada anak-anak kita. Anak-anak kita akan menjadi anak patuh pada orang tua sehingga pendidikan mereka akan lancar. Selanjutnya mendidik dengan mengedepankan iman dan taqwa pun mudah diterapkan. Apalagi zaman sekarang. Mendidik dimulai dengan mencari rejeki berkah akan membuka anak-anak mudah diberi pengertian. tak membantah, tak akan berontak. Insya Allah anak-anak akan menjadi insan yang berbakti dan taat ibadah. Hidup zaman now yang cenderung brutal, susah diatur akan sirna.

Keempat, bersedekah. Bersedekah akan menjadikan hati bahagia. Bersama-sama bersedekah akan menjadikan rejeki kita akan bertambah. Rejeki tidak melulu uang saja, rejeki sehat, rejeki anak-anak yang soleh akan menjaga keharmonisan keluarga. Oleh karena itu, jangan pelit dengan pasangan agar bisa berbagi.Terlebih untuk sedekah kepada tetangga, sanak saudara maupun kamu duafa.

Selain hal tersebut di atas, pernikahan harus terus dijaga dengan terus bersama-sama meningkatkan iman dan taqwa. Hal ini akan menjadi teladan dan bekal pada anak-anak agar mereka bisa menjadi insan berbudi luhur. Segala persoalan dipecahkan bersama. Usahkan jangan ada kata ‘marah’ dalam keluarga. Umpama ada dibuat seminimal mungkin. Dengan emosi tak akan menyelesaikan masalah.

Masih banyak yang harus diperjuangan agar pernikahan langgeng, bahagia dunia akhirat. Semua didasari rasa kasih sayang dan terus berdoa sepanjang masa. Semoga kita termasuk keluarga bahagia dalam lindunganNya. Kado Terindah akan kita dekap bersama. Aamiin.

 

 

 

 

Kamis, 30 Desember 2021

Jalan- jalan ke Jabal Rahmah Mina dan Arafah ( 31)

Setelah selesai melaksanakan umroh, kami berwisata religi ke tempat yang ada sekitar Mekkah. Kami menggunakan dua bus. 

Perjalanan menuju tempat yang dituju penuh kegembiraan. Setelah agak capek kini saatnya menikmati wisata Islami yang ada di Mekkah. Objek ini juga dilakukan oleh jemaah haji tetapi bedanya kami tidak melempar jumroh. 

Setelah melakukan perjalanan beberapa jam, kami sampai di 

Jabal Rahmah. Kami turun dari bus dan berkumpul di sebuah pelataran luas. Sebuah pemandangan baru saya lihat. Sebuah bukit dengan ada tugu putih di tengah-tengah. Itulah tempat sebagai tanda pertemuan Nabi Adam dan Hawa. Kami berdiri memandang jauh ke bukit. Tampak tak begitu ramai tempat tersebut. Kami sepakat tidak naik. Hanya di pelataran di bawah. Ustadz Jupri memberikan penjelasan sejarah tentang bukit Jabal Rahman. 

Dalam Alquran surah Thaha disebutkan, Adam dan Hawa diusir dari surga karena telah melanggar ketentuan Allah, yakni jangan memakan buah khuldi.

Di bukit Jabal Rahmah,  Adam dan Hawa berjumpa kembali

Adam dan Hawa berjumpa lagi di Jabal Rahmah setelah ratusan tahun terpisah. Tempat ini juga digunakan  jemaah haji untuk berwukuf sebagai syarat sah berhaji. 

Adam dan Hawa itu pun akibat keduanya terpedaya bujuk rayu iblis. Makhluk terkutuk itu telah membisikkan pikiran jahat kepada mereka dengan berkata, "Hai Adam, maukah saya tunjukkan padaku pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (QS Thaha ayat 120).

Dalam An-Nihayah fi Gharib Al-Hadit karya Abu Sa’adat Ibnul Atsir disebutkan, Adam awalnya menolak mengikuti bujukan Iblis. Namun, ada desakan dari Hawa sehingga manusia pertama itu pun akhirnya ikut memakan buah tersebut.

Apa yang terjadi setelah keduanya terusir dari surga? Yang jelas, mereka akhirnya diturunkan ke bumi.

Namun, di manakah lokasi persisnya mereka diturunkan hingga bertemu kembali? Soal itu tidak dijelaskan dalam Alquran maupun hadis.

Namun, sebagian ulama sepakat, keduanya setelah diturunkan secara terpisah dari Surga kemudian bertemu di Jabal Rahmah, Arafah, Jazirah Arab.

Al-Imam At-Thabari dalam Tarikh-nya menjelaskan keterangan dari Abdullah bin Abbas bin Abdul Mutthalib. Ia mengatakan, "Adam diturunkan dari surga ke bumi di negeri India.”

Abu Shaleh meriwayatkan juga dari Ibnu Abbas, Hawa diturunkan di Jeddah--yang masih bagian dari Hijaz. Kata Jeddah itu sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti 'perempuan tua.'

Riwayat lain menyebutkan, Adam diturunkan di Bukit Shafa, sedangkan Hawa di Bukit Marwah. Ada pula yang menyebutkan, Adam diturunkan di antara Makkah dan Thaif. Ada pula yang berpendapat, Adam diturunkan di India, sementara Hawa di Irak.

Betapapun sebagian ulama berselisih pendapat tentang lokasi diturunkannya Adam dan Hawa, kebanyakan mereka bersepakat: kedua insan pertama itu akhirnya bertemu kembali di Jabal Rahmah. Sebelumnya, mereka terpisah ratusan tahun lamanya sejak diturunkan dari surga ke bumi.

Bagi umat Islam, Jabal Rahmah juga memiliki nilai sejarah penting. Sebab, di sinilah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu terakhir. Yakni, pada saat beliau menunaikan Haji Wada, atau ibadah haji terakhir.

Wahyu itu adalah surah al-Maidah ayat 3, yang artinya, "Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. 

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."_

Sesaat kemudian kami melakukan perjalanan ke Mina. Kami hanya bisa melewati terowongan yang pernah ada korban jiwa waktu lalu. 

Kami juga diajak keliling ke Padang Arafah. Padang ini sangat luas. Banyak bangunan kecil-kecil yang jumlahnya amat banyak. Di tempat itulah para jemaah menempati saat berhaji. Tampak sepi Padang Arafah saat itu. Kami hanya bisa melihat dari bus. Walaupun seperti itu kami amat menikmati.

Pada saat itu kami juga diajak ke museum Ka'bah. Sebuah tempat sejarah. Berbagai macam miniatur dan gambar antik tentang Ka'bah dan lainnya ada di sini. Bahagia rasanya. Kami pun pulang ke hotel dengan membawa kenangan terindah. 










Rabu, 29 Desember 2021

Salah Kamar ( 30)


Usai melaksanakan umrah kami diberi kebebasan untuk melaksanakan ibadah sendiri ke Ka'bah. Hal ini tak saya sia-siakan. Biasanya kami bertiga pagi-pagi sekali berusaha salat subuh berjamaah. 

Kami berjalan kaki bertiga menuju Ka'bah. Suasana tak pernah sepi. Di jalan menuju Ka'bah banyak sekali penjual makanan, pakaian dan juga Alquran. Mereka menjajakan di jalan. Saya pun berhenti untuk melihat-lihat. Baju gamis hitam dijual dengan harga 25 riyal. Ada juga lho yang mau menerima uang rupiah. 

Di sisi lain banyak juga toko-toko aneka baju atau oleh-oleh umroh. 

Kurang lebih seperempat jam kami sampai di depan Masjidil haram'. Tak diduga penuh sesak. Padahal belum azan berkumandang. Halaman Masjidil haram' biasa untuk salat berjamaah. Pandai-pandailah memilih tempat. Kali ini ada tempat kosong. Segera saya gelar sajadah. Tak lama kemudian ada polisi yang tak memperbolehkan kami menempati tempat tersebut. Akhirnya kami ganti tempat. Alhamdulillah bisa salat subuh berjamaah di Masjidil haram'. Kadang di dalam kadang di luar. 

Sesaat kemudian hari sudah agak siang karena kami melanjutkan salat berjamaah pada dhuhur. Mbak Endah ternyata ingin mengunjungi super market yang berada di depan masjid. Saya enggan mengikuti. Akhirnya saya putuskan pulang sendiri dengan berpedoman pada ciri pintu keluar. 

Saya berjalan sendirian menyusuri jalan yang ramai. Sambil berjalan saya amati tempat yang ada. Jangan sampai kesasar. 

Alhamdulillah saya sampai di hotel. Selanjutnya saya langsung naik lift dengan ada rasa deg-degan. Biasanya kan bersamaan dengan teman. Kali ini saya harus berani sendiri. Namun, saat saya di depan pintu lift ada seorang yang akan naik juga. Saya pencet nomor 7 sesuai lantai kamar. 

Sesaat pintu terbuka. Saya keluar dengan sendirinya. Saya berjalan menuju kamar. Sampailah pada sebuah pintu. Segera saya masukkan kartu pada lubang agar pintu bisa dibuka. 

"Kok gak bisa ya? "

Berulang kali saya mencoba tetap tidak bisa. 

"Ada apa ini?" Ada rasa galau juga. Segera saya amati sekeliling. Benar kok letak kamar. Namun sesaat saya melihat nomor kamar dengan angka 5. 

Ya Allah, salah kamar rupanya. Saya ingin tertawa sendiri. Ternyata letak kamar dan lainnya sama antara lantai satu dengan lainnya. 

Wah saya harus naik lift lagi. Walaupun agak ragu dan sedikit takut naik lift sendiri, tetap harus saya lakukan untuk naik lift lagi. 

Saya masuk lagi di lift untuk naik ke lantai 7. Benar juga sampai lantai tujuh pada kamar saya, akhirnya pintu bisa dibuka. Alhamdulillah.

Hajar Aswad ( 29)


Tak terbayangkan bagi saya kala awal masuk Ka'bah bisa mendekat ke Hajar Aswad apalagi sampai mencium. 

Suasana Ka'bah memang benar-benar padat. Saat melakukan tawaf banyak orang berhimpitan demi dapat mencium Hajar Aswad. 

Melihat kondisi saat itu tampaknya sulit untuk mendekat. Apalagi banyak orang yang tinggi besar ikut berdekatan.

Namun keinginan mengusap hajar Aswad tentu saja masih ada kala saya sampai hotel. Oleh teman satu kamar, kami niatkan untuk melakukan sunah yaitu mengusap hajar Aswad. Bahkan kalau bisa bisa menciumnya walaupun sesaat. Hal ini merupakan Sunnah karena ingin meneladani  beliau Rasulullah.

Kami pun benar-benar akan melakukan dengan bismillah.  Kami pun menuju

Ka'bah bersama. Benar-benar ramai saat itu. Perlahan kami berjalan untuk tawaf dan secara perlahan menuju pada barisan ke tengah agar bisa terhubung dengan Hajar Aswad. 

Berulang kali tampaknya gagal. Kami pun langsung berjalan kembali.  Selanjutnya berusaha mendekati kembali. Benar-benar padat jemaah. Saya bersama teman-teman saling meringsek masuk pada area Hajar Aswad sambil berdoa diberi kesempatan untuk mengusap. 

Terus dan terus kami maju dan maju. Tak pedulikan rasa lelah. Pada saat mendekati Hajar Aswad. Tiba-tiba ada polisi yang mengusir orang-orang di depan saya karena akan ada polisi lain masuk. Subhanallah inikah kemudahan yang diberikan Allah kepada kami. 

Sesaat kemudian polisi berhasil mengusir dengan kata-kata yang tak juga kami tahu artinya. Waktu itulah saya dan teman saya mendekat. Saya pun mengusap lubang kecil yang merupakan Hajar Aswad. Segera kumasukkan kepala saya untuk menciumnya. Hanya sesaat karena di belakang saya banyak sekali yang antre. Kami pun langsung segera menepi. Kemudian berhenti sesaat. Tak terbayangkan akhirnya saya bisa melakukannya. Semua karena atas izin-Nya. 

Perasaan hati yang benar-benar bahagia. Terimakasih ya Allah. 


Sai dan Tahalul (28)

Usai melaksanakan tawaf, kami diajak pembimbing menuju bukit shafa dan Marwah. Kami berjalan beriringan. Saya ngikut saja. Bayangan saya, kami akan diajak ke sebuah bukit yang berada di dekat Ka'bah.

Saya pun mulai bertanya-tanya dalam hati. Mana bukitnya. Hanya beberapa menit pembimbing menyampaikan bahwa kita sudah sampai pada bukit Shafa.  Saya tengok kanan kiri tapi tak ada bukit pada umumnya. Adanya bangunan dengan ada dua jalan dan gundukan semen. 

Tak diduga bahwa kami sudah berada di bukit Shafa yang sudah direnovasi sedemikian rupa sehingga menjadi berbeda. Kami lalu berkumpul di samping bukit Shafa yang sudah bersemen. Selanjutnya kami berdoa bersama dipimpin oleh ustadz Jupri. Kami pun menyimak dengan mengikuti bacaan yang ada dalam panduan yang dibawa sendiri jemaah. 

Di tempat ini kami akan mengikuti ritual wajib  yang harus dilaksanakan setiap jemaah haji, yaitu sai dan tahalul. 

Sai merupakan salah satu rukun haji dan umrah yang dilaksanakan setelah tawaf atau tujuh putaran mengelilingi Kakbah. Dalam bahasa Indonesia, sai berarti berupaya keras.

Sai melambangkan usaha keras dan ketabahan Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, dalam mencari air minum untuk bayinya, Ismail, yang kehausan. Siti Hajar berlari antara Bukit Safa dan Marwa di tengah terik matahari wilayah Mekkah yang berbatu.

Untuk mengenang usaha keras dan ketabahan Siti Hajar, kami  melaksanakan sai. Berlari kecil antara Bukit Safa dan Marwa yang kini sudah menjadi bagian dari bangunan Masjidil Haram.

Mulailah kami berjalan agak menurun. Seperti dua lorong panjang dengan dua sisi. Kami harus berputar tujuh kali. Jalannya agak licin. Jadi kita bisa pakai kaos kaki yang agak kasar atau yang ada benjolan agar tidak terpeleset. 

Kami berjalan beriringan dengan mengikuti ucapan pembimbing. Bangunan ini panjang dengan atap yang tinggi. Bangunan ini menghubungkan antara Bukit Shafa dan Marwah. Sesaat kemudian kami sampai pada lampu yang berwarna hijau. Saat itulah kami berlari kecil.  Setelah melewati lampu hijau kami berjalan seperti biasa. Walaupun biasa kami tak berjalan santai. Tetap jalan karena harus menyelesaikan tujuh putaran. 

"Saya harus kuat," ucap saya dalam hati. 

Keringat bercucuran, Alhamdulillah ada air zam-zam yang bisa diminum. Tampak jemaah saat itu banyak sekali. Ada yang berbarengan berjalan dengan bersuara keras dengan doa-doanya. 

Banyak juga orang tua dengan semangat luar biasa. Saat sampai ujung, ada bukit Marwah yang telah direnovasi menjadi bersemen coklat. Ada air sedikit di sebelahnya. Tak sedikit yang berdoa di situ. Benar-benar penuh saat itu.

Selanjutnya kami berjalan kembali agar tujuh putaran bisa cepat terselesaikan. 

"Ayo Bu, ayo Bu," ucap teman

Saya pun berusaha keras agar bisa menjalankan sai dengan lancar. Penting berjalan begitu saja dengan berdoa agar sehat dan bisa segera rampung sai. 

Tempat sai sebenarnya amat  nyaman dengan udara berpendingin dan menyejukkan kami jemaah umrah. Jemaah yang tidak kuat berlari kecil diperbolehkan untuk berjalan pelan. Namun saya tetap biasa. 

Tampak pula beberapa orang mengikuti sai dengan kursi roda. 

Kami melakukan tujuh putaran sai  sekaligus tanpa jeda atau istirahat kecuali saat berdoa di Bukit Safa dan Marwa. Kami berusaha Sai tujuh kali. Jika kurang satu putaran saja maka sai menjadi tidak sah. 

Alhamdulillah kami bisa menyelesaikan  melakukan ritual sai. Selanjutnya ada tahalul. Artinya dihalalkannya kembali perbuatan yang sebelumnya dilarang selama jemaah berpakaian ihram. Tahalul ditandai dengan memotong rambut, minimal tiga helai.

Saya pun mencari tempat yang berada di belakang pelaksanaan sai. Ada beberapa ruang untuk tahalul. Kami para ibu saling memotong rambut. Alhamdulillah beberapa ibu membawa gunting. Saya jadi ingat kalau gunting saya disita. Heee

Sedangkan bapak-bapak ada yang di dekat pelaksanaan sai ada pula di hotel dengan menyewa tukang cukur. 

Setelah tahalul awal, jemaah boleh melepas pakaian ihram dan terbebas dari larangan saat berpakaian ihram--kecuali hubungan antara Bagi jemaah yang sakit ada layanan kursi roda dengan memberikan sejumlah tip kepada para pendorongnya.

Tampak beberapa bapak dipotong habis alias gundul. 

Cara itu menurut sejumlah riwayat sebagai simbol pembersihan diri dari segala dosa.

Tak menunggu lama suami kirim foto dalam keadaan gundul. Hee lucu juga.

Alhamdulillah acara sai dan Tahalul berjalan lancar. Kami pun pulang menuju hotel. Rasa lelah telah terobati dengan rasa bahagia telah melaksanakan umrah dengan lancar. 



Selasa, 28 Desember 2021

Tawaf (27)

 





Setelah salat sunah, kami akan melaksanakan Tawaf. Rasa bahagia menyelimuti hatiku. Sebentar lagi saya bisa mendekat dengan Kabah. Benar-benar terharu hati ini. Tak terasa mata saya basah saking bahagianya. Berulangkali mengucap subhanallah. Dulu saya hanya bisa melihat kabah di televisi atau gambar saja. Kini saya bisa berada amat dekat dengan Kabah. Bangunan megah hitam bisa saya lihat dengan amat jelas.

Sesuai anjuran pembimbing kami akan melakukan Tawaf.  menurut bincngsyariah.com Tawaf merupakan salah satu rukun yang harus dikerjakan dalam ibadah umrah. Tawaf adalah kegiatan mengelilingi kabah sebanyak tujuh kali. Memulai tawaf wajib dengan cara menyejajarkan pundak kiri dengan Hajar Aswad. Tidak boleh saat memulai tawaf bagian pundak kiti lebih maju dari posisi dari posisi Hajar Aswad.

Kami bersama-sama menuju Kabah setelah salat sunah. Dari arah kanan, pundak kiri sejajar dengan Kabah. kami akan melakukan tawaf yaitu mengelilingi Kabbah sampai tujuh kali. Saya berempat bergandengan tangan lalu berada di belakang rombongan jamaah pria. Berjalan pada barisan tidak dekat kabah karena memang saat itu ramai sekali.  Kami bisa lebih nyaman berjalan pada lingkaran tidak dekat Kabah agar lebih longgar. Benar juga saat itu lebih longgar dibanding yang dekat pada Kabah Namun, kami tetap berusaha masih dalam satu rombongan. Ustad Anwar Jurpri yang memimpin. Kami mengikuti saja baik jalan maupun doa-doa.  Sebenarnya kami sudah dibekali doa yang ada dalam buku panduan yang dikalungkan. Namun, keadaan tidak memungkinkan kami untuk membaca karen suasana saat itu benar-benar ramai. Jemaah berbagai negara melakukan tawaf. Kami fokus untuk keliling saja. Kalau ingin mengusap sampai Hajar Aswad disarankan kali lain pas umroh hari lain. Bisa pas mengumrohkan saudara. Kami mengikut saja petunjuk Beliau, Ustad Jupri. kami disarankan untuk melambaikan tangan saja.

Saya berencana waktu lain bisa mencium Hajar Aswad. Semoga bisa. Di sela-sela tawaf, kami disunnahkan untuk salat dua rekaat di Hijir Ismail. Suasana saat itu benar-benar penuh. Kebetetulan pas akan dibersihkan. Saya dan beberapa teman menunggu sesaat. Akhirnya dibuka tempat bagian barat yaitu Hijir Ismail. Ada bangunan setengah lingkaran. Di situlah kami bisa salat dua rakaat.

Kami harus pandai-pandai mencari celah. Kala ada yang keluar kami harus masuk. Dengan berdesak-desakkan kami terus menyusup agar bisa masuk terlebih dahulu. Saya langsung memilih paling ujung. Selanjutkan kami menunggu orang selesai salat kemudian menggantikan posisi. Benar juga setelah saya berada di belakang seorang wanita yang sedang salat. Sejenak kemudian orang tersebut memberikan tempat pada saya. Betapa senangnya. Saya pun salat sunah dalam keterbatasan tempat. Mungkin pas saja untuk badan. Walaupun kurang khusuk saya niatkan untuk salat sunnah. Akhirnya kami bergantian untuk saya berikan pada orang lain. Alhamdulilah bisa salat sunnah di Hijir Ismail.

Selanjutnya kami melanjutkan tawaf hingga putaran ketujuh. Alhamdulilah selesai dengan sehat walafiat. Kami berkumpul sejenak di sebelah timur kabah. Pemandu memberi kami untuk istirahat sambil berfoto di dekat Kabah. Alhamdulilah akhirnya Tawaf berjalan lancar. Selanjutnya kami akan melaksanakan Sa’i.

 

 

Senin, 27 Desember 2021

Mekkah Kota Suci (26)

 






Berapa jam kemudian kami sampai di Mekkah. Bus berhenti tepat di depan hotel berbintang. Subhanallah, akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di Mekkah. Kami semuanya turun. Sejenak saya pandangi pemandangan sekitar. Mata saya benar-benar terpana, dari tempat berdiri sebuah menara tinggi dengan arloji di tengahnya tampak gagak terlihat.

“Inikah kota Mekkah,” gumam saya sejanak karena kami harus masuk hotel terlebih dulu. Kemudian kamu harus cek in. Segera kami mendapatkan kartu yang merupakan kunci kamar. Setiap jemaah mendapatkan kunci tersendiri. Kami menempati kamar dengan kelompok yang sama. Saya masih bersama dengan Bu Indah, dan putranya yang bernama Faza serta Bu Nur, Jemaah dari Solo.

Rasa kagum begitu masuk hotel. Di hotel yang mewah ini kami akan menginap beberapa hari. Tampak di lobi, hiasan dinding bernuansa Islami makin terasa. Segera naik dengan lift. Jemaah kami berada pada lantai 7. Bersama-sama kami laik lift.  Walaupun sebenarnya ada rasa takut, tapi mau tidak mau harus berani. Saya hanya mengikuti yang lain kemudian berusaha menghafalkan tata cara. Siapa tahu nanti saya harus sendiri menggunakan lift. Dengan bismillah saya ikut saja. InsyaAllah aka nada jalan jika ada kesulitan.

Satu rombongan berbeda tingkat kamar. Suami menenmpati kamar pada lantai 5, sedangkan saya lantai 7. Jadi Jemaah laki dan wanita disendirikan. Namun, jika menghendaki satu kamar juga diperbolehkan dengan memberitahukan pada panitia terlebih dulu.

Saya bersama berjalan sambil mencari nomor kamar. Sebuah ruangan kosong untuk menuju kamar. Lukisan bernuansa islami ada pada dinding. Petunjuk ruangan juga ada. Tak lama saya dan rombongan menemukan kamar. Koper untuk empat orang sudah persis di depan pintu masuk kamar. Salah satu dari kami membuka dengan kartu. Kartu hampir mirip dengan kartu ATM. Kartu dimasukkan dalam tempat berlubang tak lama kemudian pintu terbuka. Kami semua masuk hotel dengan tetap mematuhi aturan yang sudah ditentukan untuk tidak memakai wewangian, parfum selama masih memakai ihram. Kalau mau bersih diri yang diwajibkan tidak ada wewangian

“Asalamuallaikum,” ucap kami bersamaan sambil menarik koper berwarna hitam.

Pemandangan baru kami lihat. Kami bukan lagi di hotel Madinah tetapi di Mekkah. Tampaknya hampir sama. Ketika masuk, sebelah kiri ada meja kecil dengan atasnya ada beberapa buah serta minuman air mineral beberapa botol. Juga ada gelas dan beberap sachet teh kemasan. Sebelahnya ada kulkas kecil. Segera saya letakkan semua barang  di lantai. Sedangkan jam dan peralatan kecil saya letakkan di meja kecil.  Saya memilih tempat tidur sebelah kanan. Mbak Indah dan putranya di tengah, sedangkan Mbak Nur sebelah kiri. Sebelah dipan ada lemari yang bisa kita letakkan baju-baju.

Tampat tidur tertata rapi dengan ada selimut putih di atasnya. Pada tembok kiri ada televisi lumayan besar. Namun, kali ini kami belum bisa untuk istirahat. Kami harus segera turun ke bawah untuk bersama-sama menuju kabah untuk melaksanakan umroh. Alhmadulillah cuaca Mekkah tak panas juga tidak dingin. Suatu anugrah tersendiri cuaca benar-benar bersahabat.

“Ayo mbak, kita turun,” ucapku pada teman-teman satu kamar.

“Ya, buk,” serempak Mbak endah dan Bu Nur menyahut. Selanjutnya saya keluar kamar hanya membawa tas kecil hitam yang nantinya bisa untuk memasukkan sandal. Selain itu hanya HP dan minuman. tas kecil hitam ini diberikan biro dari awal. Tak lupa saya membawa selempang kuning dan tentu saja kartu/ Id Card yang wajib dibawa. Berempat kami turun ke bawah atau lobi lewat lift. Semua Jemaah sudah berkumpul di bawah. Bapak-bapak masih memakai baju ihram. Sejenak saya mencari suami. Kami hanya saling sapa sebentar kemudian berkumpul bersama Jemaah pria.

Kami semua mengikuti arahan pembimbing. Selanjutnya kami keluar. kami diingatkan untuk mengingat ciri hotel walaupun dalam kartu kamar tertera. Di depan hotel ada jalan beraspal. Lalu lintas tak begitu ramai. Jalan ini memang bukan jalan umum melainkan jalan yang berkaitan dengan Jemaah Umroh . Tampak lalu lalang orang berihram amat ramai. Jemmah wanita sebagian besar memakai hitam atau putih. Hampir tidak ditemukan orang memakai baju bebas.

Sebelah kanan hotel banyak toko yang menjual aneka keperluan. Mulai keberluan sehari-hari. Ada toko makanan cepat saji. Tampak pula toko kelontong dengan jiligen kosong banyak dijual. Saya dan teman-teman untuk sementara tak memedulikan itu. Kami berjalan ke arah Kabbah. Benar-benar bahagia rasanya karena sebentar lagi kami akan sampai masjidil haram dan bisa melihat langsung Kabbah. Bukan mimpi tapi nyata. Berulang kali mengucap syukur.

Kami terus berjalan beriringan. Jalalan amat ramai di siang itu. Jemaah dari berbagai negara ada terlihat dari wajahnya yang jelas bukan orang Indonesia. Jika dari Indonesia akan kelihatan. Kami terus berjalan melewati toko-toko yang agak besar. Kami selalu berpapasan Jemaah yang pulang dari Kabah.

Sesampai di pintu masuk kami berhenti. Pak Ustad Anwar sudah menunggu. Kami pun diperlihatkan pintu masuk dengan ciri-ciri tertentu. Ada gedung besar dengan angak besar. Selanjutkan kami diarahkan masuk setelah tas diperiksa oleh petugas. Kami terus memasuki area masjidil haram. Debar jantung ini ketika di depan mata ada kabah.

“Subhanallah. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya saya bisa di rumahMu,” gumamku lirih. Kami menuju ruang yang diarahkan Ustad Jupri untuk salat tahyiat masjid lalu bersama-sama salat Dhuhur dan asar dengan jamak qosor. Karena setelah ini kami akan melakukan berbagai agenda utama yaitu tawaf, Sai dan Tahalul.

Kami salat tahyiad Masjid selanjutnya berjamaah salat Dhuhur dan Ashar. Usai salat kami melakukan tawaf, Said an ahalul

.

 

 

 

Sabtu, 25 Desember 2021

Perjalanan dari Madinah Ke Makkah untuk Ber-ihram (25)

 





Dua hari sudah kami berada di Madinah.  Bahagia luar biasa bisa beribadah wajib dan sunah dengan lancar. Yang utama saya dan suami dan rombongan sehat. Kami terus berusaha menjaga kesehatan agar kami bisa beribadah dengan lancar dan sehat. Kini saatnya kami harus meneruskan perjalanan ke Makkah untuk melaksanan Umroh,

Malamnya saya sudah mulai menata segalanya dengan baik. Yang pertama menata koper terlebih dahulu. Semua barang mulai pakaian sudah saya masukkan koper.  Tinggal yang keperluan pagi, misalnya keperluan mandi dan make up belum saya masukkan. Sedangkan oleh-oleh juga sudah saya jadkan satu dalam tas khusus yang saya persiapkan dari rumah. Sedangkan yang tidak saya masukkan adalah yang akan dipakai untuk umroh besok pagi yaitu gamis putih, sepatu putih serta selempang dan tas kecil serta kartu identitas. Tak lupa saya potong kuku terlebih dahulu karena saat niat umroh dlakukan kita tidak boleh potong kuku, potong rambut yang ada di badan.

Pukul 09.00 waktu Saudi koper hitam yang sudah bertuliskan nama saya letakkan di depan pintu hotel bersama koper teman satu kamar. Akan ada petugas yang membawa terlebih dahulu. Kami pun bersiap-siap sholat Jama’ qoshor Dhuhur dan Ashar.  Bersama-sama kami menuju ke Masjid Nabawi untuk terakhir sebelum melakukan perjalanan ke Makkah.  Kami shalat di halaman Masjid Nabawi. Kami pun diingatkan beberapa hal yang harus dilakukan saat niat umroh dilakukan.

Jemaah pria diwajibkan sudah Ihram yaitu sudah memakai kain Ihram saat keluar hotel. Pakaian ini sudah diberi oleh biro bersama koper waktu akan berangkat. Warnanya putih adem seperti handuk besar. Jemaah pria dilarang memakai kaos atau pakaian dalam. Dulu waktu manasik sudah diajarkan cara memakainya. Jemaah pria dilarang memakai kaos kaki yang menutup mata kaki, penutup kepala dan sejenisnya.

Sedangkan untuk kaum wanita, saat akan keluar hotel, Jemaah wanita diwajibkan mengenakan busana yang menutup aurat. Tak boleh memakai sarung tangan yang menutupi telapak tangan. Tak boleh pula menutupi bagian wajah. Jadi, Jemaah wanita dilarang menggunakan cadar.

Ada pula yang dperhatikan untuk Jemaah pria atau wanita saat sudah ber-ihram. pertaman, jemaah dilarang menggunakan mewangian atau parfum atau minyak rambut. Kecuali sebelumnya boleh. Kedua, Jemaah dilarang mencabut bulu atau memotong kuku. Ketiga, dilarang mengganggu serta memburu bintang. Keempat, dilarang merusak, mengukir, menyayat atau memotong pepohonan apalagi mencabut tanaman. Kelima, Jemaah dilarang melamar, menikah, dan bersaksi atas pernikahan sesorang pada saat ber-ihram. Keenam, Jemaah dilarang bercumbu, bermesraan hingga melakukan hubungan suami –istri. Kami pun diharapkan menjaga tutur kata dan menghindari kata-kata kotor, cacian hingga bertemgkar dengan Jemaah atau orang lain.

Itulah yang disampaikan saat manasik dulu. Peraturan tersebut wajib dipatuhi agar niat utama umroh kita berjalan dengan baik dan juga mabrur. Ihram termasuk rukun umroh atau haji yang harus dikerjakan. Jika melanggar, Jemaah bisa dikenakan denda dengan menyembelih seekor kambing. Ada juga yang harus membayar fidyah, bersedekah kepada enam orang miskin masing-masing 1,5 kilogram berupa makanan pokok atau menjalankan puasa selama tiga hari. Semua bergantung pada pelanggaran yang dilakukan oleh Jemaah.

Sedangkan yang sunnah kita lakukan sebelum ihram adalah mandi, memakai wangi-wangian pada tubuh, memotong kuku dan merapikan jenggot, rambut ketiak dan rambut kemaluan.

Ihram adalah adalah niat masuk mengerjakan umroh atau haji dengan menghindari hal-hal yang dilarang tadi. Ihram ditandai berpakaian ihram dan mengambil migat di lokasi tertentu.

Sepulang dari salat berjamaah kami pulang hotel lalu makan siang. Selanjutkan persiapan ber-ihram. Segera saya dan teman masuk kamar lalu mempersiapakan diri.  saya pun cepat-cepat mandi dan melaksanakan sunnah yang telah disampaikan tadi. Baju putih dan kerudung putih sudah melekat di tubuh. Selempang kuning dan tas hitam yang dicangklongkan sudah siap. Kami pun turun ke bawah. Dua bus sudah siap di depan hotel.

Tampak suami sudah memakai pakaian ihram lengkap. Sejenak saya dekati sebelum naik bus.

“Bagaimana Pak, tadi lancar memakai kain ihramnya?” tanyaku datar.

“Alhamdulilah, tadi saling bantu karena tidak sekali pakai langsung jadi.”

“Alhmdulillah,” ucapku gembira. Memang benar kala dulu pas manasik, memakai kain ihram yang lumayan panjang butuh belajar. Hanya dua kain itu yang melakat tanpa ada pakain dalam. Beda dengan Jemaah wanita masih boleh memakai pakaian dalam dan tidak ribet karena memakai gamis putih dan kerudung putih tanpa memakai kaus tangan. Jadi telapak tangan tidak tertutup. Alhamdulillah Jemaah rombongan kami tak ada masalah.

Makna memakai pakaian ihram dengan dua helai kain ihram bagi laki-laki adalah menggambarkan bahwa kita melepas pakaian sehari-hari, semua atribut yang digunakan dan bersrah diri. Ihram menjunjukkan bahwa kita ada kesamaam dan kesetaraan di hadapan Allah.

Tepat pukul 14.00 jemaah menaiki bus yang telah disediakan biro. Jemaah pria dan wanita tidak boleh berdekatan. Saya pun duduk dengan Jemaah wanita sedang suami juga berada di kursi lain bersama Jemaah pria.  Sesaat kemudian kami sampai Bir Ali (Dzul Zulhulaifah) untuk mengambil miqat dengan salat sunnah  dua rakaat. Niatkan dalam hati untuk ber-ihram. Bir Ali menjadi tempat miqat bagi penduduk Madinah dan yang melewatinya. Jemaah haji asal Indonesia biasanya miqat di Masjid Zulhulaifah (Bir Ali) yang berlokasi 9 kilometer dari Madinah.

Tempat miqat ini jaraknya 450 kilometer dari Mekkah. Miqat secara harfiah adalah batas. Tempat miqat umroh artinya titik awal atau garis batas untuk memulai ibadah umroh atau haji dan kapan mulai melafadzkan niat juga melintasi batas antara Tanah Suci dengan tempat lainnya. Miqat yang dimulai dengan memakai pakaian ihram ini harus dilakukan sebelum melintasi batas yang dimaksud tersebut. Miqat merupakan tempat atau waktu yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai pintu masuk untuk memulai haji atau umrah. Setelah mengambil miqat, jemaah menuju Baitullah dan mulai berlaku larangan saat berpakaian ihram.

Saat di Bir Ali tak lupa kami sejenak berfoto bersama. Selanjutkan kami naik bus dengan semuanya sudah berniat untuk umroh. Sejak saat itulah kami membaca talbiyah tiada henti dengan dipandu oleh Ustad Anwar.

Labbaik Allahumma labaik

labbaika laa syariika laka labaik

innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syariika laka labbaik

Labbaik Allahumma labaik

labbaika laa syariika laka labaik

innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syariika laka labbaik

Aku penuhi panggilanMu ya Allah, aku penuhi panggilanMu ya Allah dan tiada sekutu bagiMu. Seseungguhnya segala puji, nikmat,  serta kekuasaan hanya bagi-Mu tanpa sekutu apa pun bagi-Mu

Bibir terus melafalkan talbiyah dengan hati bergetar. Rasanya hati benar-benr terharu. Kami semua menirukan pembimbing dengan suara merdu. Suara bergema memenuhi rongga hati kami sambil menikmati perjalanan menuju Mekkah.

“Mudahkanlah Ya Allah,” gumamku sambil terus mengucap talbiyah.

 


Jumat, 24 Desember 2021

Bukit ...


 

Jabal Uhud (24)


Suasana sangat cerah ketika kami melanjutkan perjalanan dari Kebun Kurma menuju  Jabal Uhud. pemandangan hampir sama dengan sebelumnya, kanan kiri gedung bertingkat, nuansa khas Arab masih melekat. Ada juga kebun kurma tetapi tidak untuk wisata. Di Bus, Ustad Anwar kembali menyampaikan tausiyah tentang perjalalan kali ini. Banyak ilmu yang dapat kami dapatkan.

Sebuah bukit tampak dari jendela bus. Kami disuruh untuk turun. Cuaca amat panas sehingga sebagian besar berdiri agak kejauhan dari gunung yang merupakan Jabal Uhud. Lalu lalang orang sangat ramai. Kami sengaja dari jauh berdiri sambil memandang gunung yang merupakan sejarah ini. Dua gunung yang berbeda ini di depan mata. Gunung tersebut tampak kecoklatan bukan hijau pada umumnya karena gunung ini hampir tak ada tanaman. Mungkin tapi hanya rumput-rumput kecil. Di bawah gunung berdiri gedung –gedung bernuansa putih.

Rombongan kami hanya melihat pemandangan gunung dari bawah. Kami tak naik menuju gunung Jabal Uhud. Kami hanya mendengarkan saja ceramah.

Dijelaskan bahwa Jabal Uhud bukan gunung biasa. Jabal Uhud ini mempunyai nilai dan makna spiritual dan banyak mengandung sejarah. Tinggi gunung atau ada yang menyebutnya bukit ini memliliki tinggi sekitar 1.050 meter. Gunung ini terletak sekitar 4,5 kilometer di sebelah utara kota Madinah, Arab Saudi. Panjang 7 Km dan sebagian besar terdiri dari batu-batuan garanit, marmer dan batu-batu mulia.

#gbmkabupatensemarang

#tantangan30hari menulisdesemberceriagbm

  

 

 

 

 

Nabi Muhammad nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda jika kita ingin melihat bukit yang ada di surga maka arah ke bukit uhud (hadits riwayat Bukhari)

Jabal Uhud sebuah bukit berjarak 5 km dari Utara kota Madinah dengan ketinggian sekitar 1077 meter bukit ini selalu dikenang oleh umat Islam karena di lembah gunung ini pernah terjadi peperangan besar antara pejuang Islam. Sebanyak 700 orang dan kaum kafir Quraisy dari Mekkah sebanyak 3000 orang pada tanggal 15 tahun hijriah dalam perang Uhud.

Sesuai dengan strategi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kaum muslimin mengambil posisi di atas Jabal Uhud dan memerintahkan melakukan penyerangan bila pasukan musuh mulai menyerbu. Nabi Muhammad menempatkan beberapa orang pemanah di atas gunung bukit sebelah utara uhud.

Sesungguhnya dalam perang ini pasukan muslim sudah memperoleh kenangan yang gemilang namun para pemenang tergoda dengan barang-barang yang ditinggalkan oleh musuh dan akhirnya meninggalkan tanah yang telah ditetapkan Rasul. Adanya pengosongan pos oleh pasukan pemanah tersebut dimanfaatkan oleh kaum musyrikin untuk menyerang umat Islam dari arah belakang sehingga umat Islam mengalami kekalahan.

Dalam perang ini 70 pejuang Islam tewas terbunuh antara lain paman nabi Hamzah bin Abdul Muthalib bahkan Rasulullah juga menderita luka-luka pada sekujur tubuhnya. Nabi memerintahkan bahwa semua pejuang yang telah meninggal tersebut dimakamkan di mana mereka gugur. Itulah  taman Jabal Uhud yang patut dijadikan tempat sejarah umat Islam.

Hingga kini Jabal Uhud terus didatangi umat Islam untuk mengenang kembali peristiwa tersebut dan mendoakan para syuhada yang gugur. Aadapun hikmah yang bisa dipetik dari perang Uhud ini adalah tentang kepatuhan terhadap pemimpin ketika para pasukan pemanah tergoda oleh harta rampasan perang. Mereka lupa akan tugas dan instruksi yang diberikan Rasulullah.

Alhamdulillah saya bisa melihat langsung Bukit Jabal Uhud. Suatu kebahagiaan tersendiri. Rasa lelah terobati dengan melihat langsung keindahan alam atas ciptaanNya. Kami pulang ke hotel. Perjalanan indah menyertai kami.

 

 

 

 

Kebun Kurma (23)

 



Rasa penasaran ingin ke Kebun Kurma tak sabar lagi. Setelah berkunjung ke Masjid Quba, rombongan langsung menuju kebun kurma. Kurma merupakan makanan khas Arab. Tak heran jika kalau umroh atau haji ada keharusan untuk membeli kurma. 

Setelah bus diparkir saya turun dari bus. Saya segera mencari suami untuk bersama-sama memasuki kebun kurma. Awal masuk kami tidak langsung diajak ke kebun kurma tetapi ke perbelanjaan. Di depan ada banyak pedagang yang menjual kurma. Aneka kurma tersedia. Mau yang mahal atau yang murah. Saya melihat-lihat sejenak lalu mengikuti rombongan lain masuk ke kebun kurma.

Saya melongok sana sini, bertanya dalam hati mana kebun kurmanya. Saya dan suami lantas berjalan terus tetapi tak ada lagi kebun kurma. Jadi saya salah duga. Saya kira kebun kurmanya amat luas. Ternyata hanya beberapa saja. Namun, tetap disyukuri saya bisa melihat langsung pohoh kurma. Akhirnya kami mengambil gambar di kebun kurma. Alhamdulilah hati sudah lega.

Kami segera keluar kebun. Kami pun membeli beberapa kilo kurma yang enak. Kami tak berani membeli kurma yang banyak karena keterbatasan jumlah barang yang harus dibawa dalam pesawat. Kami pun masuk bus kembali untuk melanjutkan perjalanan ke Jabal Uhud.  

 

#gbmkabupatensemarang

#tantangan30hari menulisdesemberceriagbm 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Mengunjungi Masjid Quba (22)

 


Hari Senin, 17 Desember 2018, kami mengunjungi Masjid Quba. Pagi sekali kami sudah berkumpul di depan hotel. Dua bus sudah berada di hotel. Yang satu untuk Jemaah kelompok Garuda dan satunya kelompok Lion. Kami bersama beriringan menuju Masjid Quba.  Dua bus penuh. Alhamdulilah saya duduk di depan bersama suami. Kami bisa melihat pemandangan yang kami lewati. Tampak gedung-gedung bertingkat. Lumayan ramai. Kanan kiri rumah bernuasa Islami. Bangunan tinggi dengan ada tulisan Arab di dinding. Tumbuhan tak begitu banyak Sesekali dapat dilihat tanaman kurma.  Kurang lebih 5 km dari Masjid Nabawi.

Akhirnya kami sampai di depan Masjiq Quba. Sebuah Masjid yang dibangun Rasulullah sendiri ini sudah di depan mata.

“Subhanallah, “ ucapku lirih

“Alhamdulillah Ya Pak, kita sampai di sini,”

“Alhamdulillah, yuk turun!” ajak suami.

Kami semua Jemaah turun. Cuaca cerah saat itu. Agak panas. Segera aku keluarkan payung dari tas. Sejenak kemudian kami diberi penjelasan oleh pemimpin biro, Ustad Anwar. Kami dihimbau untuk salat sunah dhuha dan tahiyat Masjid dua rekaat. Akhirnya kami berpisah  dengan suami. Kaum ibu dan bapak berbeda pintu dan tempat salat.

Saya bersama ibu-ibu memasuki masjid. Suasana sangat ramai sekali. Kami langsung salat sunnah. Bahagia rasanya bisa salatdi rumah ibadah ini. Adem rasanya. Masjid Quba mempunyai sejarah yang sangat lekat  Nabi Muhammad shallallahu’alahi wa sallam. Masjid Quba ini berada di tepi kota Madinah. Menurut sejarah, kala itu Nabi Muhammad baru saja menyelesaikan perjalanan hijrahnya dari kota Mekah kemudian memerintahkan memmbangun Masjid Quba.

Masjid yang dirancang oleh Nabi Muhammad ini didirikan pada Senin, 8 Rabiul Awwal 1 Hijriah (23 September 622M) di atas sebidang tanah seluas 1.200 meter persegi milik keluarga Kalsum bin Hadam dari Kabilah Amru bin Auf.

Sejenak saya amati ruangan Masjid Quba. Ruangan konon bertiang pohon kurma dan beratap  pelepah daun kurma bercampur tanah liat. Usai Masjid quba dibangun, Nabi Muhammad turut memimpin salat terbuka untuk para sahabar. Bahkan semasa hidupnya Rasulullah selalu pergi ke Masid Quba setiap hari Sabtu, senin dan Kamis.

            Hari sudah siang kami melanjutkan perjalanan menuju Kebun Kurma. Wah, rasanya tak sabar ingin bisa memetik pohon kurma.

#gbmkabupatensemarang

#tantangan30hari menulisdesemberceriagbm

 

Rabu, 22 Desember 2021

Aku, Ibuku dan Anak-anakku


 

            Hari masih pagi ketika anak-anak dan cucu  mengucapkan hari Ibu lewat WA atau VC. Hati rasanya nano-nano. Haru dan bangga dan bahagia karena di usia senja ini anak-anak makin sayang dengan Ibunya.  Anak-anak kini telah dewasa. Alhamdulilah di usia yang hampir pensiun, ketiga anak yang semuanya cowok sudah selesai bersekolah dan semuanya telah bekerja. Dan yang lebih membahagiakan seorang ibu adalah semuanya telah menemukan tambatan hati. Kini mereka sudah mandiri membangun rumah tangga. Rasa bangga benar-benar terukir di hati orang tua. Ketiga anak yang manut tak neko-neko seperti kebanyakan anak zaman now yang terpengaruh dengan hal-hal negatif.

            Memori saat awal menjadi ibu kembali hadir saat hari Ibu kali ini. Ya, kenangan 33 tahun lalu. Bagaimana ya kisahnya? Yuk ikuti ceritanya ya

            Tanggal 20 Desember kami menikah, 27 Desember anak pertama lahir. Lho kok bisa? bisa dong. Maksudnya setahun kemudian setelah pernikahan. 20 Desember 1987 menikah, setahun kemudian 27 Desember 1988 lahirlah bayi mungil di dunia. Menjadi kebahagiaan tersendiri anak pertama lahir dengan bobot 32 kg dengan panjang 50 Cm.

            Masih ingat saat akan melahirkan. Waktu itu kami menempati rumah kontrakan di dekat sekolah. Rumah dinding berpapan ini bagi kami sudah bagus dengan biaya kontrak waktu itu 100 ribu rupiah satu tahun. Saat hamil saya selalu memeriksakan kandungan ke Ambarawa. Mengandung anak pertama itu benar-benar masih ada rasa takut ini itu. Makanya saya pilih bu Bidan Ambarawa yang menurut teman-teman sekantor bagus. Ikutlah saran teman-teman. Setiap bulan saya diantar suami periksa.

 

            Jelang HPL perut tak karuan. Rasa mules terasa. Perut rasanya kencang. Kemudian saya ke kamar mandi. Ada plek merah di celana. Saya bersama suami langsung menuju ke Ambarawa. Kebetulan berbagai keperluan melahirkan sudah jauh-jauh hari dibeli. Sudah saya masukkan dalam tas. Untuk keperluan ini sebulan sebelumnya saya selalu bertanya kepada teman apa saja yang dibeli. Sebuah daftar dengan aneka keperluan saya tulis rapi di buku.

 

Sampai di Bu Bidan Yur, saya diperiksa. ternyata masih jauh dari perkiraan lahiran. Entah kenapa waktu itu kami memutuskan pulang. Bu Bidan juga menyetujuijika saya pulang. Rasa sakit juga sudah berkurang.

 

Sampai di rumah taka da rasa sakit lagi. Namun, tengah malam rasa mulas kembali ada. Waktu itu pukul 02.00. Jelas tidak mungkin kami ke Ambarawa. Saat itu entah pikiran hanya ingin melahirkan di Ambarawa, padahal di Sumowono banyak bidan. Mungkin kemantapan yang utama. Malam hingga pagi saya benar-benar kesakitan. Rasa ditahan sampai pagi. Pagi itu 27 Desember saya dan suami berangkat Bu Bidan Ambarawa dengan naik angkot. Kami bawa kembali tas yang sudah berisi berbagai perlengkapan.

 

Sampai di rumah bersalin saya diperiksa lalu masuk ke ruangan. Rasa sakit makin terasa. Tiap detik makin kencang. Saya merintih dan bolak balikkan badan. Berbagai posisi badan rasanya tak berubah rasa sakitnya. Aku pegangi suami sambil menahan rasa sakit. Keringat bercucuran.

            “Sakit Mas, “ ucapku menahan rasa sakit

            Dipati roso saja ya, Mas?” maksudnya seperti kalau mau operasi. Hal ini jelas tak mungkin.

            “Ya, dipacu saja ya Mas, rasanya tak kuat. Sakitnya kok seperti ini ya?” Suami mengelus-elus tanganku, berusaha membantu mengalihkan perhatian agar rasa sakit hilang. Akhirnya saya disuntik pacu. Seharusnya suntik pacu untuk ibu yang ada masalah dengan kelahiran. Benar juga kata teman bahwa suntik pacu lebih sakit rasanya. Saya benar-benar kesakitan saat itu. Berulang kali suami menghibur dan berdoa. Saat itu saya sudah ditemani Ibuku. Seorang wanita yang setia menunggu anaknya akan melahirkan. Segala keperluan dipersiapan karena jelang melahirkan ibu sudah di rumah kontrakan kami.

            Tepat pukul 14.00 lahirlah bayi laki-laki. Rasa syukur tak terhingga pada Allah. Kemudian bayi dibawa ke ruang khusus. Tidak seperti saat ini langsung diperlihatkan. Badan saya dibersihan oleh Bu Bidan. Saya pun diberi tambahan darah karena saat itu mengeluarkan darah amat banyak.  Selang sehari, badan saya sudah sehat dan diperbolehkan pulang.

            Sampai di rumah segala keperluan bayi dipersiapkan oleh Ibuku. Mulai dicarikan tukang pijat setelah beberap hari, dibuatkan jamu untuk diminum. Kemudian ramuan yang dioleskan perut sampai obat mata herbal namanya pupuh, yang diteteskan pada mata. Setiap pagi, Ibu selalu meracik jamu untuk diminum. Sehari-hari dedek kecil yang merawat Ibu dibantu suami. Cucu pertama benar-benar disayang neneknya. Sampai puput atau istilah lainnya tali pusar sudah lepas Ibu masih bersama kami. Setelah selamatan lahiran baru Ibu pulang. Bersyukur banget Ibu bersama kami.

            Selang tiga tahun persis anak kedua lahir. Kemudian anak ketiga lahir pada saat anak kedua baru berusia satu setengah tahun. Orang jawa menamai sundulan. Alhamdulillah ketiganya tumbuh menjadi anak yang baik. Syukurlah bisa membanggakan orang tua.