Sabtu, 26 Februari 2022

GBM dalam Tantangan





Untuk menggeliatkan GBM, pengurus mengadakan even Tantangan Menulis. Hal ini sudah berlangsung tahun lalu. Dimulai tantangan menulis harian, tantangan bulan Ramadan dan tantangan mingguan. Dari kegiatan tersebut telah menghasilkan sebuah karya berupa buku solo. Buku puisi karya Bu Maria Utami, buku ramadan karya Bu Nur Mualifah dan Bu Noor Alfiyah. Lainnya masih dalam proses penerbitan. 

Menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya yang diamanahi sebagai ketua ketika ada yang telah menelorkan buku. 

Kali ini yang masih berlangsung adalah menulis harian. Mulai bulan Maret 2022 akan digerakkan lagi dengan tema *Maret Bahagia* dengan PJ Bu Maria Utami. Selain itu Tantangan GBMMSS juga masih berlangsung dengan PJ Bu Surti. Setiap anggota yang bergabung menulis satu minggu sekali dalam bentuk cerita apa saja. Bisa satu cerpen, satu bab novel atau kisah inspiratif. 

Tantangan memang kadang dibutuhkan agar kita termotivasi untuk menulis.  Motivasi  amat berarti bagi seorang penulis. Kita saling kejar, saling mengapresiasi,  dan saling dukung. Namun, kadang  kita  _nglokro_. Hal ini karena kesibukan yang tiada akhir. Kita memang butuh niat sungguh-sungguh dengan menyempatkan diri. Siapa sih yang tidak sibuk. Kita akan terus sibuk. Kita memang harus meluangkan waktu untuk bertekad menulis. Kalau menunggu waktu luang rasanya sulit. 

Oleh karena itu, mari niatkan sungguh-sungguh agar impian mempunyai buku terwujud. 

Semoga niat baik dari GBM membawa kesuksesan anggota untuk terus meningkatkan kualitas GBM dan terus sebarkan virus literasi. 

Berani tidak ya untuk tantangan? Itulah yang kadang masih membuat kita ragu untuk ikut. Kita memang harus butuh tantangan agar lebih meningkat. Rasanya puas, bahagia jika telah menyelesaikan tantangan. Benar-benar membuat hati berbunga-bunga. Tentu saja butuh tekad. Oleh karena itu, mari tantang diri sendiri agar kita bisa meningkatkan kualitas tulisan. Yang jelas banyak manfaat jika ikutan tantangan. Kita akan tersenyum bahagia. 

Yuk para anggota GBM ikutan tantangan GBM. Salam literasi


Ambarawa, 27 Februari 2022


  

Sabtu, 12 Februari 2022

Bersilaturahmi ke Limbangan

 




            Menjadi kebiasaan keluarga besar SMPN 2 Banyubiru jika ada suka atau duka kami saling kunjung. Seperti hari ini kami segenap guru dan karyawan menghadiri undangan Pak Linggar yang baru saja mempunyai putri pertama. Kami bersama-sama menuju  ke Limbangan Kab. Kendal pada hari Sabtu, 12 Februari 2022.

            Tiga armada sudah berada di depan sekolah sejak pagi. Mobil Izuzu lumayan bagus dan besar akan mengantarkan kami menuju Limbangan. Tepat 10. 30 kami memasuki mobil sesuai degan pembagian tempat yang telah di-share di Grup WA. Hampir semua guru dan karyawan ikut serta. Hanya beberapa teman yang tidak ikut karena sakit atau ada kepentingan lain.

            Meluncurlah kami dengan segenggam harap semoga perjalanan lancar. Saya duduk di depan bersama Bu Mia dalam mobil berwarna hijau. Di jok belakang ada Bu Dyah, Bu Tri, Pak Dito, Bu Sum dan beberapa teman yang rumah Ambarawa dan sekitarmnya. Pembagian mobil diatur agar bisa satu arah.

            Cuaca amat cerah mengiringi perjalanan kami. Dalam hati, saya akan melakukan perjalanan yang akan mengingatkan jejak-jejak lama. Selama bertahun –tahun saya dan suamilaju menuju tempat kerja yang berada di Sumowono. Tempat kami mengais rezeki di SMPN 1 Sumowono. Tak terasa kami sampai di Jetis Bandungan. Beberapa teman memang sengaja naik dari tempat rumah Pak Dito. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan Pak Sopir yang ramah. Sambil berbincang-bincang, sampailah kami di Bandungan. Sampai di sini ada yang berbeda. Bandungan berwajah baru. Pasar yang dulu berada di tengah-tengah kota atau dulu di depan persis objek wisata bandungan sudah berpindah di area baru dengan bangunan baru. Sedangkan pasar lama kini menjadi taman yang indah dengan aneka bunga dalam tatanan yang indah. Ada sebuah ukiran bertuliskan Bandungan sekilas tampak dari kaca.

            Kami hanya bisa melihat dari kejauhan. Tampak Bandungan dengan hiruk pikuk para pedagang bunga maupun buah yang berada di pinggir jalan tak lagi. Trotoar pun kini rapi tidak seperti dulu penuh mobil yang diparkir tak beraturan. Kini bersih dan lalu lintas lancar.

            Namun, menuju ke barat masih ada kios-kios kecil yang menjual tahu serasi siap makan dan susu kedelei. Toko-toko baru pun masih banyak bertebaran sepanjang jalan sampai di Sumowono. Perjalanan lancar sampai di Sumowono. Sejenak mata memandang ke arah sekolah tempat saya kali pertama menjadi guru. Tampak lebih cantik. Jejak-jejak lama kembali melintas.

            Beberapa menit kemudian kami sudah keluar Sumowono menuju Limbangan. Pemandangan indah ketika sudah sampai di Bantir. Ada bangunan lama yang masih apik. depannya ada para penjual aneka jajanan. Mungkin para pedagang ini menyediakan jajanan untuk yang akan atau pulang dari objek wisata Tujuh Bidadari. Kini memang banyak objek wisata baru. Di Sebelah kanan juga tampak pegunungan dengan bukit yang atasnya tertulis Bantir Hill.

            Udara sejuk menyertai perjalananan kami dengan jalan penuh tantangan. Jalan berliku naik turun kami lalui. Pak Sopir pun harus lincah kala berpapasan dengan mobil lain. Benar-benar menantang perjalanan kami hari ini. Udara segar dengan aneka pepohonan menjadikan kami tetap enjoy. Objek wisata baru yang dikelola desa pun banyak kami temui. Persawahan pun disulap jadi objek wisata. Sangat cocok untuk kaum muda berselfi ria.

            Kami jadi merasa bersyukur dibandingan dengan teman kami Pak Linggar yang tiap hari melewati jalan berliku ini. Namun, Pak Linggar yang merupakan guru baru ini tampaknya tak mengeluh atau merasa gelisah. Guru olah raga baru ini menikmati perjalanan jauh dengan senang walaupun harus pagi sekali sudah harus keluar rumah.

            Tak terasa kami memasuki desa Limbangan yang merupakan wilayah kabupaten Kendal. Lumayan ramai juga kala kami memasuki pusat desa. Usai kami melewati kecamatan, Sekolah SMP dan SMA sampailan kami di rumah Pak Linggar. Kami disambut dengan ramah.

            Kami bersama-sama memasuki rumah dengan bahagia penuh syukur. Bersama kami duduk lesehan dengan penuh keakraban. Bayi mungin dengan nama Adik Noya digendong Pak Linggar. Bayi mungil cantik dengan rambut tebal tampak nyaman di gendongan sang Ayah. Alhamdulilah bisa ikut merasakan kebahagiaan. Kami pun langsung menyerbu aneka jajanan yang disediakan tuan rumah. Silaturahmi ini menjadikan kami saudara dekat. Canda tawa menyertai perjamuan kali ini.

            Usai berdoa bersama dengan dipandu Pak Ali kami berpamitan pulang. Perjalanan nan indah kami nikmati dengan penuh syukur. Kami pun turun dari mobil untuk salat Dzuhur di Masjid Sumowono. Kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju rumah masing-masing. Alhamdulilah sampai rumah dengan selamat.

 

Ambarawa, 12 Februari 2022

           

Jumat, 04 Februari 2022

Serabi Ngampin, Kuliner Khas Ambarawa

 




Kuliner Ambarawa yang khas salah satunya adalah serabi  Ngampin. Serabi ini beda dengan serabi Solo. Serabi Ngampin ini berkuah santan yang nikmat. Cocok dimakan saat cuaca dingin seperti bulan ini.

Beberapa hari lalu, wisata kuliner yang satu ini tak lupa kami lewatkan bersama anak. Ia mengajak menu satu dan lainnya. Setelah makan malam dengan menu ayam bakar, kami tak ingin pulang. Tujuan kami mengelilingi Ambarawa di waktu malam dengan aneka kuliner. 

Ambarawa benar-benar berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kini tampak beda dengan gemerlap lampu hias sepanjang jalan mulai patung dr. Cipto Mangun Kusuma sampai Swalayan Laris baru. Kursi antik berjajar di tepi jalan agar masyarakat bisa duduk-duduk menikmati kuliner kota Ambarawa di waktu malam. 

Kami pun menikmati malam dari Ambarawa sampai ke Banyubiru. Selanjutnya kami menuju jalan baru arah barat. Sampailah kami di pusat makanan khas Ambarawa yaitu serabi yang berada di Desa Ngampin. Hanya beberapa menit dari Pom Bensin Ngampin, ada banyak kios yang berjajar di sepanjang jalan. Kios serabi yang jumlahnya sampai 70-an.

Serabi merupakan makanan khas Ambarawa. Walaupun sudah sering ke sini, kali ini tak melewatkan untuk menyantap kuliner serabi Ngampin. Mobil berjalan pelan untuk bisa parkir di depan kios terbuka. Semua kios ada nomornya. Mulai 1 sampai 70-an. Kami tak memilih kios mana yang pas. Sampailah pada kami pada kios Ibu Prihanti. Nomor berapa ya kok lupa. Kami berlima turun lalu duduk lesehan di karpet hijau. Ibu paruh baya pun menyambut kami dengan senyum.

Ngersake pinten Bu, pesan berapa Bu,” tawarnya dengan tersenyum. 

“Lima Bu,” jawabku sambil memandang penjual. Ibu Penjual langsung meletakkan serabi kecil-kecil berwarna putih, coklat dan hijau di mangkok  beling bercorak kembang. Selanjutnya diguyurlah dengan kuah santan yang berwarna coklat.

“Pakai ketan tidak, Bu?”

Mboten riyin, mangkeh kersane mendet piyambak, tidak usah biar nanti ambil sendiri,” balasku dengan bahasa jawa.

Berlima menikmati serabi kucur. Serabi yang berbentuk seperti apem mini amat segar apalagi dinikmati kala cuaca dingin. Kuah berupa santan dengan manis gula jawa ini masih hangat sehingga amat segar. Sambil makan serabi, saya lihat tungku dari tanah lihat dan alat seperti wajan dari gerabah masih terlihat jelas seperti baru saja dipakai. Di sebelah Ibu penjual tertata serabi dengan aneka warna dalam wadah tampir dengan atasnya diberi kerudung plastik putih bening yang mengerucut ke atas. Jadi serabi bisa terlihat.



Hanya dengan enam ribu rupiah satu mangkok akan menyegarkan badan. Selain itu serabi akan lebih nikmat disantap bersama teman atau keluarga. Mau? Yuk jalan-jalan ke Ngampin yaitu jalan utama dari Ambarawa ke Magelang. Dari Monumen tank palagan Ambarawa ke barat kurang lebih satu kilo. Ketemu deh kios-kios kecil di pinggir jalan baik di kanan atau kiri. Selamat menikmati.

 

Ambarawa, 4 Februari 2022

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selamat Berjuang Anakku


Kalau Allah berkendak, apa pun bisa terjadi. Seperti yang dialami anak ragil kami. Tak kami duga sebelumnya jika kini ia bangkit kembali untuk melanjutkan kuliah S2 setelah terpuruk setahun lebih. Saya dan suami pun hanya pasrah ketika dirinya tak juga bergerak setelah berdiam diri di rumah karena kuliah dilaksakan daring.

“Ya, sudah Pak, kita tak bisa mengejar-ngejar lagi untuk meneruskan?”ucapku sore itu

“Sebenarnya ya eman-eman, tinggal tesis saja,” jawab suami agak kecewa.

“Ya, bagaimana lagi. Kita sebagai orang tua sudah berulang kali memberi semangat.”

Setiap kali kami selalu mendorongnya untuk menyelseaikan kuliahnya. Namun, kenyataan berkata lain. Ia diam tak jelas akan menyelesaikan tesisnya atau tidak.  Kami pasrah pada Allah. Biar dia menentukan sendiri jalan hidupnya. Kami pun merestui ketika dirinya akan menikah. Walaupun sebelumnya bapaknya mengatakan selesaikan dulu kuliah baru menikah. Toh dia sudah mempunyai penghasilan sendiri walaupun tak sesuai dengan jurusan pendidikannya sebagai guru. Ia memilih mengembangkan usahanya.

Setelah sekian lama, tiba-tiba ia bercerita akan ke Semarang pada akhir tahun 2021. Mulailah berkonsultasi dengan dosen pembimbing. Alhamdulillah kedua dosen memberi lampu hijau. Berkat sang Istri, ia bangkit lagi. Suppot untuk menyelesaikan tesis amat berarti bagi anak ragil.  

Selanjutnya ia mendaftakan untuk sidang tesis setelah wira-wiri ke Semarang dengan membawa tesis.  Beberapa teman yang telah lulus amat support denganya. Berulang kali kami mengucap syukur.  Akhirnya, awal Februari, sidang tesis dilaksanakan secara online.

“Mohon doanya Bapak Ibu agar sidang berjalan lancar,”pintanya sore itu. Kami pun selalu memohon pada-Nya agar diberi kemudahan. Berbagai persiapan telah dilaksanakan. Yang membuat grogi adalah penguji termasuk dosen senior. Oleh karena itu selain persiapan mental tak henti-hentinya ia berusaha dan berdoa.

Sang Bapak pun saking senangnya akan memberi hadiah jika benar-benar bisa lulus S2. Sebuah kemeja putih pun dibelikan agar acara lancar. Pada hari H, ia pun mohon doa restu. Rasanya ikut deg-degan. Berulang kali saya memantau grup keluarga. Ia memilih di rumah temannya. Kala ia melaksanakan ujian, ada beberapa teman di sekitarnya.

Tak lama kemudian, kami bisa mengikuti dengan menggunakan IG secara live. Kami sekeluarga hanya bisa berdoa dari jauh.  Pertanyaaan demi pertanyaan dilontarkan oleh dosen-dosen lewat zoom. Sesaat ikut tegang ketika pertanyaan harus dijawab anak. Alhmdulillah setelah kurang lebih dua jam sidang tesis berjalan lancar.

Terus berjuang anakku, Yoga Pamungkas semoga sukses.

 

Ambarawa, 4 Februari 2022