Minggu, 01 Oktober 2023

Untuk Cucuku Zelin


 Untuk Cucuku Zelin (1)

Oleh: Budiyanti Anggit 

Zelin sayang, tanggal 20 September 2023 lalu genaplah usiamu 9 bulan. Ah kau makin cantik saja dengan berbagai perkembanganmu. Apalagi saat pagi ini kau memakai mukena. Hemm semoga menjadi anak Sholehah. Aamiin.

Usia sembilan bulan 

Zelin, ingin kutuliskan tentangmu. Apa saja karena kau saat ini makin menggemaskan. Kelak ketika kau sudah bisa membaca, tulisan ini menjadi memorimu. 

Sejak kau lahir, kau sudah ditunggui orang-orang terkasih. Selain ayah Bundamu dan Eyang Putri ( Uti) Eyang Kakung ( Akung) kini ada juga Mbah Rayi ( sebutan Eyang Putri besan yang asli orang Purwodadi).  Mbah Rayi menemanimu hingga usiamu selapan (35 hari). 

Beberapa hari setelah kelahiranmu, kau suka rewel jika malam. Nah, Mbah Rayilah yang menggendongmu dan meninabobokan kembali agar kau tidur nyenyak. Banyak yang bilang kalau suka digendong jadi ketagihan. 

Saat usia selapan ( 35 hari) Kau dicukur hingga habis rambutmu yang tebal. Saat itu kau pun jadi gundul, hee lucu deh.

Usai usiamu selapan, Mbah Rayi besan harus pulang ke desa karena jika terlalu lama, kebun jagung Mbah Kakungmu Purwodadi yang biasa disebut Mbah Roko tidak ada yang bantu untuk memanen. Dengan perasaan sedih Mbah Rayi pulang. Dipeluk cium berulang kali wajahmu yang plontos. 

Sejak usiamu selapan ( 35 hari), kau bersama bunda dan ayahmu belajar mandiri mengasuhmu dengan didampingi Mbah Uti dan Mbah Kakung. 

Seperti biasa kau masih suka begadang jika malam. Suka rewel dan terjaga dari tidurmu. Ayah dan Bundamu pun ikut bangun untuk menggendongmu agar tidak rewel lagi. Biasanya jelang pagi kau baru tidur. 

Zelin, cantikku...

Beberapa waktu usai tak ada Mbak Rayi, kau bersama Uti dan Akung agar ayah Bundamu bisa istirahat setelah semalaman kadang tidak tidur. Oleh karena itu, pagi sekali Uti harus memasak untuk dua keluarga. 

Usai memasak, Uti dan Akung mulai merawatmu.Kau pun dimandikan Akungmu. Akungmu paling terambil dibanding Uti. Badanmu yang kecil membuat Uti sedikit gamang. Walaupun beberapa waktu kemudian Uti pun berani memandikan tetapi dengan jaring yang diletakkan di atas ember bayi. Canggih juga zaman sekarang. Kau pun nyaman di atas jaring yang berwarna pink. 

Pagi hingga siang kau bersama Uti Akung di rumah atas. Sedangkan rumahmu berada di bawah yang tak jauh dari rumah Akung Uti. Jika azan dhuhur tiba kau bersama bunda dan ayahmu. 

Berjalannya waktu ternyata ayah dan Bundamu tak bisa istirahat. Akhirnya kau pun bergantian diasuh. Kadang pagi kadang siang. 

Pada tahun ajaran baru ada rejeki tak terhingga dari Allah. Bundamu mendapat amanah untuk mengajar di sekolah yang berada di Bergas. Syukur Alhamdulillah. Uti dan Akungmu amat bahagia dengan rejeki ini. Kau pun diasuh bersama Uti dan Akung serta ayahmu yang kerjanya tak harus berangkat pagi. Ayahmu berbisnis sehingga bebas tak ada yang ngatur. Nah, Ayahmu ikut membantu mengasuhmu.

Bagaimana cara asuh saat Bundamu bekerja? Tunggu kelanjutannya 

Ambarawa, 1 Oktober 2023


2 komentar:

  1. Menginspirasi untuk bercerita kepada cucu kelak jika dewas, meskipun sang nenek atau kakek sudah tiada. Semoga panjang umur dan sehat selalu.

    BalasHapus
  2. Akung Uti yang sayang Zeliin dan menjadi penyemangat untuk menulis.

    BalasHapus