Selasa, 17 Januari 2023

Jelang Kelahiran Cucu

                    dokumen pribadi 


            Sebulan sudah cucu lahir. Berbagai cerita ada di benak. Baru kali ini saya bisa menceritakan. Yuk ikuti cerita saat awal sebelum lahir hingga kini sudah sebulan.

            Kelahiran cucu konon melebihi kala mempunyai anak sendiri. Awalnya  saya  tidak percaya. Namun, kini hal itu dialami sendiri. Walaupun ini bukan cucu pertama, saya benar-benar ikut mempersiapkan diri. Selain persiapan mental agar selalu berdoa, saya berulang kali mengingatkan agar segala sesuatunya dipersiapkan dengan baik.

            “Nok, ayoo semua perlengkapan segera dimasukkan tas agar besok sudah terasa ada tanda-tanda melahirkan tinggal berangkat,” ucapku saat itu

            “Nggeh Buk, “ ucap anak menantu, Enik

            Tak lupa saya mengingatkan untuk anak ragil sebagai calon bapak. Baju, handuk, alat mandi agar segera dimasukkan. Tak segan saya mengecek dua tas. Mulai jarit, selendang, perlengkapan bayi mulai popok, girita, bedong, baju kecil. Kemudian untuk anak menantu juga dicek.

            “Bawa daster yang bukaan depan, pakain dalam jangan lupan ya Nok,” ucapku memanggil menantu dengan istilah Nok.

            Itulah caraku memperhatikan anak menantu yang akan melahirkan. Apalagi saat itu  sudah memasuki minggu ke-36. Jadi, nanti sudah perut mulas, ada plek merah, tas sudah siap. Saya pun lebih banyak berdoa agar persalinan lancar. Si Calon Bapak dan suami harus siap jika sewaktu-waktu terasa.

            “Surat-surat untuk syarat BPJS sudah Mas Yoga,” tanyaku agak cerewet. .

            “Sudah beres, foto copy KK, KTP sudah semua.”

            Kami sebagai orangtua tak berani pergi apalagi sampai menginap. Hingga akhirnya usia kehamilan sudah 37 minggu. Keluaga kami sudah siaga. Tak henti-hentinya saya mengingatkan agar tenang, jangan panik. Benar juga. Pagi sekali si ragil menemui kami  yang sedang duduk-duduk sambil minum teh hangat. Si Ragil tinggal di rumah bawah. Jadi hanya melewati kolam sudah sampai di rumah kami.

            “Asalamuallaikum,” sapa si Ragil.

            Kami serempak membalas salam lalu diam karena tampaknya anak agak serius.

            “Tenang-tenang,” ucapnya sambil menenangkan diri

            “Bapak, Ibu, ini tadi Enik sudah plek, perutnya juga sudah mules,” ucapnya agak sedikit gugup. Walaupun dirinya berulang kali mengucap kata tenang.

            Saya pun  tanggap bahwa itu tanda-tanda akan melahirkan. Segera suami mengajak turun untuk melihat kondisi langsung sang menantu. Benar juga, si Enik memegang perutnya terus. Akhirnya kami bersiap-siap.

            “Bapak segera persiapakan mobil, Ibuk nyiapkan barang-barang,” ucapku  pada suami

            Dua tas dijinjing segera saya masukkan mobil. Sambil mengingat-ingat apa saja yang perlu dibawa. Saya pun jadi ingat untuk membawa payung, bantal, tikar, kemudian minuman dalam botol. Tak lupa roti yang tadi untuk menemani teh hangat diambilnya untuk sarapan anak menantu.

            “Ini dimakan dulu, ini ada susu kedelai diminum juga,”  kusodorkan makanan dan minuman. Tak lupa selalu mengingatkan pada kedua anakku untuk bersholawat. Saya berusaha tenang dengan bersholawat dan berdzikir.

            Setelah semuanya siap, kami berangkat menuju rumah sakit KS yang tak jauh dari rumah. Di mobil, kami  berdoa terus. Alhamdulillah anak menantu bisa menahan sakit mungkin belum pembukaan banyak. Dua puluh menit kemudian kami memasuki rumah sakit yang megah. Tampak tempat parkir penuh. Segera kami  menuju ruang IGD. Ruang berkaca yang berada di depan sendiri. Selanjutnya saya  dan suami menunggu di depan ruang. Rasa deg-degan kembali terasa. Tak henti-hentinya berdoa semoga persalinan lancar.

            Beberapa menit kemudian anak ragil dan istrinya keluar dari ruang IGD. Lalu mengatakan jika masih belum pembukaan, dan disuruh pulang dulu. Malah dari pihak RS disarankan melahirkan di bidan saja. Wah… sudah pengen di RS kok disarankan gitu. Anak sudah mengurus segala sesuatunya agar bisa melahirkan di RS itu dengan menggunakan jasa BPJS. Akhirnya kami pulang.

Ambarawa, 18 Januari 2023

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar