Selasa, 21 Desember 2021

Berlama-lama Beribadah di Masjid Nabawi (21)

 

Setelah beristirahat sejenak di kamar, saya mandi dan bersiap-siap menuju masjid untuk salat berjamaah azar. Kali ini saya sudah berencana untuk lama berdiam di Masjid Nabawi. Setelah salat azar kami akan langsung salat magrib. Ini semua untuk menyingkat waktu. Selain itu ada rencara malamnya untuk berziarah ke Makam Rasulullah yang akan dipandu oleh seorang ustazah yang sudah disediakan oleh biro.

Tas sudah saya isi dengan beberapa makanan ringan yang kebetulan waktu berangkat ada teman yang membawakan. Katanya saat di Masjid bisa dimakan agar tak lapar. Selain itu ada buku catatan doa serta buku-buku lain saya bawa.

Saya bertiga berjalan menuju Masjid. Suasana di Madinah tak pernah sepi. Selalu ramai dengan jemaah yang akan beribadah di Masjid Nabawi. Tampak Jemaah dari berbagai negara datang ke Masjid untuk umroh. Ada yang satu keluarga karena ada anak kecil yang bersama-sama. Jemaah ada yang berada di halaman sedang istirahat dengan duduk-duduk di serambi masjid. Sebelum masuk masjid saya kadang duduk –duduk di halaman sambil menikmati suasana serambi sambil memperhatikan indahnya payung raksasa.

Dengan bahasa sebisanya kadang saya dan Bu Endah menyapa seseorang dengan salam. Lalu menyapa anak kecil yang imut dengan baju panjang dan hijab yang cantik. Sang Ibu lalu menyebutkan asala negara. saya pun menyebut negara Indonesia. Walaupun tak berkomunikasi kami bisa saling menyapa itu rasanya senang.

Tak berapa lama saya masuk masjid. Seperti biasa kami diperiksa tas yang kami bawa. Karena memang saya tak membawa berbagai macam, kami bertiga lolos sensor. Kami pun menuju tempat yang kosong. Suasana masjid tetap ramai. Masih banyak juga Jemaah yang sedang mengikuti kajian. Tampaknya ada secara rutin. Saya berusaha menyimak walaupun tak mengerti bahasanya. Seorang wanita setengah baya sedang ceramah, kemudian secara bergiliran wanita-wanita yang masih remaja membaca alquran.

 Detik-detik jelang azan asar, masjid makin banyak yang datang. Sesaat saya lihat suara wanita bergamis hitam yang merupakan petugas berucapa agak keras dan mengusir Jemaah.

“Hajjah, hajjah,”

Intinya Jemaah tidak boleh menempati tempat yang sudah diberi garis. Namun, masih banyak juga Jemaah menempati tempat tersebut. Berdirilah Jemaah tersebut untuk mencari tempat baru yang ada di belakang. Menempati shaf di depan itu ada kebahagiaan tersendiri. Tentu saja Jemaah harus datang lebih awal.

Saya pun menyadari dan ikhlas karena tak mendapatkan tempat di depan. Walaupun begitu kami tetap bersyukur.

Segera saya salat sunah lalu berzikir tiada henti. Membaca doa-doa yang tertulis di buku kecil. Azan azar pun berkumandang. Itu bukan berarti salat segera dimulai. Ada jeda satu jam untuk sampai pada salat berjamaah. Jeda waktu bisa digunakan membaca alquran, berdzikir atau salat sunnah. Tibalah salat berjamaah di masjid Nabawi. Suara merdu benar-benar menyentuh kalbu. Rasanya ingin menangis karena terharu. Alhamdulilah bisa salat berjamaah dengan lancar.

Hari itu kami tidak pulang ke hotel. Kami masih berdiam diri di masjid sampai magrib dan isya. Selama menunggu waktu salat berikutnya bisa digunakan untuk salat sunnah, membaca alqurnan, berdoa. Jika lelah dan haus ada juga seorang yang membagikan minuman air zam-zam. Namun, lebih banyak saya mengambil sendiri di tempat-tempat tertentu. Banyak tempat disediakan air zam –zam. Tangki kecil -kecil berjajar dengan jumlah yang amat banyak. Disediakan pula gelas-gelas plastik sekali pakai.

Alhamdulillah usai salat Isya, kami pulang ke hotel kemudian bersiap-siap berziarah ke makam Rasulullah yaitu ke Raudah. Konon ini yang dinanti-nantikan Jemaah umroh. Semoga acara malam nanti berjalan lancar.

#gbmkabupatensemarang

#tantangan30hari menulisdesemberceriagbm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar