Senin, 02 Oktober 2023

Untuk Cucuku Zelin (2)



Untuk Cucuku Zelin (2)

Ketika Uti menulis ini kau sudah  bersama bundamu sejak pukul 15.00. Saat itu kau tidur setelah Uti ninabobokan di gendongan kuno yaitu selendang biru. 

Zelin, Uti akan cerita yang hari saja dulu ya. 

Setelah Bundamu berangkat kerja pagi tadi, kau baru bangun. Kata ayahmu, sebenarnya subuh sudah bangun. Namun, setelah ditepuk-tepuk lagi kau pulas lagi. Baru pukul 6.30 kau bangun lagi. 

Segera Uti gendong kamu sesaat sambil menciumi pipimu yang putih berulang kali.  Karena Uti mau memasak,  kau pun diambilkan nasi tim yang dibuat Bundamu semalam. Ayahmu mengambil di siler lalu memanaskan nasi tim yang sudah di wadah khusus. Kalau memanaskan tinggal ditaruh di panci. 

Eh Bundamu tuh rajin membuatkan nasi tim yang berisi aneka macam lho. Sesekali Uti icipi. Gurih, tidak lembut seperti bubur dan tidak asin. Setelah Uti tanya pada Ayahmu ternyata ada berbagai macam jenis agar menu makanmu bergizi. 

Bundamu tetap patuh dengan  ASI eksklusif. Tak ada susu lain. Mulai enam bulan usiamu baru boleh ada makanan tambahan. ASI eksklusif mu selalu ada di freezer. Bundamu selalu membawa alat pompa atau  disebut pumping Asi untuk disimpan khusus. Selain itu Bundamu pun membeli alat untuk menyimpan Asimu dalam bok kecil yang ada esnya. Hemm canggih juga.  Zaman Uti dulu belum ada seperti itu. Mungkin orang tertentu saja yang punya. 

Ada plastik kecil khusus untuk menampung ASI. Sesampainya di rumah dimasukkan ke freezer. Kadang Bundamu juga pumping pagi agar ada persediaan ASI. 

Zelin, sudah tidurkah malam ini pukul 19.50? Uti teruskan ya. 

Oh ya. Nasi timmu itu terdiri dari nasi, ada daging, atau ayam Jawa, aneka sayuran, tahu atau tempe. Semuanya dalam jumlah sedikit kemudian dimasukkan dalam slow rice cooker. Rice cooker khusus ini untuk memasak nasi tim yang membutuhkan waktu minimal 2 jam. Wah lama juga ya.

Setelah dua jam, nasi tim tadi dihaluskan dengan sendok agar lebih halus. Lalu disaring dengan saringan. Saat Uti melihatnya. Butuh waktu lama untuk siap disantap. Nah, seharusnya kau lahap dengan menu itu. Namun, kadang kau sulit untuk makan. Awalnya lancar kau disuapi Ayahmu. Baru beberapa sendok kau sudah gerak sana sini sambil menghindari suapan demi suapan. Bosan ya Zelin cantikku. 

Nah, jika seperti itu,  Uti turun tangan ikut menyuapimu. Namun,  gagal juga. Kau pun tutup mulut ada istilah GTM hee apa hayo. Istilah baru bagi Uti yaitu Gerakan Tutup Mulut. Kau akan menutup mulutmu ketika disuapi. Ayahmu pun kadang ikut sedih.

"Dik ..dik makan dong, " bujuk Ayahmu. 

Uti dan Akung pun ikut nimbrung jika kau sulit makan.  

Nah, berbagai usaha dilakukan ayahmu. Anehnya kau Zelin mau buka mulut jika diberi buah-buahan. Buah apa pun mau, misalnya : Mangga, pepaya, apel,  pisang. Kau akan lahap jika diberi buah. Kau pun bisa memegang sendiri. Namun harus waspada agar tidak terlalu besar. Eh jeruk pun kau suka. Uti kadang memberimu setelah dihilangkan isinya. Kau kuat menyesap. 

Nah, Ayahmu pun akhirnya punya akal. Awalnya kau diberi buah. Seperti tadi pagi. Kebetulan punya mangga matang. Diiris kecil-kecil buah yang hanya sepotong. Selanjutnya irisan kecil ditaruh di ujung sendok. Lalu disuapilah kau dengan cara seperti itu. Kau kadang paham. Kau hanya memakan buahnya dengan membuka mulutmu tidak lebar. Namun, siasat seperti ini kadang berhasil. Wkkk kau dikibuli ayahmu. Atau kadang jeruk digunakan untuk pancingan agar makanmu lahap. Ada-ada saja kau Zelin.

Itulah makanmu Zelin. Setelah makan, bajumu belepotan. Kau pun akhirnya mandi bersama Akungmu.  Akung akan memandikan sampai berganti pakaian serta aneka perlengkapan bayi yang harus kau pakai. Besok lagi Uti ceritakan apa saja perlengkapan usai mandi.

Usai mandi bersih kau akan minum ASI yang dicairkan dulu lalu dimasukkan  cangkir. Setelah  itu dipanaskan dalam wadah yang diberi air hangat. Kau lahap dengan ASI eksklusif yang ditaruh dalam cangkir dengan diberi sedotan. Dulu kau  pakai botol tetapi lama-lama tidak mau. Kau pun menyedot ASI dengan lancar walaupun kadang kau tidak menyedot tetapi meniup. Jadilah ASImu berbunyi. Hemm kau Zelin bikin geli juga Utimu ini. 

Pukul 9.00 kau mulai rewel. Kau pasti mengantuk. Namun, sampai pukul 9.30 kau tak juga tidur. Akhirnya Uti pun turun tangan setelah memasakkan Akungmu rampung. Kau pun Uti gendong sambil jalan-jalan ke sana-sini. Kutepuk-tepuk pahamu.

"Bobok nggeh Zelin," ucap Uti. Namun kau masih ngajak gojek dengan tawamu lucu'yang menggemaskan. Setelah  itu kau tertawa dengan memperlihatkan gigimu yang baru 4. 

"Bobok dong Zelin."

Tak lama kemudian kamu terlelap dalam gendongan.  Kau pun Uti baringkan di kasur kamar depan yang sepi dengan jendela tertutup rapat. Di sekitarmu Uti beri bantal guling agar kau yang sudah bisa merangkak ini aman. Tak lupa kipas angin menyala dengan diarahkan ke tembok. Itu pun tak kencang. Kalau nyaman kau bisa tidur berjam-jam.

Ketika kau tidur, Uti terus memantaumu tiada henti. Sesekali Uti tengok keadaanmu. Jika kau nyenyak Uti mulai melanjutkan pekerjaan lain.

Kau itu jika sudah bangun kadang tidak menangis. Takutnya jika kelamaan kau sudah di bibir dipan. Untunglah tadi pagi saat kau terjaga Uti tepuk-tepuk pantatmu. Alhamdulillah kau tidur lagi. 

Saat kau tidur, Uti tiada henti menengokmu. Pas pukul 11.50  Uti menengokmu. Kau pun ternyata sudah bangun. Kau diam saja. Setelah itu Uti mendekatimu. Kau pun tersenyum bahagia. Uti pun mencoba mendiamkanmu dan menjauh.  Ehh kau pun menangis. 

"Udah bangun cantikku," sapa Uti sambil menggendongmu. Uti peluk kau dengan penuh kehangatan. 

"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah di usiaku ini kau beri cucu cantik," gumamku dengan selalu mengucap syukur kepada Allah.

Ambarawa, 2 Oktober 2023



. 

Minggu, 01 Oktober 2023

Untuk Cucuku Zelin


 Untuk Cucuku Zelin (1)

Oleh: Budiyanti Anggit 

Zelin sayang, tanggal 20 September 2023 lalu genaplah usiamu 9 bulan. Ah kau makin cantik saja dengan berbagai perkembanganmu. Apalagi saat pagi ini kau memakai mukena. Hemm semoga menjadi anak Sholehah. Aamiin.

Usia sembilan bulan 

Zelin, ingin kutuliskan tentangmu. Apa saja karena kau saat ini makin menggemaskan. Kelak ketika kau sudah bisa membaca, tulisan ini menjadi memorimu. 

Sejak kau lahir, kau sudah ditunggui orang-orang terkasih. Selain ayah Bundamu dan Eyang Putri ( Uti) Eyang Kakung ( Akung) kini ada juga Mbah Rayi ( sebutan Eyang Putri besan yang asli orang Purwodadi).  Mbah Rayi menemanimu hingga usiamu selapan (35 hari). 

Beberapa hari setelah kelahiranmu, kau suka rewel jika malam. Nah, Mbah Rayilah yang menggendongmu dan meninabobokan kembali agar kau tidur nyenyak. Banyak yang bilang kalau suka digendong jadi ketagihan. 

Saat usia selapan ( 35 hari) Kau dicukur hingga habis rambutmu yang tebal. Saat itu kau pun jadi gundul, hee lucu deh.

Usai usiamu selapan, Mbah Rayi besan harus pulang ke desa karena jika terlalu lama, kebun jagung Mbah Kakungmu Purwodadi yang biasa disebut Mbah Roko tidak ada yang bantu untuk memanen. Dengan perasaan sedih Mbah Rayi pulang. Dipeluk cium berulang kali wajahmu yang plontos. 

Sejak usiamu selapan ( 35 hari), kau bersama bunda dan ayahmu belajar mandiri mengasuhmu dengan didampingi Mbah Uti dan Mbah Kakung. 

Seperti biasa kau masih suka begadang jika malam. Suka rewel dan terjaga dari tidurmu. Ayah dan Bundamu pun ikut bangun untuk menggendongmu agar tidak rewel lagi. Biasanya jelang pagi kau baru tidur. 

Zelin, cantikku...

Beberapa waktu usai tak ada Mbak Rayi, kau bersama Uti dan Akung agar ayah Bundamu bisa istirahat setelah semalaman kadang tidak tidur. Oleh karena itu, pagi sekali Uti harus memasak untuk dua keluarga. 

Usai memasak, Uti dan Akung mulai merawatmu.Kau pun dimandikan Akungmu. Akungmu paling terambil dibanding Uti. Badanmu yang kecil membuat Uti sedikit gamang. Walaupun beberapa waktu kemudian Uti pun berani memandikan tetapi dengan jaring yang diletakkan di atas ember bayi. Canggih juga zaman sekarang. Kau pun nyaman di atas jaring yang berwarna pink. 

Pagi hingga siang kau bersama Uti Akung di rumah atas. Sedangkan rumahmu berada di bawah yang tak jauh dari rumah Akung Uti. Jika azan dhuhur tiba kau bersama bunda dan ayahmu. 

Berjalannya waktu ternyata ayah dan Bundamu tak bisa istirahat. Akhirnya kau pun bergantian diasuh. Kadang pagi kadang siang. 

Pada tahun ajaran baru ada rejeki tak terhingga dari Allah. Bundamu mendapat amanah untuk mengajar di sekolah yang berada di Bergas. Syukur Alhamdulillah. Uti dan Akungmu amat bahagia dengan rejeki ini. Kau pun diasuh bersama Uti dan Akung serta ayahmu yang kerjanya tak harus berangkat pagi. Ayahmu berbisnis sehingga bebas tak ada yang ngatur. Nah, Ayahmu ikut membantu mengasuhmu.

Bagaimana cara asuh saat Bundamu bekerja? Tunggu kelanjutannya 

Ambarawa, 1 Oktober 2023


Minggu, 04 Juni 2023

Salat Idul Fitri

 

Salat Idul Fitri

            Gema takbir masih terus berkumandang hingga pagi ini. Arif dan Galih sudah rapi dengan baju koko putih yang baru. Mereka bersiap-siap berangkat ke Masjid. Sementara Bu Dian masih menata kupat beserta lauk dalam rantang untuk dibawa ke Masjid. Sambil menata, Ibu tiga anak ini tiada henti membangunkan si ragil untuk bangun dan segera mandi. Namun, hingga pukul 06.00 si Yoga tak bangun juga. Akhirnya Pak Cahyo segera menggoyang-goyangkan badan Yoga yang kecil itu. Yoga pun bergeliat sambil mengucek-ucek matanya.

            “Yog, cepetan bangun, salat Eid lho, ini sudah siang!” panggil Pak Cahyo dengan nada keras. Anak yang masih duduk di kelas 5 ini bangkit dari tidurnya lalu berlari menuju kamar mandi. Bu Dian pun geleng kepala melihat ulah anaknya. Ia pun meletakkan baju koko di tempat tidur anakknya.

            Akhirnya dengan cepat si Yoga memakai baju koko dan celana  jean lama yang sudah disiapkan. Selanjutnya bersama- bersama mereka berjalan menuju Masjid. Bu Dian memakai gamis coklat sedangkan Pak Cahyo memakai baju koko warna putih tulang.

            Suasana Masjid At-Taqwa sangat berbeda dari biasanya. Halaman Masjid ada tenda hitam berdiri kokoh. Tampak ibu-ibu yang semuanya sudah memakai mukena duduk sambil melantunkan takbir, tasbih, tahmid mengikuti suara di dalam masjid yang juga penuh dengan kaum laki-laki.

            Segera Arif, Galih dan Yoga langsung memasuki masjid. Sedangkan Bu Dian bergabung dengan Ibu-ibu di halaman Masjid. Tak lama kemudian salat Idul Fitri dilaksanakan. Salat yang dilaksanakan setahun sekali ini berjalan lancar dengan khutbah yang menyentuh jiwa yang disampaikan Pak Abdul Wahid.  Usai salat mereka saling bersalam-salaman. Ibu-ibu tetap di halaman sedangkan bapak-bapak di dalam. Selanjutnya mereka tidak pulang tetapi mengikuti acara tradisi doa bersama dalam dzikir tahlil dilanjutkan dengan makan bersama.

            “Ini untuk sini saja Yah, biar Bunda ikutan dengan ibu lain,” ucap Bu Dian memberikan rantang kupat opor ke Pak Cahyo. Arif yang duduk bersebelahan dengan ayahnya langsung menerima rantang yang berisi tiga wadah.

            Pak Cahyo pun menata rantang di depannya. Beberapa wadah dengan aneka lauk tersaji dengan apik di beranda masjid. Lontong. ketupat serta lauk opor, bakmi, sambal goreng menarik untuk segera disantap. Ketiga anak dan anak-anak lain menyantap hidangan yang jarang ada itu dengan lahap.

            Tak terasa acara makan bersama usai. Semua jemaah meninggalkan masjid. Begitu pula Arif dan kedua adikknya telah berjalan lebih dulu.

            “Mas, tunggu!” teriak Yoga.

            “Lewat sini saja,ya!” jawab Arif sambil berbelok ke kanan yang merupakan jalan lain menuju rumahnya. Ia mengikuti teman-temannya yang berjalan berbeda ketika berangkat tadi. Alhamdulillah salat Ied berjalan lancar dengan perut kenyang.

 

 

 

 

Malam Takbiran

 

Malam Takbiran (27)

Takbir berkumandang jelas dari masjid-masjid. Suaranya menyentuh hati. Arif, Galih, Yoga sibuk dengan obor yang akan dibawa saat takbiran. Mereka amat senang karena bisa ikutan takbiran setelah lama tidak ada karena pandemi.

            “Mana sih oborku?” tanya Yoga sambil membawa senter untuk mencari obor. Ia agak risau karena belum menemukan obor yang dicari.

            “Coba dicari dulu lagi mungkin lupa meletakkan,” ucap Bu Dian pelan yang ikutan mencari. Namun beberapa menit kemudian, ia dipanggil oleh kakaknya untuk diajak berangkat.

            “Obornya belum ketemu, tunggu dulu Mas,”

            “Lha obornya di sini kok ini sudah aku ambilkan!” teriak Galih.

            “Huuu kok gak ngomong sih, nih lho Adikmu mau nangis mencarinya.”

            Galih tertawa saja ketika ibunya menegurnya. Akhirnya ketiga anak Bu Dian berangkat menuju masjid. Galih dan Yoga telah memegang obor sedangkan Arif tidak membawa apa-apa.

            “Mas, nanti ikutan keliling kan?”

            “ya, Mas Arif nanti ikut dorong replika masjid.”

            Masjid At’Taqwa sudah penuh dengan anak-anak yang siap untuk takbiran. Kurang lebih ada 60 anak-anak. Ada yang membawa obor, membawa corong pengeras suara ada replika masjid. Suasana masjid tampak ramai.

            “Ayo berbaris, sebentar lagi kita berangkat!” ajak Pak Juli sambil mengarahkan agar anak-anak menuju barisan. Barisan pun lumayan panjang. Obor menyala berpendar memancar ke segala arah.

            Gema takbir terus terdengar mengiringi perjalanan anak-anak. Jalan kampung pun ramai. Mereka tersenyum bahagia menyambut lebaran. Barisan pun lumayan panjang. Selain anak-anak, para remaja dan orangtua pun ikut bergabung.

            Allah hu Akbar

            Allah hu Akbar

            Allah hu Akbar

            Walilillah Ilham

            Iring-iringian anak-anak berjalan menuju jalan kampung Kaliputih lalu sampai jalan raya. Yoga dan Galih tampak senang dengan obornya. Tiba-tiba Galih menyalip teman-temannya maju barisan depan. Obor tetap dipegang dengan tangan kanan. Sikap usilnya mulai dilakukan dengan menyenggol temannya. Tak lupa adiknya Yoga. Tentu saja hal ini membuat teman dan adiknya kesal.

            “Galih, apa-apaan sih, barisanmu mana?” tegur Arif kakaknya yang tahu adikknya selalu usil.

            “Weee wee,” balas Galih sambil menjulurkan lidahnya.

            “Hus kamu tuh di belakang, bukan sini!” bentak Dito, teman sekelas Galih.

            Kegaduhan tak terelakan lagi. Walaupun begitu takbir keliling tetap lancar walaupn sedkit berisik. Hal ini langsung disikapi Pak Juli selalu koodinator. Galih ditarik ke belakang tanpa banyak bicara.

            “Sudah kamu di sini saja bareng saya!” ucap Pak Juli tegas. Galih pun cengar cengir menuruti ajakan Pak Juli. Teman-temannya menertawakannya.

            “Syukurin!” seloroh Yoga.

            “Sudahlah tertib semua ayoo terus bertakbir!” seru Pak Yuli sambil berjalan.

            Alhamdulillah, kini anak-anak tertib hingga sampai masjid yang merupakan titik akhir. Seolah tak ada permasalahan tadi. Mereka mematikan obor dan istirahat di depan masjid. Minuman dan snack siap disantap dengan penuh kebahagiaan.

 

           

 

 

Sabtu, 20 Mei 2023

Malam Takbiran (27)

 

Malam Takbiran (27)

Takbir berkumandang jelas dari masjid-masjid. Suaranya menyentuh hati. Arif, Galih, Yoga sibuk dengan obor yang akan dibawa saat takbiran. Mereka amat senang karena bisa ikutan takbiran setelah lama tidak ada karena pandemi.

            “Mana sih oborku?” tanya Yoga sambil membawa senter untuk mencari obor. Ia agak risau karena belum menemukan obor yang dicari.

            “Coba dicari dulu lagi mungkin lupa meletakkan,” ucap Bu Dian pelan yang ikutan mencari. Namun beberapa menit kemudian, ia dipanggil oleh kakaknya untuk diajak berangkat.

            “Obornya belum ketemu, tunggu dulu Mas,”

            “Lha obornya di sini kok ini sudah aku ambilkan!” teriak Galih.

            “Huuu kok gak ngomong sih, nih lho Adikmu mau nangis mencarinya.”

            Galih tertawa saja ketika ibunya menegurnya. Akhirnya ketiga anak Bu Dian berangkat menuju masjid. Galih dan Yoga telah memegang obor sedangkan Arif tidak membawa apa-apa.

            “Mas, nanti ikutan keliling kan?”

            “ya, Mas Arif nanti ikut dorong replika masjid.”

            Masjid At’Taqwa sudah penuh dengan anak-anak yang siap untuk takbiran. Kurang lebih ada 60 anak-anak. Ada yang membawa obor, membawa corong pengeras suara ada replika masjid. Suasana masjid tampak ramai.

            “Ayo berbaris, sebentar lagi kita berangkat!” ajak Pak Juli sambil mengarahkan agar anak-anak menuju barisan. Barisan pun lumayan panjang. Obor menyala berpendar memancar ke segala arah.

            Gema takbir terus terdengar mengiringi perjalanan anak-anak. Jalan kampung pun ramai. Mereka tersenyum bahagia menyambut lebaran. Barisan pun lumayan panjang. Selain anak-anak, para remaja dan orangtua pun ikut bergabung.

            Allah hu Akbar

            Allah hu Akbar

            Allah hu Akbar

            Walilillah Ilham

            Iring-iringian anak-anak berjalan menuju jalan kampung Kaliputih lalu sampai jalan raya. Yoga dan Galih tampak senang dengan obornya. Tiba-tiba Galih menyalip teman-temannya maju barisan depan. Obor tetap dipegang dengan tangan kanan. Sikap usilnya mulai dilakukan dengan menyenggol temannya. Tak lupa adiknya Yoga. Tentu saja hal ini membuat teman dan adiknya kesal.

            “Galih, apa-apaan sih, barisanmu mana?” tegur Arif kakaknya yang tahu adikknya selalu usil.

            “Weee wee,” balas Galih sambil menjulurkan lidahnya.

            “Hus kamu tuh di belakang, bukan sini!” bentak Dito, teman sekelas Galih.

            Kegaduhan tak terelakan lagi. Walaupun begitu takbir keliling tetap lancar walaupn sedkit berisik. Hal ini langsung disikapi Pak Juli selalu koodinator. Galih ditarik ke belakang tanpa banyak bicara.

            “Sudah kamu di sini saja bareng saya!” ucap Pak Juli tegas. Galih pun cengar cengir menuruti ajakan Pak Juli. Teman-temannya menertawakannya.

            “Syukurin!” seloroh Yoga.

            “Sudahlah tertib semua ayoo terus bertakbir!” seru Pak Yuli sambil berjalan.

            Alhamdulillah, kini anak-anak tertib hingga sampai masjid yang merupakan titik akhir. Seolah tak ada permasalahan tadi. Mereka mematikan obor dan istirahat di depan masjid. Minuman dan snack siap disantap dengan penuh kebahagiaan.

 

           

 

 

 

Jumat, 12 Mei 2023

Kupat Opor Buatan Bunda (27)


Kupat Opor Buatan Bunda (27)

 

Hari masih pagi, teras belakang rumah sudah riuh dengan celoteh tiga cowok yang sedang berlomba membuat kelontong ketupat. Bu Dian sudah mengajari berulang kali tetapi mereka tak juga bisa.

            “Kali ini aku pasti bisa,” ucap Galih percaya diri.

            “Aku pasti bisa juga,” sambung Yoga sambil terus berkutik dengan daun kelapa yang diberi Bapak pedagang tadi. Bu Dian hanya memperhatikan saja dari dapur karena sedang menggoreng kentang. Ternyata sampai kentang matang mereka belum bisa juga. Akhirnya Bu Dian mengajari lagi. Secara perlahan mereka memperhatiakan langkah-langkah membuat kelontong ketupat.

            “Horrre aku bisa, nih Bunda dicek benar tidak?” seru Arif sambil lonjak-lonjak.

            “Keren, tetapi ini dirapatkan agar beras untuk isi tidak tumpah.”

            “Siap,”

            ‘Aku diajari dong Mas!” pinta Galih dan Yoga. Ketiga anak pun saling belajar membuat kelontong ketupat. Mereka pun bangga ketika bisa membuat kelontong walaupun belum rapi. Bu Dian pun merapikan.

            “Sekarang bantuin apa lagi Bund, kami siap lho,” ucap Arif yang telah selesai membuat kelontong. Bu Dian pun senang ketika dibantu ketiga anakknya.

            “Oke, sekarang kelontong ini diisi ya, nih berasnya sudah Bunda cuci bersih,” ucap Bu Dian sambil meletakkan beras yang telah ditiriskan.

            “Ini ya, diisi dengan sendok ini sampai separuh, jangan lebih,” jelas Bu Dian

            “Kalian harus cuci tangan dulu lho!”

            Bertiga memasukkan beras dalam kelontong ketupat. Jika sudah terisi Bu Dian ngecek agar pas lalu diikat lima-lima. Hanya beberapa menit kelontong sudah terisi. Selanjutnya dimasukkan dalam panci besar yang sudah ada air yang mendidih. Secara perlahan anak-anak itu membantu memasukkan dalam panci sampai kelontong yang sudah ada isinya terendam.

            “Nah, kita tunggu sampai seperempat jam, trus matikan, ayo lihat pukul berapa sekarang?”

            “Pukul 10.00,” seru Yoga sambil memandang arloji pada dinding.

            “Oke, nanti pukul 10.15 kompor dimatikan dan panci tidak boleh dibuka selama 30 menit. Setelah itu nyalakan kompor lagi selama 15 menit!”

            Ketiga anak itu memperhatikan memasak ketupat dengan cepat yaitu dengan model 153015 maksudnya lima belas menit awal lalu matikan selama tiga puluh menit dan terakhir nyalakan kompor lagi selama 15 menit.

            “Berarti Cuma 30 menit dimasak ya Bund?”

            “Ya, tetapi usai 15 kedua didiamkan dulu baru matang,” jelas Bu Dian. Setelah sesuai dengan petunjuk ketupat pun matang. Siap ditiriskan biar dingin.

            “Masya Allah cantiknya, pas ini ketupatnya,” ucap Bu Dian sambil membelah ketupat yang sudah dingin.

            “Iya bagus, nanti malam kita bisa makan enak nih,” seru Galih dengan senangnya.

            Bu Dian pun mulai memasak opor dan sambel goreng. Sementara Arif dan kedua adiknya membantu menyembelih ayam di belakang rumah.

            Bumbu-bumbu sudah disiapkan sejak semalam. Jadi hari ini tinggal memasak. Sementara kelapa juga tinggal peras. Bau harum mulai menguar ketika Ibu tiga anak itu menumis bumbu.

            “Hemm enak ya, kapan ya selesai opor ayamnya,” guman Arif.

            “Ya, ayamnya saja beru disembelih,” ucap Arif sambil memegangi kepala ayam sambil memejamkan mata.

            “Gak udah takut, yang utama kita sudah mengucap bismillah saat menyembelih,” ucap Ayah dengan tenang. Bertiga mereka membantu mencabuti dua ekor ayam setelah dicelupkan dalam air panas. Canda tawa sambil membantu ayahnya. Tak lama kemudian dua ekor ayam dimasak.

            “Yuk, salat dhuhur dulu, setelah itu bantu Bunda bersih-bersih,” ajak Ayah Cahyo sambil mengambil air wudhu. Ketiga cowok itu pun mengikuti saran ayahnya. Lalu mereka tidur. Usai mandi dan salat asar, mereka mulai menata berbuka bersama terakhir karena besok sudah lebaran.

            Arif membantu mengambil piring lalu diletakkan di meja. Sedangkan Bunda mereka sudah menata opor ayam di atas meja makan. Azan berbunyi, mereka berbuka bersama dengan menu istimewa yaitu ketupat opor.

            “Hemm ketupat opor ayam buatan Bunda memang enak ya?” puji Pak Cahyo sambil menikmati lezatnya ketupat opor.

            “Betul Yah, tak ada duanya deh,” sambung Galih

            “Mari kita selalu bersyukur atas nikmat hari ini. Alhamdulilah kita sudah melaksanakan puasa dengan lancar!”

            “Hayoo yang batal puasa siapa, besok usai lebaran,” tanya Bunda Dian. Mereka pun saling pandang lalu tertawa bersama karena saling ejek tetapi dalam suasana gembira.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prepegan

  

Hari ini amat cerah, Arif dan Yoga mengikuti bundanya ke pasar karena hari ini hari terakhir pasar buka sebelum lebaran. Mereka ingin mengetahui keadaan pasar saat prepegan, istilah jawa yang artinya keadaan pasar jelang lebaran yang ditandai banyaknya pedagang dadakan dan pembeli yang banyak.

Sampai di pasar suasana benar-benar ramai. Pasar pagi yang biasanya sudah berpindah dalam, kini masih ramai.

            “Hati-hati ya nang, Adiknya digandeng,” ucap Bunda Dian sambil mendekap tas kecil di dada.

            “Bunda juga hati-hati ya,” ucap Arif karena ia ingat tahun lalu tas digunting  pencopet.

            “Ya, ini,”jawab Bu Dian sambil memperlihatkan tasnya.

            Mereka bertiga berjalan dengan hati-hati karena pasar benar-benar ramai. Sampai di depan penjual kelontong ketupat, Arif berhenti dan memanggil Bundanya karena ia mendengar Bundanya akan membeli kelontong ketupat. Bunda Dian mengangguk lalu berhenti di depan penjual kelontong ketupat.

            “Berapa satu ikat Pak?” tanya Bu Dian sambil memegang kelontong ketupat yang sudah diikat per sepuluh.

            “Delapan ribu Buk,” jawab Pak Penjual sambil terus membuat kelontong dengan bersilang antara daun kelapa yang muda dan tua.

            “Beli ikat ya Pak.”

            Pak Penjual menyerahkan dua ikat kepada Arif yang duduk memperhatikan pembuatan kelontong.

            “Adik mau coba buat? silakan ambil kalau mau buat latihan,” ucap Pak Penjual sambil memberi beberapa batang daun kelapa.

            Arif dan Yoga saling pandang karena ragu lalu melihat Bundanya. Bu Dian pun mengiyakan untuk diterima.

            “Ucapkan terima kasih, nanti Bunda bantu membuatnya,” jelas Bu Dian yang memang bisa membuat kelontong.

            Arif dan Yoga senang karena keinginan membuat kelontong sudah lama sekali bisa tercapai. Selanjutnya kedua anak itu mengikuti Bundanya ke mana saja.

            “Mas, gak beli mercon itu?” tanya Yoga sambil menunjuk orang yang menjual aneka mercon.

            “Ah, kok seperti anak kecil saja,” sahut Arif,” bahaya lho kalau meledak,” sambungnya.

            “Kan itu hanya mercon yang tidak membahayakan,” sahut adiknya. Namun, kedua anak itu tidak tertarik lalu terus mengikuti bundanya.

            “Capek dan haus nih,” keluh Yoga sambil duduk di ujung pasar.

            “Hus, jangan ngomong gitu, batal lho,” kilah Arif.

            Karena belanjaan Bundanya sudah banyak akhirnya mereka pulang dengan berjalan ke depan pasar untuk naik angkot.

            “Banyak sekali sih belanjaan Bunda,” ucap Yoga.

            “Ya, Bunda harus belanja banyak untuk persediaan setelah lebaran.” ucap Bu Dian sambl berjalan menuju depan pasar. Ia melewati para penjual bunga tabur yang berjejeran. Bu Dian pun membeli bunga satu bungkus.

            “Ini apa Bund? “

            “Ini bunga telasih, nanti kita bawa ke makan nenek.

            Mereka pun mendapatkan angkot kuning untuk pulang. Arif dan Yoga pun tambah pengalaman ketika pasar sedang prepegan.